Retno Walfiyah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MANIFESTASI LAMBI TEI, TENUN IKAT ASAL ROTE NDAO Retno Walfiyah; Ira Adriati
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 1 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i1.32859

Abstract

The manifestation of Lambi tei, ikat weaving from Rote Ndao is one of the many cultural products of the people on the island of Rote Ndao, namely a special ikat called Lambi Tei made using young gewang leaf fibers or called hakenak. In the past, when cotton had not been planted in Rote, at the behest of the Dutch through the cultur stelsel, the people of Rote made clothing from the fibers of young gewang leaves. The motifs emerged when cotton was present and then people made yarn. When the nobility made patterned cloth, the commoners only weaved plain cloth and then dyed it black. Rote Island is located at the southern tip of Indonesia and Lambi Tei ikat weaving has a dominant role in almost every activity of the Rote Ndao community, especially its function during traditional wedding rituals, funeral ceremonies, and is one of the benchmarks for women's maturity. Initially, the fibers used were young gewang leaves without motifs which later developed into a unique motif and became the pride of every clan (family). Each clan will have a distinctive motif, and usually the to'o (uncle) of the mother's family becomes the leader for the delivery of cloth. The characteristic color of Rote ikat weaving is black and white. The natural color used is thread soaked in mud in the lake where the animals wallow for months then soaked in pama'a, which is the skin of the nitas fruit, which is burned and then the ashes are soaked. Using qualitative methods, collecting data by interviewing related sources and studying Pustaka. Rote Ndao ikat weaving is very closely related to people's lives. Family motifs are considered valuable because they are hereditary. The Rote Ndao ikat motif is a manifestation of their life.Keywords: lambi tei, tenun ikat, gewang. AbstrakManifestasi Lambi tei, tenun ikat asal Rote Ndao adalah satu dari banyak produk budaya masyarakat di pulau Rote Ndao adalah tenun ikat khas bernama Lambi Tei dibuat menggunakan serat daun gewang muda atau disebut dengan hakenak. Di masa lalu saat kapas belum ditanam di Rote atas perintah belanda melalui cultur stelsel penduduk Rote membuat busana dari serat daun gewang muda. Motif-motif muncul ketika kapas hadir dan kemudian orang membuat benang. Ketika kaum bangsawan membuat kain yang bermotif, rakyat jelata hanya menenun kain polosan dan kemudian diwarnai hitam. Pulau Rote terletak di ujung selatan Indonesia dan tenun ikat Lambi Tei memiliki peran yang dominan pada hamper setiap aktivitas masyarakat Rote Ndao, terutama fungsinya ketika acara ritual adat pernikahan, upacara kematian, dan menjadi salah satu tolok ukur kedewasaan perempuan. Awal mula yang digunakan adalah serat daun gewang muda tanpa motif kemudian berkembang menjadi  motif yang unik dan menjadi  kebanggaan setiap marga (family). Setiap marga akan memiliki motif khas, dan biasanya to’o (paman) dari keluarga ibu menjadi pimpinan untuk penyerahan kain. Ciri khas warna tenun ikat Rote adalah warna hitam dan putih. Warna alami yang digunakan adalah benang yang direndam dalam lumpur di danau tempat berkubangnya hewan-hewan selama berbulan-bulan kemudian direndam dalam pama’a yaitu kulit buah nitas dibakar kemudian abu tersebut direndam. Menggunakan kualitatif, melakukan pengumpulan data dengan cara wawancara sumber terkait dan studi Pustaka.Tenun ikat Rote Ndao sangat lekat dengan kehidupan masyarakatnya. Motif keluarga dianggap sebagai sesuatu yang berharga karena bersifat turun temurun. Motif tenun ikat Rote Ndao merupakan manifestasi kehidupan mereka.Kata Kunci: lambi tei, tenun ikat, gewang. Authors:Retno Walfiyah: Institut Teknologi BandungIra Adriati: Institut Teknologi Bandung References:Amalo, Gentry, “Kain Raja-Raja Termanu”. Hasil Wawancara Pribadi: 2 Mei 2021, Bandung.Arikunto, Suharsimi. (2009). Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.Haning, Paula. (2016). Fungsi Kain Tenun Ikat NTT, Asal-usul Bunga Sarung dan Selimut Orang Rote Ndao. http://paulahaning.blogspot.com/2016/02/fungsi-kain-tenun-ikat-ntt.html. (diakses tanggal 22 Mei 2021).James, J. Fox. (1960). Master Poets, Ritual Master The Art of Oral Composition Among the Rotenese of Eastern Indonesia. Australia: Australia Nation University.Lenggu, Margareth. (2020). Perempuan di Balik Tinta. Jakarta: Loka Media.Wilson, Markus Andreas T. (2014). Relasi Negara dan Masyarakat Rote. Salatiga: Satya Wacana University Press.Melalatoa, Junus. (1995). M. Ensiklopedia Suku Bangsa D Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI.Blanc, W. S., & Sukardja, P. (2016). Tenun Ikat Masyarakat Kampung Ndao di Kecamatan Lobalain Kabupaten Rote Ndao Provinsi Nusa Tenggara Timur. Humanis, 270-278.
MANAJEMEN KELAYAKAN UNTUK AUDIENS ANAK-ANAK PADA PAMERAN KIDS BIENNALE INDONESIA 2025 Walfiyah, Retno; Setiadi, Gabriel Aries; Dewa, Sagara Mata
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain Vol 29, No 1 (2026): Januari-April 2026
Publisher : Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v29i1.18245

Abstract

Seni memiliki peran penting dalam perkembangan kreativitas dan ekspresi diri anak-anak. Kids Biennale Indonesia hadir sebagai platform yang memfasilitasi ruang ekspresi bagi generasi muda untuk menampilkan karya seni mereka, sekaligus memperkenalkan dunia seni rupa sejak dini. Dalam penyelenggaraannya, aspek tata pajang karya menjadi salah satu elemen kunci yang menentukan keberhasilan pameran. Penataan yang baik tidak hanya memperkuat pesan kuratorial, tetapi juga menciptakan pengalaman visual yang menarik dan edukatif bagi pengunjung, khususnya anak-anak. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana tata pajang karya pada Kids Biennale Indonesia 2025 dapat mengakomodasi perspektif anak-anak sehingga lebih inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif agar peneliti dapat menggali fenomena secara mendalam, terutama menyangkut pengalaman visual, kenyamanan, dan interaksi anak sebagai audiens terhadap karya seni yang dipajang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian eye level yang digunakan pada Kids Biennale Indonesia 2025 adalah 135 cm, disesuaikan dengan rata-rata tinggi badan anak usia sekolah dasar di Indonesia. Pustek untuk karya tiga dimensi menggunakan ketinggian rata-rata 70 cm, sementara karya gantung dipasang dengan sudut kemiringan 10-15 derajat ke depan guna mengakomodasi sudut pandang anak.Kata kunci: manajemen pameran; tata pajang; layak anak---Display Management for Child Audiences at the Kids Biennale Indonesia 2025 Exhibition. Art plays a significant role in the development of creativity and self-expression in children. Kids Biennale Indonesia serves as a platform that facilitates a space for young generations to showcase their artworks, while simultaneously introducing them to the world of visual arts from an early age. In its implementation, the display arrangement of artworks constitutes one of the key elements that determines the success of an exhibition. A well-considered arrangement not only reinforces the curatorial message, but also creates a visually engaging and educational experience for visitors, particularly children. This study aims to examine how the display arrangement at Kids Biennale Indonesia 2025 can accommodate children’s perspectives and foster greater inclusivity. A descriptive qualitative approach was employed to enable an in-depth exploration of the phenomenon, particularly with regard to children’s visual experience, comfort, and interaction as audiences engaging with the exhibited artworks. The findings indicate that the eye-level height applied at Kids Biennale Indonesia 2025 is 135 cm, adjusted to the average height of primary school-aged children in Indonesia. Pedestals for three-dimensional works are set at an average height of 70 cm, while hanging works are mounted at a forward tilt of 10-15 degrees to accommodate children’s viewing angles.Keywords: exhibition management; display arrangement; child-friendly