Fatwiadi Apulita Ginting
Puskesmas Pendang, Barito Selatan, Kalimantan Tengah, Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Kombinasi Metoklopramid Intravena dan Klorpromazin Oral untuk Tatalaksana Persistent Hiccups di Fasilitas Layanan Primer Fatwiadi Apulita Ginting
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 2 (2018): Urologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i2.172

Abstract

Cegukan (hiccup) atau  singultus  merupakan  fenomena  sehari-hari,  biasanya  ringan,  dan  dapat  sembuh  sendiri,  namun  bila  berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan tingkat morbiditas yang bermakna bahkan kematian. Penanganan ditujukan untuk mengatasi gejala dan penyebabnya. Terapi dapat berupa farmakologis ataupun non-farmakologis. Kasus persistent hiccup  pada laki-laki berusia 22 tahun dapat diatasi dengan kombinasi 10 mg metoklopramid IV dan 50 mg klorpromazin oral di fasilitas layanan primer.
Kombinasi Propranolol dan Digoksin Oral untuk Tatalaksana Paroxysmal Supraventricular Tachycardia (PSVT) di Fasilitas Layanan Primer Fatwiadi Apulita Ginting
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i6.468

Abstract

Takikardia supraventrikuler paroksismal merupakan salah satu kegawatdaruratan jantung pada pasien dengan atau tanpa kelainan kardiovaskular. Penanganan akut PSVT meliputi manuver vagal, kardioversi tersinkronisasi dan terapi farmakologis. Kasus seorang wanita usia 41 tahun dengan takikardia supraventrikuler paroksismal berhasil dikonversi menjadi irama sinus dengan propranolol 40 mg oral dan digoksin 0,25 mg oral di fasilitas layanan primer.Paroxysmal Supraventricular Tachycardia is a common cardiac emergency that can occur with or without prior cardiovascular abnormalities. Acute management of PSVT includes vagal maneuver, synchronized cardioversion and pharmacological treatment. A 41 year-old female with paroxysmal supraventricular tachycardia was converted successfully to sinus rhythm with 40 mg oral propranolol plus 0.25 mg oral digoxin in a primary care setting.
Kombinasi Propranolol dan Digoksin Oral untuk Tatalaksana Paroxysmal Supraventricular Tachycardia (PSVT) di Fasilitas Layanan Primer Fatwiadi Apulita Ginting
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i6.439

Abstract

Takikardia supraventrikuler paroksismal merupakan salah satu kegawatdaruratan jantung pada pasien dengan atau tanpa kelainan kardiovaskuler. Penanganan akut PSVT meliputi manuver vagal, kardioversi tersinkronisasi, dan terapi farmakologis. Kasus seorang wanita usia 41 tahun dengan takikardia supraventrikuler paroksismal berhasil dikonversi menjadi irama sinus dengan propranolol 40 mg oral dan digoksin 0,25 mg oral di fasilitas layanan primer. Paroxysmal supraventricular tachycardia is a common cardiac emergency that can occur with or without prior cardiovascular abnormalities. Acute management of PSVT includes vagal maneuver, synchronized cardioversion, and pharmacological treatment. A 41 year-old female with paroxysmal supraventricular tachycardia was converted successfully to sinus rhythm with 40 mg oral propranolol plus 0.25 mg oral digoxin in a primary care setting.
Kombinasi Metoklopramid Intravena dan Klorpromazin Oral untuk Tatalaksana Persistent Hiccups di Fasilitas Layanan Primer Fatwiadi Apulita Ginting
Cermin Dunia Kedokteran Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i2.828

Abstract

Cegukan (hiccup) atau singultus merupakan fenomena sehari-hari, biasanya ringan, dan dapat sembuh sendiri, namun bila berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan tingkat morbiditas yang bermakna bahkan kematian. Penanganan ditujukan untuk mengatasi gejala dan penyebabnya. Terapi dapat berupa farmakologis ataupun non-farmakologis. Kasus persistent hiccup pada laki-laki berusia 22 tahun dapat diatasi dengan kombinasi 10 mg metoklopramid IV dan 50 mg klorpromazin oral di fasilitas layanan primer.   Hiccups or singultus are common phenomenon in daily life, usually benign and self-limiting, however prolonged attacks are associated with significant morbidity even death. Therapy is directed towards symptoms and the cause. Treatment may be pharmacologic or non-pharmacologic. A 22 year-old male with persistent hiccups was managed succesfully in primary care setting with 10 mg intravenous metoclopramide plus 50 mg oral chlorpromazine.
Kombinasi Propranolol dan Digoksin Oral untuk Tatalaksana Paroxysmal Supraventricular Tachycardia (PSVT) di Fasilitas Layanan Primer Fatwiadi Apulita Ginting
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i6.439

Abstract

Takikardia supraventrikuler paroksismal merupakan salah satu kegawatdaruratan jantung pada pasien dengan atau tanpa kelainan kardiovaskuler. Penanganan akut PSVT meliputi manuver vagal, kardioversi tersinkronisasi, dan terapi farmakologis. Kasus seorang wanita usia 41 tahun dengan takikardia supraventrikuler paroksismal berhasil dikonversi menjadi irama sinus dengan propranolol 40 mg oral dan digoksin 0,25 mg oral di fasilitas layanan primer. Paroxysmal supraventricular tachycardia is a common cardiac emergency that can occur with or without prior cardiovascular abnormalities. Acute management of PSVT includes vagal maneuver, synchronized cardioversion, and pharmacological treatment. A 41 year-old female with paroxysmal supraventricular tachycardia was converted successfully to sinus rhythm with 40 mg oral propranolol plus 0.25 mg oral digoxin in a primary care setting.
Kombinasi Metoklopramid Intravena dan Klorpromazin Oral untuk Tatalaksana Persistent Hiccups di Fasilitas Layanan Primer Fatwiadi Apulita Ginting
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 2 (2018): Urologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i2.828

Abstract

Cegukan (hiccup) atau singultus merupakan fenomena sehari-hari, biasanya ringan, dan dapat sembuh sendiri, namun bila berlangsung terus-menerus dapat menimbulkan tingkat morbiditas yang bermakna bahkan kematian. Penanganan ditujukan untuk mengatasi gejala dan penyebabnya. Terapi dapat berupa farmakologis ataupun non-farmakologis. Kasus persistent hiccup pada laki-laki berusia 22 tahun dapat diatasi dengan kombinasi 10 mg metoklopramid IV dan 50 mg klorpromazin oral di fasilitas layanan primer.   Hiccups or singultus are common phenomenon in daily life, usually benign and self-limiting, however prolonged attacks are associated with significant morbidity even death. Therapy is directed towards symptoms and the cause. Treatment may be pharmacologic or non-pharmacologic. A 22 year-old male with persistent hiccups was managed succesfully in primary care setting with 10 mg intravenous metoclopramide plus 50 mg oral chlorpromazine.