Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Daur Materi, Materi(al), dan Arsitektur Sebagai Unsur Rancangan Rifandi Septiawan Nugroho; Josef Prijotomo
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7163.182 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v4i1.8700

Abstract

Materi alam menjadi unsur pembentuk material, material menjadi unsur pembentuk arsitektur, dan arsitektur menghasilkan limbah materi. Seperti itu daur yang terjadi semenjak awal keberadaan arsitektur, telah terjadi jalinan atas beragam unsur kerja. Indonesia sebagai negara tropis kepulauan memiliki beragam varian materi alam. Hal tersebut didukung dengan kemampuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolah materi alam yang tersedia. Kemampuan tersebut telah dimiliki sejak ratusan tahun lalu dan diwarisi secara turun temurun hingga hari ini. Saat ini, kemampuan itu lebih sering diartikan sebagai alat untuk bertahan hidup ketimbang ilmu pengetahuan. Hal tersebut menyebabkan kemampuan para pengrajin tidak berkembang dan minat masyarakat untuk mempelajarinya juga berkurang. Dibutuhkan sebuah pendekatan khusus untuk dapat menggabungkan kemampuan pengrajin dengan kesadaran akan pengetahuan agar menghasilkan kualitas arsitektur yang baik. Melalui perancangan objek dilakukan sebuah usaha untuk mendekatkan pengrajin dengan material yang digunakan beserta materi penyusunnya. Seperti yang dilakukan oleh Peter Zumthor, ia memiliki ingatan yang tajam  saat mengenggam gagang pintu di rumah bibinya, menginjak kerikil di bawah kaki, merasakan kelembutan kayu dari anak tangga, dan mendengar bunyi berat daun pintu yang ia dorong. Itu semua gambaran tentang ruangan tradisional biasa yang ia jadikan referensi dalam merancang ruang. Secara mendasar, estetika yang dirasakan manusia datang melalui sebuah kualitas yang mampu menyentuh seluruh panca indera, dan yang lebih utama adalah kinaestetik (pergerakan). Proses merancang dengan meruntut satu per satu daur dari materi, material, dan arsitektur bertujuan menghasilkan sebuah kualitas arsitektur yang menyatukan penghayatan pengguna dengan objek rancangan.
Arsitektur Nusantara bukan Arsitektur Tradisional maupun Arsitektur Vernakular Linda Octavia; Josef Prijotomo
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 7 No. 4 (2018): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.4.249

Abstract

Di dalam pembahasan tentang tentang arsitektur di Indonesia sebelum kedatangan Belanda/Eropa, selain istilah arsitektur nusantara, terdapat juga istilah lain seperti arsitektur tradisional dan arsitektur vernakular. Ada kalangan yang menganggap ketiganya sama saja, bisa dipertukarkan satu sama lain. Padahal ketiganya tidak berangkat dari logika dan awal-mula yang sama, sehingga tidak bisa disamakan secara serampangan. Maka kajian ini akan menelusuri ruang lingkup, latar belakang keberadaan dan ranah pengetahuan dari masing-masing: arsitektur tradisional, arsitektur vernakular dan arsitektur nusantara. Hasilnya kemudian bisa dijejerkan untuk diidentifikasi ciri dan esensi pokoknya. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa ketiga label istilah itu ternyata berbeda ranah dan bidang garapnya. Yang paling esensial adalah bahwa hanya arsitektur nusantara yang memiliki pemahaman akan perancangan arsitektur, sedangkan yang lain tidak memiliki pemahaman itu, karena dua yang lain (arsitektur tradisional dan arsitektur vernakular) diturunkan dari bidang ilmu yang ‘bukan’ arsitektur. Dengan demikian, label arsitektur nusantara-lah yang patut dikedepankan untuk menamai arsitektur tersebut, bahkan pengembangannya di masa kini dan masa depan.