Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

REVITALISASI BADAN WAKAF INDONESIA (BWI) ANALISIS KRITIS UNDANG-UNDANG NOMOR 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF Hidayatullah Hidayatullah; Faris Ali Sidqi
Al-Adl : Jurnal Hukum Vol 11, No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.58 KB) | DOI: 10.31602/al-adl.v11i1.2016

Abstract

AbstractThis study aims to illustrate how the existence and position of Badan Wakaf Indonesia according to Law Number 41 of 2004 concerning Waqf, will then be studied more deeply to find out how to revitalize the status, roles and responsibilities of Badan Wakaf Indonesia in managing waqf in Indonesia in the context of management endowments that are effective and effective. The establishment of Badan Wakaf Indonesia (BWI) is a consequence of the issuance of Law No. 41 of 2004 concerning Waqf so that Badan Wakaf Indonesia has a strong legal position in the structure of national law. However, in the legal construction of the authority, duties and responsibilities of Badan Wakaf Indonesia there are several shortcomings, namely related to the status, independence, structure, duties and funding of this institution, which has a very significant effect on the implementation, management and development of endowments in Indonesia. Therefore, one of the ways to revitalize the status, roles and responsibilities of the Indonesian Waqf Agency in waqf regulation is to improve the institutional status of Badan Wakaf Indonesia to become a Nonstructural Government Institution (LNS) so that it becomes clear in the constitutional system which is directly under the President and can budgeting for their own funds charged to the state budget, the institutional status can be equated with the National Zakat Amil Agency (BAZNAS).Keywords: Revitalization, Badan Wakaf Indonesia, Endowments.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran bagaimana eksistensi dan kedudukan Badan Wakaf Indonesia menurut Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, kemudian akan dikaji lebih dalam untuk menemukan bagaimana merevitalisasi status, peran dan tanggung jawab Badan Wakaf Indonesia dalam pengelolaan wakaf di Indonesia dalam konteks pengelolaan wakaf yang berdaya guna dan berhasil guna. Dibentuknya Badan Wakaf Indonesia (BWI) merupakan konsekuensi dari lahirnya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf sehingga Badan Wakaf Indonesia mempunyai kedudukan hukum yang kuat dalam struktur hukum nasional. Namun dalam konstruksi hukum tentang wewenang, tugas dan tanggungjawab Badan Wakaf Indonesia terdapat beberapa kekurangan, yaitu terkait dengan status, independensi, struktur, tugas dan pembiayaan lembaga ini, yang mana hal  tersebut berpengaruh sangat signifikan terhadap pelaksanaan, pengelolaan dan pengembangan perwakafan di Indonesia. Oleh karena itu, salah satu langkah merevitalisasi status, peran dan tanggung jawab Badan Wakaf Indonesia dalam regulasi wakaf adalah dengan meningkatkan status kelembagaan Badan Wakaf Indonesia menjadi Lembaga Pemerintah Nonstruktural (LNS) sehingga menjadi jelas dalam sistem ketatanegaraan yang mana kedudukannya langsung berada di bawah Presiden dan dapat menganggarkan sendiri pembiayaannya yang dibebankan kepada APBN, status kelembagaan tersebut dapat disamakan dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).Kata kunci: Revitalisasi, Badan Wakaf Indonesia, Wakaf
PENGELOLAAN SUNGAI MENURUT PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN N0 2 TAHUN 2007 Faris Ali Sidqi
Al-Adl : Jurnal Hukum Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Hukum, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.265 KB) | DOI: 10.31602/al-adl.v8i2.459

Abstract

In order to maintain the function of the river is necessary legal instrumentwhich is able to maintain preservation of the river, especially the environmentalaspects that the provisions of these regulations can be accepted by the public inaccordance with the evolving culture. This study aimed to describe the regulationconcerning the management of rivers according to Regional Regulation (Perda)No. Banjarmasin 2 Year 2007 as well as sanctions for violations. The study usedliterature such as books, legislation, print and electronic media, as well as otherdocuments relating to the cases studies. The writing is done in the form ofqualitative descriptive
Efektivitas Reforma Agraria Dalam Mencapai Keadilan Dan Kesejahteraan Masyarakat Sidqi, Faris Ali
AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora (E-ISSN 2745-4584) Vol 4 No 02 (2024): Al-Mikraj, Jurnal Studi Islam dan Humaniora
Publisher : Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almikraj.v4i02.6327

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas reforma agraria dalam mencapai keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Rang lingkup dalam penelitian ini berfokus pada pelaksanaan reforma agraria di Indonesia selama era pemerintahan 10 tahun terakhir. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian normatif dan pendekatan perundang-undangan. Teknik pengumpulan data dolakukan dengan menelusuri data primer dan data sekunder. Hasil dari penelitian ini yakni; Reforma Agraria secara keseluruhan memilik tujuan untuk mencapai dua hal, yakni keadilan dan kesejahteraan. Jika nilai keadilan tidak dapat diraih maka akan berdampak pada kesejahteraan. Sehingga melalui Reforma Agraria, diharapkan pemerintah mampu menciptakan keadilan dalam ruang lingkup agraria. Dengan tercapainya keadilan, maka diharap masyarakat Indonesia mampu merasakan kesejahteraan, kesejahteraan yang merata kepada seluruh kelompok masyarakat; Penilaian terhadap efektivitasi reforma agraria secara singkat dijabarkan dalam 3 poin yakni: a. Lokasi Prioritas Reforma Agraria; b. Penyelesaian Konflik Agraria; dan c. Penguasaan Tanah.
Perlindungan Hak Terhadap Tenaga Kerja Wanita Dalam Perspektif Hukum Sidqi, Faris Ali
Media Hukum Indonesia (MHI) Vol 2, No 4 (2024): December
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.14893452

Abstract

The purpose of this study is to determine the protection of rights for female workers from the perspective of national law and international law. The scope of this study focuses on the realm of labor law and international law. The research methods used are normative research, conceptual approach and legislative approach. Data collection techniques are carried out by tracing primary data and secondary data. The results of this study are: In the realm of national law, there are rights for female workers that are specifically regulated in Law Number 13 of 2003 concerning Manpower, as follows: a. Working Hours for Female Workers; b. Provision of Maternity and Miscarriage Leave; c. Provision of Time for Breastfeeding During Working Hours; d. Provision of Rest Period on the First and Second Days of Menstruation; and e. Prohibition on Termination of Employment (PHK) for Female Workers. The policy related to the rights granted to female workers was previously reaffirmed in Article 84 that the use of rest time rights as regulated in the law does not affect wages. And in the realm of international law. In 1948 the UN approved resolution 217A/III relating to the Universal Declaration of Human Rights or UDHR, considered as the basis for upholding the rights and principles of equality, security, integrity, and dignity of every individual. Then the Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women or CEDAW was ratified. In 2004 the Indonesian Government signed the International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Members of Their Families.
Analysis Juridical to Legality Cryptocurrency as Investment Instruments in Indonesia: Positive Law and Islamic Law Perspectives Sidqi, Faris Ali
Journal of Law Science Vol. 7 No. 3 (2025): July: Law Science
Publisher : Institute Of computer Science (IOCS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35335/jls.v7i3.6522

Abstract

This study presents a normative-comparative legal analysis of the legality of cryptocurrency as an investment instrument in Indonesia from both the perspectives of positive law and Islamic law. While Indonesian regulations, particularly Bappebti Regulation No. 5 of 2019, classify cryptocurrency as a tradable commodity under strict supervision, its use as a legal means of payment remains prohibited. From the Islamic legal perspective, cryptocurrency is viewed with caution due to elements of gharar (uncertainty) and maisir (speculation), although limited permissibility is recognized when Sharia principles are upheld. This study employs a statutory and conceptual approach, utilizing content analysis of legal norms and fatwas. The novelty of this research lies in its comprehensive synthesis of legal and religious frameworks, proposing a harmonized legal model that integrates ethical, spiritual, and regulatory principles. It contributes theoretically to the development of Sharia-compliant legal standards and practically to policy recommendations—such as the establishment of a Sharia screening board within licensed exchanges. By bridging the regulatory gap between secular and religious legal systems, this study provides a foundation for safer and more inclusive crypto investment policies in Indonesia's dual legal context.
Implications of Legal Regulations on the Protection of the Rights of Victims of the Dissemination of False Information (Hoaxes) Through Instagram Media Galih Saputra; M. Yusran bin Darham; Faris Ali Sidqi
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol 3, No 7 (2026): February 2026
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.19049651

Abstract

The results of the study show that the State in order to provide legal protection for the rights of victims of false information (hoax) through Instagram media in order to create order by enacting Law Number 19 of 2016 concerning Amendments to Law Number 11 of 2008 concerning Information and Electronic Transactions. In addition, every victim of crime has the right to be protected as regulated in Law Number 31 of 2014 concerning Amendments to Law Number 13 of 2006 concerning Protection of Witnesses and Victims, however, these two laws do not specifically regulate in providing protection for the rights of victims of false information through Instagram media. Law Number 31 of 2014 that those who are said to be victims are those who experience physical, mental, and/or economic loss caused by a crime. In cases of spreading false information or hoaxes, people who are considered victims must experience the direct consequences of the crime, whether in the form of physical, mental or economic financial losses. As for the protection of the rights of victims due to false information, they can file for legal protection through a civil lawsuit. A party who has suffered material losses as a result of a criminal act can file a civil lawsuit to recover the losses suffered in accordance with civil law. Civil lawsuits can be filed based on either breach of contract or an unlawful act.
Efektivitas Reforma Agraria Dalam Mencapai Keadilan Dan Kesejahteraan Masyarakat Faris Ali Sidqi
AL-MIKRAJ Jurnal Studi Islam dan Humaniora (E-ISSN 2745-4584) Vol. 4 No. 02 (2024): AL-Mikraj Jurnal Studi Islam dan Humaniora
Publisher : Pascasarjana Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/almikraj.v4i02.6327

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas reforma agraria dalam mencapai keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Rang lingkup dalam penelitian ini berfokus pada pelaksanaan reforma agraria di Indonesia selama era pemerintahan 10 tahun terakhir. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian normatif dan pendekatan perundang-undangan. Teknik pengumpulan data dolakukan dengan menelusuri data primer dan data sekunder. Hasil dari penelitian ini yakni; Reforma Agraria secara keseluruhan memilik tujuan untuk mencapai dua hal, yakni keadilan dan kesejahteraan. Jika nilai keadilan tidak dapat diraih maka akan berdampak pada kesejahteraan. Sehingga melalui Reforma Agraria, diharapkan pemerintah mampu menciptakan keadilan dalam ruang lingkup agraria. Dengan tercapainya keadilan, maka diharap masyarakat Indonesia mampu merasakan kesejahteraan, kesejahteraan yang merata kepada seluruh kelompok masyarakat; Penilaian terhadap efektivitasi reforma agraria secara singkat dijabarkan dalam 3 poin yakni: a. Lokasi Prioritas Reforma Agraria; b. Penyelesaian Konflik Agraria; dan c. Penguasaan Tanah.
IMPLEMENTASI ASAS KESEIMBANGAN DAN ASAS ITIKAD BAIK DALAM SUATU PERJANJIAN Faris Ali Sidqi
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 2 No 2 (2024): Juli -Desember 2024
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui implementasi asas keseimbangan dan asas itikad baik dalam suatu perjanjian. Ruang lingkup dalam penelitian ini berfokus pada ranah hukum perdata, khususnya hukum perikatan dan hukum perjanjian. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian normatif, pendekatan konseptual dan pendekatan perundang-undangan. Teknik pengumpulan data dolakukan dengan menelusuri data primer dan data sekunder. Hasil dari penelitian yakni; Implementasi asas keseimbangan dalam perjanjian dapat dilihat dari tiga aspek, antara lain: perbuatan para pihak yang berhubungan dengan para pihak dalam suatu perjanjian; Isi perjanjian dimana keseimbangan tidak akan tercapai jika terdapat klausula yang bersifat kaku dan daya tawar yang lemah; Pelaksanaan perjanjian yang alabila terjadi ketidakseimbangan, maka asas keseimbangan hadir sebagai suatu pertanggungjawaban umum dalam pemberlakuan norma. Sedangkan implementasi asas itikad baik dalam perjanjian dapat dilihat sejak: fase pra pembuatan perjanjian yang dilihat pada saat para pihak melakukan negosiasi dan fase pelaksanaan perjanjian yang berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian para pihak dalam memenuhi prestasinya.