Latar belakang. Wheezing merupakan keluhan respiratori tersering pada anak prasekolah di layanan primer, namun bukti mengenai hubungan manifestasi klinis dengan keputusan tata laksana awal di Indonesia masih terbatas.Tujuan. Menganalisis hubungan manifestasi klinis (frekuensi napas, retraksi dinding dada, derajat wheezing, dan saturasi oksigen) dengan pemberian terapi awal dan keputusan rujukan pada anak prasekolah dengan wheezing di layanan primer Magetan dan Maospati.Metode. Studi potong lintang prospektif multicenter pada 130 anak usia 12–59 bulan dengan wheezing di empat Puskesmas. Analisis bivariat menggunakan uji Fisher-Freeman-Halton exact test, multivariat dengan regresi logistik Firth.Hasil. Retraksi dinding dada ringan (adjusted OR 8,73; IK95% 1,23–62,19; p=0,031) dan derajat wheezing pada auskultasi (adjusted OR 61,07–73,68; p=0,017; p=0,020) berhubungan dengan peningkatan pemberian terapi awal, sementara takipnea justru menurunkan pemberian terapi (adjusted OR 0,07; IK95% 0,01–0,92; p=0,043). Untuk keputusan rujukan, takipnea (adjusted OR 45,45; IK95% 7,83–263,79; p<0,001) dan hipoksia berat (adjusted OR 16,98; IK95% 1,80–160,56; p=0,013) merupakan prediktor terkuat, sedangkan wheezing dengan stetoskop justru menurunkan kemungkinan rujukan (adjusted OR 0,01–0,06; p=0,004; p=0,032).Kesimpulan. Determinan klinis pemberian terapi awal berbeda dengan determinan keputusan rujukan pada anak prasekolah dengan wheezing di layanan primer.