Umi Salamah
STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Musyrif terhadap Kualitas Pendidikan Santri Umi Salamah; Bulan Purwanto
Tadrisuna : Jurnal Pendidikan Islam dan Kajian Keislaman Vol. 3 No. 1 (2020): Maret
Publisher : Prodi PAI STIT Raden Santri Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67114/tadrisuna.v3i1.27

Abstract

Peran musyrif sangat penting bagi kualitas pendidikan santri karena keberadaan mereka sebagai ujung tombak pesantren. Musyrif didefinisikan sebagai ustadz atau guru di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh yang berfungsi untuk mengendalikan dan membimbing perilaku sehari-hari siswa di asrama yaitu, aspek ibadah, sosial, spiritual, dan akademik mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan peran musyrif, termasuk faktor pendukung dan penghambat, dan diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berpengaruh terhadap peningkatan lembaga dan kualitas pendidikan santri. Penelitian kualitatif ini, berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang, sedangkan datanya dikumpulkan dengan observasi, wawancara, dan metode dokumentasi. Analisis data menggunakan data kondensasi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Tujuannya adalah untuk menganalisis data yang diperoleh dari objek lapangan, kemudian dihubungkan dengan teori yang relevan. Berdasarkan penelitian, ditemukan bahwa musyrif berperan sebagai orang tua kedua, guru, pemimpin, pembimbing dan panutan bagi siswa. Faktor pendukung terkait dengan dukungan pengasuh, manajemen sekolah asrama, asrama dan infrastruktur yang memadai, serta prospek lulusan. Sementara itu, kurangnya perhatian wali santri, sumber daya manusia, dana anggaran dan masalah siswa berkontribusi pada faktor penghambat. Dapat disimpulkan bahwa peran musyrif di Pondok Pesantren Bahrul Mahgfiroh sangat menentukan keberhasilan santri, terutama dalam hal kualitas pendidikan.
Education for Sustainable Development Through Local Wisdom: Strengthening Cultural Heritage, Nationalism, and Social Responsibility in the Era of Global Transformation Sa'dun Akbar; Umi Salamah
Proceedings Series of Educational Studies 2026: International Conference of Research Innovation and Technology on Elementary Education (ICRITE
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Education for Sustainable Development (ESD) has emerged as a strategic educational paradigm to address increasingly complex global challenges, including environmental degradation, cultural homogenization, declining social cohesion, and weakening nationalism among younger generations. While ESD has been widely implemented across many countries, its integration with local wisdom and indigenous cultural values remains fragmented, particularly in developing countries. This article aims to develop a conceptual framework explaining how Education for Sustainable Development contributes to preserving cultural heritage while simultaneously strengthening nationalism, social responsibility, and preference for locally produced goods rooted in local wisdom. This study employs a qualitative literature review methodology. Relevant literature was systematically selected from international peer-reviewed journals indexed in Scopus, Web of Science, ERIC, and SpringerLink. The analysis integrates theories of Education for Sustainable Development, Cultural Capital, Social Learning Theory, Ecological Systems Theory, Transformative Learning, Character Education, Place-Based Education, and Cultural Sustainability. Comparative analysis and conceptual synthesis were conducted to identify causal relationships between educational processes, cultural inheritance, character development, and sustainable societal transformation. The study demonstrates that Education for Sustainable Development becomes significantly more transformative when embedded within local wisdom. Such integration strengthens cultural identity, reinforces intergenerational transmission of indigenous knowledge, cultivates nationalism through appreciation of domestic products, promotes responsible citizenship, and enhances social solidarity. The proposed conceptual model emphasizes that sustainable education is not limited to environmental literacy but also functions as a cultural ecosystem fostering resilient communities capable of preserving local identity while engaging constructively with globalization. Future educational policies should therefore prioritize culturally responsive ESD to ensure sustainable development that simultaneously conserves cultural diversity and strengthens national resilience.