Benediktus Boli
Universitas Katolik Widya Mandira

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan material dan bentuk ume kbubu (rumah masyarakat Fatumnasi) Benediktus Boli; Apridus Kefas Lapenangga; Donatus Arakian
JURNAL ARSITEKTUR PENDAPA Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Widya Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37631/pendapa.v4i2.466

Abstract

Bentuk sebuah arsitektur tradisional merupakan ekspresi dari budaya yang berpadu dengan kearifan lokal masyarakat di suatu tempat serta dipengaruhi oleh ketersediaan material alam yang ada disekitarnya. Bagi masyarakat Fatumnasi, umek bubu merupakan rumah tempat berteduh, menyimpan bahan makanan, dan tempat memulai kehidupan (bersalin dan merawat wanita pasca melahirkan). Bangunan ini dibangun dengan material alam sekitar yang memiliki karakter fleksibel, kuat, ringan namun tetap mudah dibentuk menjadi dinamis dan dapat merespon perubahan iklim yang terjadi. Motede yang digunakan adalah deskriptif kualitatif untuk mendiskripsikan secara kualitatif hubungan antara material dan bentuk. Jenis material dan karakteristiknya dijelaskan secara detail sesuai fungsinya dalam membentuk elemen konstuksi pada bangunan tersebut. Objek yang dikaji adalah ume kbubu milik narasumber yangditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui pengamatan langsung, dokumentasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa material yang digunakan untuk konstruksi ume kbubu memiliki keterkaitan dengan bentuknya yang kerucut. Karakter  material yang  fleksibel, kuat, ringan dan  mudah dibentuk  menghasilkan bentukume kbubu yang dinamis danrespon terhadap kondisi iklim yang ada
BERPIKIR DESAIN DENGAN PENDEKATAN SEMIOTIKA Studi Kasus: Desain Kantor Dprd Kabupaten Flores Timur Robertus Mas Rayawulan; Reginaldo Christophori Lake; Benediktus Boli; Alexianus Thomas Miten Uak
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v7i1.2450

Abstract

Abstract: Design thinking with a semiotic approach is a design strategy that seeks to bridge the communication gap between architects and the process of interpreting messages by readers or observers, so that architectural works can be interpreted properly. The Regional People's Representative Council (DPRD) is the highest symbol of autonomous government power in the Regency area. Based on the functional ideology attached to the DPRD building, the architectural form of the DPRD office building is a symbolic language that represents local values and cultural identity. The aim of this research is to find out the concept of symbolic signs that are internalized by local people and how semiotic transformation strategies can be carried out to produce expressions in the form of DPRD office buildings that represent local identities. The method used is to conduct a literature study that is relevant to the formal object of architectural semiotics, then elaborated with the theory of the principles of architectural arrangement of government buildings as the material object of this research. Based on the research objectives, a collection of ideas, ideas, attributes and symbols of local culture, were analyzed and mapped within the semiotic-Barthes concept framework and transformed into a simulation model for the design of the East Flores Regency DPRD office building. building.Abstrak: Berpikir desain dengan pendekatan semiotika merupakan suatu strategi perancangan yang berupaya menjembatani jarak komunikasi antara arsitek dengan proses penafsiran pesan oleh pembaca atau pengamat, sehingga karya arsitektur dapat dimaknai dengan baik. Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan simbol kekuasaan pemerintahan otonom tertinggi di wilayah Kabupaten. Berlandaskan ideologi fungsi yang melekat pada bangunan DPRD, maka perwujudan arsitektur bangunan kantor DPRD ialah bahasa simbol yang merepresientasikan tata nilai dan identitas budaya setempat. Tujuan penelitian ialah menemukan konsep tanda-simbolis apa yang dihidupi masyarakat setempat dan bagaimana strategi transformasi semiotika yang dapat dilakukan untuk menghasilkan ungkapan bentuk bangunan kantor DPRD yang mewakili identitas setempat. Metode yang digunakan ialah melakukan studi pustaka yang relevan dengan objek formal semiotika arsitektur, kemudian dielaborasikan dengan teori prinsip penataan arsitektur bangunan pemerintahan sebagai objek material penelitian ini. Berlandaskan pada tujuan penelitian, maka pengumpulan gagasan, ide, atribut dan simbol budaya lokal, dianalisis dan dipetakan dalam kerangka konsep semiotika-Barthes dan ditransformasikan dalam model simulasi desain bangunan gedung kantor DPRD Kabupaten Flores Timur.