Hartono Hartono
STIK Muhammadiyah Pontianak

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Konsep Diri Pasien Dengan Diabetic Foot Ulcers (Dfu) Di Klinik Kitamura Pontianak (Studi Fenomenologi) Aprilia Silin; Tutur Kardiatun; Hartono Hartono
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 8 No 1 (2017): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan (JKK)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.5 KB) | DOI: 10.54630/jk2.v8i1.55

Abstract

Latar Belakang : Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh kenaikan kadar gula darah (hyperglycemia) kronik yang dapat menyerang banyak organ di semua lapisan masyarakat. DM jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan timbulnya beberapa komplikasi bersama-sama atau terdapat satu masalah yang mendominasi seperti kelainan vaskuler, retinopati, nefropati diabetik, neuropati diabetik dan ulkus kaki diabetik. Berat kecilnya suatu penyakit sangat mempengaruhi konsep diri seperti hal nya seseorang yang mengalami DFU, DFU dianggap merupakan suatu penyakit yang menakutkan, karena mempunyai dampak negatif yang kompleks terhadap kelangsungan kualitas hidup individu. Salah satu diantaranya adalah amputasi, apabila DFU tersebut mengancam jiwa seseorang. Tujuan : Mengetahui konsep diri pada pasien Diabetic Foot Ulcers (DFU) di Klinik Kitamura Pontianak. Metode Penelitian : Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Desain dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif jenis fenomenologi. Hasil Penelitian : Konsep diri dari kelima komponen menunjukan hampir sebagian dari kelima komponen konsep diri memiliki konsep diri yang negatif, tetapi ada salah satu dari kelima komponen konsep diri yaitu peran, masih postif dan ada juga beberapa komponen lagi yang masih menunukan ke hal yang positif salah satu nya ideal diri dan harga diri. Pada ideal diri mereka masih memiliki harapan yang positif dan di harga diri meskipun ada yang negatif tetapi mereka masih memiliki harga diri yang positif pada diri mereka, jadi meskipun dari beberapa komponen ada yang masih negatif tetapi dengan adanya beberapa komponen yang masih positif dengan di dukung beberapa faktor lain lagi yaitu faktor eksternal dan internal jadi konsep diri pada pasien DFU di Klinik Kitamura Pontianak masih positif atau baik. Kesimpulan : Konsep diri pasien DFU di Klinik Kitamura Pontianak positif atau baik.
Efek Electrical Muscle Stimulation (Veionoplus Arterial) Terhadap Penyembuhan Luka Pada Pasien Dengan Ulkus Kaki Diabetik Di Klinik Kitamura Pontianak Hartono Hartono; Ramadhaniyati Ramadhaniyati; Syahid Amrullah
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 8 No 2 (2017): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan (JK2)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.037 KB) | DOI: 10.54630/jk2.v8i2.65

Abstract

Latar belakang: Ulkus kaki diabetik (UKD) adalah salah satu komplikasi terbesar dari DM yang mengalami ulserasi pada eskremitas bawah yang berhubungan dengan abnormalitas neurologis, kelainan vaskuler atau peripheral artery disease (PAD). Penggunaan electrical muscle stimulation (EMS) dapat meningkatan aliran darah dan meningkatkan proses penyembuhan luka. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi efek dari electrical muscle stimulation (EMS) pada otot betis terhadap peningkatan nilai Ankle Brachial Index (ABI) pada pasien Ulkus Kaki Diabetik. Metode Penelitian: Penelitian ini akan menggunakan desain true-experiment dengan randomised controlled trials. Total sampel yang terlibat 60 responden yang akan dibagi dalam kelompok pada EMS terapi dengan menggunakan alat veinoplus arterial selama 30 menit (kelompok Intervensi) dan EMS terapi dengan menggunakan alat veinoplus arterial selama 20 menit (kelompok kontrol). Penelitian ini menggunakan alat pengkajian penyembuhan luka dengan skore MUNGS (maceration, undermining/ tunnelling, necrotic tissue, granulation, signs or symptoms). Bivariat analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan Paired T Test. Hasil: Electrical Stimulation (EMS) pada otot betis dengan menggunakan alat Veinoplus terjadi peningkatan nilai ABI yang signifikan pada pasien dengan ulkus kaki diabetik di Klinik Kitamura Pontianak. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan nilai ABI pada kelompok intervensi dan kontrol sebelum dan setelah tindakan terapi EMS pada pasien UKD. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan selisih nilai rerata pada kelompok kontrol dan intervensi.
EFEK ELECTRICAL MUSCLE STIMULATION ( VEIONOPLUS ARTERIAL ) TERHADAP NILAI ANKEL BRACHIAL INDEX (ABI) PADA PASIEN DENGAN ULKUS KAKI DIABETIK DI KLINIK KITAMURA PONTIANAK hartono Hartono; Ramadhaniyati Ramadhaniyati; syahid amrullah
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 9 No 1 (2018): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan (JKK)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.732 KB) | DOI: 10.54630/jk2.v9i1.83

Abstract

Abstract Diabetic Foot Ulcer is one of the biggest complications of Diabetes Mellitus who experience ulceration of the lower extremities associated with neurological abnormalities, vascular abnormalities or peripheral artery disease (PAD). The use of Electrical Muscle Stimulation (EMS) can increase blood flow and improve the process of wound healing. The purpose of this study was to identify the effect of electrical muscle stimulation (EMS) on calf muscles on increasing the value of the Ankle Brachial Index (ABI) in diabetic foot ulcer patients. This study used a true-experiment design with randomized controlled trials. The total sample involved 60 respondents which were divided into groups on EMS therapy using arterial veinoplus devices for 30 minutes (Intervention Group) and EMS therapy using arterial veinoplus devices for 20 minutes (Control group). Bivariate analysis used is to use Paired T Test. Electrical stimulation (EMS) in the calf muscles using the Veinoplus tool showed a significant increase in ABI values ​​in patients with diabetic foot ulcers at the Kitamura Clinic in Pontianak. Keywords: Ulkus kaki Diabetik, electrical muscle stimulation, ABI . Abstrak Ulkus kaki diabetik (UKD) adalah salah satu komplikasi terbesar dari DM yang mengalami ulserasi pada eskremitas bawah yang berhubungan dengan abnormalitas neurologis, kelainan vaskuler atau peripheral artery disease (PAD) (1). Penggunaan electrical muscle stimulation (EMS) dapat meningkatan aliran darah dan meningkatkan proses penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi efek dari electrical muscle stimulation (EMS) pada otot betis terhadap peningkatan nilai Ankle Brachial Index (ABI) pada pasien Ulkus Kaki Diabetic. Penelitian ini akan menggunakan desain true-experiment dengan randomised controlled trials. Total sampel yang terlibat 60 responden yang akan dibagi dalam kelompok pada EMS terapi dengan menggunakan alat veinoplus arterial selama 30 menit ( Kelompok Intervensi) dan EMS terapi dengan menggunakan alat veinoplus arterial selama 20 menit (Kelompok kontrol). Bivariate analsis yang digunakan adalah dengan menggunakan Paired T Test. Electrical stimulation (EMS) pada otot betis dengan menggunakan alat Veinoplus terjadi peningkatan nilai ABI yang signifikan pada pasien dengan ulkus kaki diabetik di Klinik Kitamura Pontianak. Keywords: Ulkus kaki Diabetik, electrical muscle stimulation, ABI .
PERAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN KEPALA RUANGAN DAN KARAKTERISTIK PERAWAT TERHADAP KEPATUHAN PERAWAT DALAM PENCEGAHAN INJURI Indah Dwi Rahayu; Indri Erwhani; Hartono Hartono; Agustin Ayu W
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 10 No 2 (2019): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan (JKK)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.495 KB) | DOI: 10.54630/jk2.v10i2.107

Abstract

AbstractBackground: Patient safety is a condition of patients free from injuries that should not occur or free of potential injuries (illness, physical / social psychological injury, disability, death) related to health services (MOH, 2008). Washing hands according to the correct procedure is expected to prevent the occurrence of Health-care Associated Infections (HAIs) (WHO, 2009). In fact there are still many nurses who are not compliant in the implementation of hand hygiene marked by the increase of unwanted events in developing countries. For that head of the room as a manager must be able to carry out roles in nursing management. One of the roles of the head of the room is in the decision making of the head of the room (decision roles)Purpose: This study is to determine the effect of individual characteristics and the role of the head of the room in making decisions on compliance with hand hygiene in nurses at RSUD DR. Soedarso PontianakMethod: this research is analytic descriptive with cross sectional approach. using the Chi Square test. With a sample of 146 people Results: the characteristics variable does not have an influence on care adherence in implementing hand hygiene, while the variable role of the head of the room in making decisions has an influence on nurse compliance in the implementation of hands hygiene with a value (p = 0,000 <0.05).Conclusion: The role carried out well by the head of the room can motivate and improve nurse compliance in the implementation of hand hygiene so that the quality and indicators of hospital quality can be improved.Keyword: The Role Of Decision-Making, Characteristics of nurses, compliance with hand hygiene Abstrak Latar belakang: Patient safety merupakan keadaan pasien bebas dari cidera yang tidak seharusnya terjadi atau bebas dari cedera yang potensial akan terjadi (penyakit, cedera fisik/sosial psikologis, cacat, kematian) terkait dengan pelayanan kesehatan (Depkes, 2008). Mencuci tangan sesuai prosedur yang benar sangat diharapkan untuk mencegah terjadinya Health-care Associated Infections (HAIs) (WHO, 2009). Kenyataannya masih banyak perawat yang tidak patuh dalam pelaksanaan hand hygiene ditandai dengan meningkatnya kejadian yang tidak diinginkan di negara berkembang. Untuk itu kepala ruangan sebagai manajer harus mampu melaksanakan peran dalam manajemen keperawatan. Salah satu peran kepala ruangan adalah dalam pengambilan keputusan kepala ruangan (decision roles). Tujuan :penelitian ini untuk mengetahui pengaruh karakteristis individu dan peran kepala ruagan dalam mengambilan keputusan terhadap kepatuhan hand hygiene pada perawat di rumah sakit Umum Dr. Soedarso Pontianak. Metode: penelitian ini deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. menggunakan uji Chi Square. Dengan sample sebanyak, 146 orang. Hasil : pada variable karakateristik tidak memiliki pengaruh terhadap kepatuhan perawatan dalam melaksannakan hand hygiene, sedangkan pada variable peran kepala ruangan dalam mengambil keputusan memiliki pengaruh terhadap kepatuhan perawat dalam pelaksanaan hands hygiene dengan nilai ( p = 0,000 < 0,05). Kesimpulan :Peran yang dijalankan dengan baik oleh kepala ruangan dapat memotivasi dan meningkatkan kepatuhan perawat dalam pelaksanaan hand hygiene sehingga kualitas dan indikator mutu rumah sakit dapat meningkat. Kata kunci : Peran pengambilan keputusan, Karakteristik perawat, kepatuhan hand hygiene
Uji Efektifitas Teknik Relaksasi Genggam Jari dan Nafas Dalam Terhadap Penurunan Intensitas Derajat Disminore pada Remaja Putri di SMA Negeri 10 Pontianak Tutur Kardiatun; Kharisma Pratama; Fathul Khair; Hartono Hartono; Ditha Astuti
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 11 No 2 (2020): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan (JKK)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.419 KB) | DOI: 10.54630/jk2.v11i2.125

Abstract

Disminore adalah salah satu gangguan dalam siklus menstruasi yang sering dialami oleh wanita termasuk remaja. Intensitas derajat disminore yang dialami oleh wanita berbeda-beda mulai dari ringan hingga berat dan mengganggu aktivitas. Penanganan disminore dapat dilakukan dengan cara farmakologi dan non-farmakologi. Salah satu cara non-farmakologi yang dapat digunakan adalah teknik relaksasi genggam jari dan nafas dalam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui manakah yang lebih efektif antara terapi relaksasi genggam jari dan nafas dalam terhadap penurunan intensitas derajat disminore pada remaja putri di SMA Negeri 10 Pontianak. Metode penelitian: Quasi eksperimental design dengan menggunakan rancangan two group pretest-posttest without control group design. Sampel sebanyak 30 orang remaja menggunakan teknik purposive sampling. Uji statistik yang digunakan yaitu uji wilcoxon dan mann whitney. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaaan efektivitas antara teknik relaksasi genggam jari dan nafas dalam terhadap penurunan intensitas derajat disminore dengan p value 0,324 (p value >0,05). Kesimpulan : Teknik relaksasi genggam jari dan nafas dalam efektif terhadap penurunan intensitas derajat disminore sedang menjadi ringan dikarenakan kedua teknik ini merupakan bagian dari teknik relaksasi yang mengutamakan pernafasan dengan menarik nafas secara perlahan-lahan akan memicu pengeluaran hormon endorphin yang memiliki efek analgesik dan menekan pertahanan nyeri serta membuat tubuh menjadi rileks dan melepaskan ketegangan otot-otot terutama uterus yang mengalami spasme karena peningkatan prostaglandin sehingga nyeri yang dirasakan dapat berkurang.