Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

FORMULASI SEDIAAN KRIM EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH KAKAO (Theobroma cacao L.) SEBAGAI ANTIOKSIDAN Nurul Huda; Cantika Sindi; Zipora Amelia Kusmawan; Herlando Sinaga
Jurnal Biogenerasi Vol. 7 No. 1 (2022): Volume 7 Nomor 1 tahun 2022
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/biogenerasi.v7i1.1701

Abstract

Research has been carried out on the formulation of ethanol extract cream for cocoa pods (Theobroma cacao L.). The research was carried out at the Laboratory of the Faculty of Health Sciences, Jayapura University of Science and Technology, ± 3 months, namely March 5 - June 6, 2021. The purpose of the study was to determine the best formula for Ethanol Extract Cream for Cocoa Fruit Peel. The type of this research is descriptive method with laboratory experimental approaches. The population used in this study was the Cocoa Fruit Skin in Arso III Region, Keerom Regency. The number of samples in the study was 3 kg. The basic ingredients are taken from cocoa pods and the active ingredients are taken from maceration for 3×24 hours using70% ethanol as solvent. The formulation was carried out with variations of formulas I, II, and III with concentrations of stearic acid as an emulsifier, namely 6%, 9%, 12%. To get the best formula, an evaluation of the preparation was carried out including cream type testing, organoleptic testing, homogeneity testing, pH testing, dispersion testing, stability testing, and irritation testing. The results showed that the best formula was formula III with a concentration of 12% stearic acid with organoleptic evaluation test results showing a brown color, soft texture, homogeneous preparation, pH 6.3 and spreadability of 5 cm.
FORMULASI SAMPO EKSTRAK DAUN MANGGA (Mangifera indica L.) SEBAGAI ANTIJAMUR Nur Aida; Nurul Huda; Sheren
Jurnal Biogenerasi Vol. 7 No. 2 (2022): Jurnal Biogenerasi Vol 7 Nomor 2 tahun 2022
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/biogenerasi.v7i2.1953

Abstract

Tanaman Mangga (Mangifera indica L.) merupakan tanaman yang berpotensi sebagai tanaman obat karena kandungan fitokimianya. Kandungan terbesar dari daun mangga adalah mangoferin yang salah satu fungsi nya sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formula terbaik sediaan sampo ekstrak daun mangga (Mangifera indica L.) sebagai antijamur. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan eksperimen Laboratorium. Bahan aktif yang digunakan yaitu Daun Mangga ((Mangifera indica L.). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh tanaman mangga yang ada di Dok IX, dan jumlah sampel daun mangga sebanyak 3 kg. Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 70%. Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptis, uji pH, uji homogenitas, dan uji tinggi busa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga formula yang diuji, diperoleh sediaan sampo terbaik pada formula I dimana memiliki warna cokelat, bentuk kental, dan bau khas menthol, pH sampo 7,5 pada uji pH, dan memiliki ketinggian busa yang paling besar pada uji tinggi busa yaitu 10 cm.
Uji Efektivitas Gel Ekstrak Etanol Daun Binahong (Anredera cordifolia) Sebagai Penyembuhan Luka Pada Tikus Wistar Jantan (Rattus norvegicus) Mardiana Siregar; Nurul Huda; Ariyati N Afika; Nur Aida; Siska Syahfitri; Rima Anglia; Irenia Putri Budyana
Jurnal Farmasi & Sains Indonesia Vol 8 No 2 (2025)
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Nusaputera

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52216/jfsi.vol8no2p157-162

Abstract

The ethanol extract of binahong leaves contains alkaloids, flavonoids, steroids, tannins and saponins. The compounds contained in the extract have an important role in healing skin incision. The aim of this study was to develop a gel formula for binahong leaf extract (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) with various HPMC gelling agents at concentrations of 2%, 3% and 4%. This study is an experimental study by comparing the effectiveness of incision wound healing in rats in each test group, namely negative control given gel base, positive control given Bioplacenton gel, and the gel formulation of binahong leaf with best stability properties of the gel preparation. The best formula for binahong leaf extract gel is with a concentration of 2% HPMC with consideration of evaluating the physical properties of the gel and the fastest healing effect on burns.
Formulasi Krim Ekstrak Daun Petai Cina dan Aktivitas Antibakterinya Irenia Putri Budyana; Siska Syahfitri; Nur Aida; Nurul Huda; Rima Anglia; Irmawati Irmawati
SAINTIFIK Vol 12 No 2 (2026): Saintifik: Jurnal Matematika, Sains, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/saintifik.v12i2.674

Abstract

Jerawat merupakan peradangan kronis folikel pilosebasea yang salah satunya berkaitan dengan kolonisasi Propionibacterium acnes. Daun petai cina (Leucaena leucocephala Lam.) mengandung flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, dan steroid yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan menentukan formula terbaik krim ekstrak etanol daun petai cina dan mengevaluasi aktivitasnya terhadap P. acnes. Daun sebanyak 5 kg diolah menjadi simplisia, kemudian 500 g serbuk dimaserasi dengan etanol 70%. Ekstrak 20% diformulasikan dalam tiga krim dengan variasi adeps lanae 1%, 3%, dan 5%. Evaluasi meliputi organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, tipe emulsi, stabilitas dipercepat, dan iritasi. Formula terbaik diuji menggunakan difusi sumuran dengan klindamisin sebagai kontrol positif dan basis krim sebagai kontrol negatif. Rendemen ekstrak sebesar 17,71%. Formula III (adeps lanae 5%) menunjukkan pH 6,14, daya sebar 5,11 cm, daya lekat 7,79 detik, tipe minyak dalam air, stabil, homogen, dan tidak mengiritasi. Diameter zona hambat formula III mencapai 20,06 mm, lebih rendah daripada klindamisin 26,61 mm, sedangkan kontrol negatif tidak menghasilkan hambatan. Formula III menjadi formula terbaik dan berpotensi dikembangkan sebagai sediaan topikal antibakteri.