Fadhilah Apriliandri
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN KADAR GLUKOSA DARAH DAN KADAR HbA1c DENGAN STATUS FUNGSI KOGNITIF PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT MARINIR CILANDAK TAHUN 2019 Fadhilah Apriliandri; Mila Citrawati; Etra Ariadno
Medika Respati : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.332 KB) | DOI: 10.35842/mr.v16i1.396

Abstract

Relationship between Blood Glucose Levels and Hba1c Levels with Cognitive Function Status of Type 2 Diabetes Mellitus Patients at the Cilandak Marine Hospital in 2019Background: Hyperglycemic and insulin resistance can lead to chronic complications in type 2 diabetes patients with long treatment such as macro vascular, micro vascular and neuropathic complication. This may cause alteration and disruption in various system, included the center of nerve system, that related to cognitive function. Objective: This research aimed to analyze the correlation between cognitive status with blood glucose levels and HbA1c level in type 2 diabetes mellitus patients at Marinir Cilandak Hospital. Methods: This research was an analytic observational research with the approach of Cross Sectional method. The study sample included populations with the inclusion and exclusion criteria of 40 respondents. Samples in this study was calculated using Consecutive Sampling. Results: The results showed multivariate analysis that the entire of the independent variables with cognitive status obtained p value = <0,001 (p <0,05). Conclusion: There was significant correlation between blood glucose levels and HbA1c levels with cognitive status in type 2 diabetes mellitus patients. 
Manifestasi Klinis dan Keputusan Tata Laksana Awal pada Wheezing Anak Prasekolah di Layanan Primer Fadhilah Apriliandri; Suciati Jandraningrum; Danny Yovita Maharani; Amelina Ratih Listyaningrum
Sari Pediatri Vol 28, No 2 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp28.2.2026.88-97

Abstract

Latar belakang. Wheezing merupakan keluhan respiratori tersering pada anak prasekolah di layanan primer, namun bukti mengenai hubungan manifestasi klinis dengan keputusan tata laksana awal di Indonesia masih terbatas.Tujuan. Menganalisis hubungan manifestasi klinis (frekuensi napas, retraksi dinding dada, derajat wheezing, dan saturasi oksigen) dengan pemberian terapi awal dan keputusan rujukan pada anak prasekolah dengan wheezing di layanan primer Magetan dan Maospati.Metode. Studi potong lintang prospektif multicenter pada 130 anak usia 12–59 bulan dengan wheezing di empat Puskesmas. Analisis bivariat menggunakan uji Fisher-Freeman-Halton exact test, multivariat dengan regresi logistik Firth.Hasil. Retraksi dinding dada ringan (adjusted OR 8,73; IK95% 1,23–62,19; p=0,031) dan derajat wheezing pada auskultasi (adjusted OR 61,07–73,68; p=0,017; p=0,020) berhubungan dengan peningkatan pemberian terapi awal, sementara takipnea justru menurunkan pemberian terapi (adjusted OR 0,07; IK95% 0,01–0,92; p=0,043). Untuk keputusan rujukan, takipnea (adjusted OR 45,45; IK95% 7,83–263,79; p<0,001) dan hipoksia berat (adjusted OR 16,98; IK95% 1,80–160,56; p=0,013) merupakan prediktor terkuat, sedangkan wheezing dengan stetoskop justru menurunkan kemungkinan rujukan (adjusted OR 0,01–0,06; p=0,004; p=0,032).Kesimpulan. Determinan klinis pemberian terapi awal berbeda dengan determinan keputusan rujukan pada anak prasekolah dengan wheezing di layanan primer.