Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

ANALISIS ESTETIS LUKISAN KACA CIREBON TEMA SEMAR DAN MACAN ALI Wulandari, Yustina Intan Intan; Adriati, Ira; Damajanti, Irma
Visual Art Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Visual Art

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.168 KB)

Abstract

Abstrak Cirebon adalah kota yang terletak pada perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta berbatasan dengan Laut Jawa. Posisinya sebagai kota pelabuhan membuat berbagai budaya masuk ke dalam Cirebon. Lukisan kaca Cirebon adalah salah satu seni tradisional yang berkembang di Cirebon dari masuknya berbagai kebudayaan seperti Cina, Islam, dan Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk melihat lebih lanjut perkembangan lukisan kaca Cirebon yang lebih difokuskan pada lukisan kaca Cirebon dengan obyek Semar dan Macan Ali. Sampel yang digunakan adalah lukisan kaca Semar dan Macan Ali. Pelukis yang menjadi sampel adalah salah satu pelukis yang menjadi pelopor kemajuan lukisan kaca yaitu Rastika, serta pelukis lain yang masih aktif menghasilkan lukisan hingga sekarang. Berbagai lukisan Semar dan Macan Ali akan dibandingkan untuk memperlihatkan variasi obyek dan latar belakang yang dibuat oleh pelukis kaca, seperti bentuk kaligrafi, bentuk dasar obyek, dan pengolahan latar belakang. Hasil perbandingan tersebut akan memperlihatkan sejauh mana pengrajin melakukan perubahan-perubahan dalam visual lukisan kaca yang mereka buat yang dibandingkan dengan karya-karya klasik yang sudah ada. Hasil analisis kualitatif pada penelitian menunjukkan pengrajin lukisan kaca melakukan perubahan visual berdasarkan kesadaran akan komposisi obyek lukisan kaca, pada kasus lain susunan visual dipertahankan sama dengan karya-karya klasik dengan penambahan maupun pengurangan obyek pendukung lainnya seperti mega mendung, wadasan, stilasi tumbuhan, dan bagian latar belakang lukisan. Obyek utama tidak mengalami banyak perubahan, Semar tetap mengikuti bentuk dasar wayang Cirebon, dan lukisan kaca Macan Ali masih mengikuti bentuk Macan Ali yang sudah ada pada karya-karya klasik. Kata Kunci : analisis estetis, Cirebon, lukisan kaca, Macan Ali , Semar  Abstract Cirebon is a city which located in the province of West Java, near the border of Central Java, and Java Sea. Its position as port city had attracts merchants and made Cirebon to be influenced with many cultures. Cirebon glass painting is a traditional craft which showed how several cultures such as Chinese, Islam, Hindu combined as one. This research was conducted to find the development in Cirebon glass painting compare to the classic works. Cirebon glass painting with primary object Semar and Macan Ali was chosen. One of glass painting pioneer, Rastika, also some artisan who still actively producing glass paintings. The glass paintings were compared to show how the object variation, background development, and caligraphy. Changes, especially in visual, will be compared with the classic works such as works those could be found in Cirebon palace, Keraton. The research showed some glass painting artisans made some changes in visual based of the composition. The primary objects, Semar or Macan Ali, dont have  lots of changes, the difference between paintings only in minor features. For example is the placing of minor objects mega mendung and wadasan, plant ornament, and the background. Semar visualization in glass painting is similar with Semar visualization in Cirebon traditional puppet. The visualization in Macan Ali glass painting have similarity with the classic works such as tlawungan and wall hangings made of animal skin.
ANALISIS LUKISAN LEE MAN FONG PERIODE 1950-1965 KOLEKSI ISTANA NEGARA Rahayu, Poppy; Adriati, Ira
Visual Art Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Visual Art

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.168 KB)

Abstract

Lukisan Cina merupakan suatu entitas kesenirupaan yang mempunyai kaidah serta dalilnya tersendiri yang membuat karya-karya lukisnya menjadi unik dan menjadi ciri khas. Pada karya tulis ini, khususnya, membahas lukisan-lukisan Cina karya Lee Man Fong yang pada latar belakangnya merupakan seniman diaspora Cina yang tinggal dan bekerja di Indonesia dan sempat menjadi ajudan kepercayaan Presiden Soekarno untuk hal-hal penyeleksian karya seni di kalangan Istana Negara. Pada rumusan masalahnya mencoba untuk menjelaskan aspek-aspek estetis ditinjau dari pemahaman seni lukis Cina Tradisional yang berangkat dari kaidah-kaidah seni lukis Cina Kuno. Metode penelitian yang dilakukan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data purposive sampling. Lukisan yang dipilih merupakan beberapa karya Lee Man Fong yang dihasilkan pada masa produktifnya selama dua dekade, yaitu dari tahun 1950 sampai 1970-an sebanyak enam buah, di antaranya: “Dua Ikan Mas Hitam”, “Warung di Bali”, “Taman Pei Hai”, “Wanita Bali Menenun”, “Wanita Bali Membawa Bakul”, dan “Wanita Jepang dengan Kipas”. Adapun metode analisis yang diaplikasikan berupa pendekatan Kritik Seni Rupa Feldman dan Teori Seni Lukis Cina dengan menggunakan Enam Prinsip Lukisan Cina untuk meninjau aspek-aspek estetis dari sampel-sampel tersebut. Pada evaluasinya juga digunakan pendekatan transformasi budaya untuk melihat pemetaan historis dari tiap-tiap karyanya pada medan seni rupa Indonesia pada saat karya tersebut dihasilkan dan didistribusikan. Dalam bagian akhir laporan penelitian ini, terdapat kesimpulan bahwa enam lukisan terpilih yang menjadi sampel menunjukkan tema dan visualisasi khas Cina dengan tema simbolisme hewan, juga tema khas Indonesia dengan visualisasi keseharian masyarakat Bali pada beberapa lukisannya. Adapun teknik yang diaplikasikan menggunakan teknik seni lukis Cina tradisional.
Analisis Motif Kain Tradisional Indonesia: Pemaknaan Visualisasi Abstrak hingga Naturalis Winarno, Ira Adriati
Jurnal Budaya Nusantara Vol 1 No 1 (2017): NUSANTARA & KONTEMPORER
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/b.nusantara.vol1.no1.a993

Abstract

Indonesia is a country with various cultures. One of cultural product that interesting to be analysis is textile.Indonesian traditional textiles are made by weaving and batik techniques. Traditional textiles have a deepphilosophical meaning related to the human existence in the universe. Traditional textiles have various motifs. It isinteresting to analyze the meaning of the motifs of Indonesian traditional textile. The approaches of this research aretraditional Indonesian aesthetics and cultural approach. Traditional textile motifs can be categorized into geometrics,figurative, and naturalist motifs. The motifs are influenced by textile making techniques. For instance, weavingtechnique has limitation in motif type. Weaving technique produces geometrics motif. The other technique is batik thathas freedom to produce various motifs for textile. The original Indonesian textile motifs generally are abstract motives.Figurative and naturalist motifs emerge after the entrance of other culture influence. Based on visualization analysis,abstract motif has deep meaning related to people life philosophy. Some of figurative motifs have philosophical meaning,but naturalist motifs generally do not have philosophical meaning in Indonesian people.
NILAI ESTETIS BATIK GARUT PEGUNUNGAN DAN PESISIR Adriati, Ira
Jurnal Budaya Nusantara Vol 3 No 1 (2019): NUSANTARA & MEDIA
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/b.nusantara.vol3.no1.a2117

Abstract

Batik is a result of a tradition of ownership owned by various regions in Indonesia. One ofthe areas in West Java is known as Batik Priangan, including the region of Garut. Each regionin Priangan has a batik that is batik with unique motifs and coloring in each region. In this paper,it describes the aesthetic value of batik Garut in the mountainous areas with the coastal areas.This research uses historical approach, the value of tradition-oriented, and in cultural acculturation.Based on the analysis, it can be known that the waters can be different from the visualizationof batik motifs in the mountainous regions, which tend to be classic motifs, typical of the latenight and the coast of the region. The other difference appears from the ability of the craftsmen,the craftsmen in the mountainous regions show more detailed and smooth skills, while on thecoast there is no detail.
ANALISIS STRATEGI AKTUALISASI DIRI SASYA TRANGGONO PEREMPUAN PERUPA INDONESIA DALAM MASA PANDEMIK COVID-19 Adriati, Ira
Jurnal Budaya Nusantara Vol 4 No 2 (2021): NUSANTARA & RUANG VIRTUAL
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/b.nusantara.vol4.no2.a4023

Abstract

Sasya Tranggono is an Indonesian female artist who works with the subjects of puppets, flowers and butterflies. Her work is well known in the Indonesian art social scenes; she has actualized herself. In this research condition analyzes the self-actualization process during the Covid-19 pandemic. This research is a qualitative research. Using Abraham Maslow's theory of self-actualization which has been converted to fine arts, Hans Van Maneen's theory for the exhibition process, and Hennessy's theory relating to publication on social media. Based on the analysis, it can be seen that Sasya Tranggono tries to maintain her self-actualization even through social media such as Instagram and the web. She has collaborated with several galleries to exhibit her work online and offline. All of her publication strategies kept her at the pinnacle of self-actualization.
Kajian Aspek Ketidaksadaran dalam Karya Seni Rupa Indonesia Periode 2000-2011 Irma Damajanti; Setiawan Sabana; Ira Adriati
Journal of Urban Society's Arts Vol 1, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v1i1.785

Abstract

Pada era seni rupa kontemporer, pembacaan karya tidak lagi hanya terbatas padahasil analisis dan interpretasi unsur-unsur formal, namun juga mempertimbangkanketerkaitannya dengan psikobiografi seniman sehingga dapat memberikan gambaranyang lebih lengkap tentang karakter seni rupa yang multifaset. Penelitian inidirancang untuk mengidentifikasi representasi aspek ketidaksadaran dalam karya senirupa Indonesia dan menginterpretasikan simbol-simbolnya. Seniman yang karyanyadipilih sebagai studi kasus dalam penelitian ini adalah I Gusti Ayu Kadek Murniasih,Entang Wiharso, dan Ugo Untoro. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatanmultidisiplin (psikologi seni dan semiotika. Berdasarkan hasil analisis, aspekketidaksadaran yang direpresentasikan melalui simbol-simbol visual yang khas dalamkarya ketiga seniman cenderung lahir dari pengalaman traumatik yang melahirkanketakutan, kesakitan, dan agresi. Melukis bagi ketiganya adalah proses katarsis,media untuk mensublimasikan/memperhalus dorongan-dorongan naluri ketakutan,kesakitan, dan agresi ke dalam bentuk karya yang dapat diterima dan diapresiasidengan baik oleh masyarakat. A Study on Unconsciousness Aspect in the 2000-2011 Works of Indonesia VisualArt. In the era of contemporary visual art, the works of art cannot be read merelylimited to the analysis and interpretation of the formal elements but have to include theconsideration about the artist’s psychobiography so that there will be a more completepicture about the multifaceted visual arts. This research is carried out to identify therepresentation of the unconsciousness aspect in the works of visual arts and then interpretthe symbols. The selected samples are the works of I Gusti Ayu Kadek Murniasih,Entang Wiharso, and Ugo Untoro. The multidisciplinary (art psychology and semiotics)approach is applied within the qualitative method used. Based on the analysis result,the unconsciousness aspect represented in unique visual symbols in the works of thethree artists is originated in their traumatic experiences which generate fear, pain, andaggression. For them, painting is their catharsis process, the media to sublime/smoothentheir impulse of fear, pain, and aggression so that the society can accept and appreciatetheir works.
Visualisasi Tema Maternal Dalam Karya Perempuan Perupa Kontemporer Indonesia Ira Adriati Winarno
RITME Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perempuan perupa Indonesia telah berkiprah sejak era Kartini bersaudara, tetapi konsistensi perempuan perupa seringkali diragukan oleh para kurator, kolektor, maupun pengamat seni rupa di Indonesia. Hal tersebut terjadi karena perempuan perupa seringkali tidak produktif lagi ketika mereka berhadapan dengan biological clock, yaitu ketika mereka dituntut untuk mengandung, melahirkan, dan menyusui anak. Selanjutnya secara stereotype beban perawatan anak dalam masyarakat lebih banyak menjadi tanggung jawab seorang perempuan. Menarik untuk mengkaji perempuan perupa kontemporer Indonesia yang dapat konsisten berkarya meskipun mereka berhadapan dengan tugas maternal. Penelitian ini akan mengkaji karya-karya perempuan perupa kontemporer Indonesia yang mengangkat tema maternal dalam karyanya. Sampel penelitian tidak terbatas pada perempuan perupa yang telah menikah dan memiliki anak, karena pada dasarnya pemikiran maternal tersebut ada dalam setiap perempuan. Pendekatan keilmuan dalam penelitian ini menggunakan teori feminist art, kritik seni, dan psikologi. Berdasarkan hasil analisis, tema maternal dipilih oleh mereka yang telah memiliki anak. Visualisasi karya mereka mencerminkan hubungan ibu dan anak sebagai ungkapan kasih sayang, rasa khawatir, maupun tugas maternal menjadi bagian dari beban hidup mereka.
DIFERENSIASI WANDA-WANDA ARJUNA GAGRAK SURAKARTA DALAM PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN SECARA MATEMATIS Ratna Cahaya Wirawan; Yasraf Amir Piliang; Ira Adriati; I Irfansyah
Jurnal Sosioteknologi Vol. 19 No. 1 (2020)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2020.19.1.1

Abstract

Arjuna dalam wayang kulit memiliki bentuk ekspresi (disebut dengan wanda) yang penciptaannya didasarkan pada bentuk dan posisi tubuh dan diidentifikasi dengan menggunakan rasa. Penelitian ini melangkah lebih jauh dari sekedar rasa untuk mencari diferensiasi secara terukur pada wanda-wanda Arjuna dan membaca pola dari diferensiasi tersebut. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan mengukur dan menghitung secara matematis elemen-elemen Arjuna wayang kulit. Arjuna wayang kulit dalam penelitian ini dilihat sebagai suatu struktur di mana setiap elemen-elemennya terkait satu sama lain sehingga dapat diketahui diferensiasinya. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat pola diferensiasi yang bersifat kontinum dari tiga yang menjadi obyek penelitian, di mana wanda Kinanthi mengantarai diferensiasi wanda Kedhu yang menjadi patokan (titik awal) dan wanda Muntap yang menjadi titik akhir. Pola yang muncul ini dapat digunakan untuk memperkirakan arah penciptaan wanda berikutnya.
Visualisasi Tenun Baduy Nina Maftukha; Yustiono Yustiono; Ira Adriati
Journal of Visual Art and Design Vol. 9 No. 2 (2017): Journal of Visual Art and Design
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.vad.2017.9.2.1

Abstract

Abstrak. Kegiatan menenun sudah melekat di setiap jiwa perempuan di Suku Baduy mulai dari umur tiga tahun. Rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana visualisasi tenun yang diproduksi Masyarakat Baduy? 2) Bagaimana pewarisan dalam hal membuat kain tenun ditransmisikan pada masyarakat Baduy? Penelitian ini menggunakan metodologi etnografi dengan pendekatan kualitatif. Data didapat dengan teknik observasi partisipan, tersamar, wawancara mendalam, Studi dokumentasi, dan Studi pustaka. Penelitian ini fokus pada visualisasi tenun Suku Baduy, meliputi filosofi menenun, proses pembuatan motif, teknik menenun, pola pewarisan tenun, dan faktor pendukung lestarinya tenun Suku Baduy. Filosofi dan tata cara membuat motif tenun Suku Baduy merupakan amanat dari para leluhur. Motifnya diambil dari pencerminan alam dan pikukuh Suku Baduy, dan ada juga yang merupakan kreasi sendiri. Teknik menenun berupa teknik buatan tangan yang menggunakan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) atau dikenal dengan sebutan pakara tinun (peralatan tenun). Pola pewarisan dilakukan dengan cara patuh terhadap pandangan hidup atau pikukuh Suku Baduy, setiap ibu mengajarkan kepada anaknya, serta anak sendiri belajar dengan teman sebayanya di sosompang atau teras rumah. Tenun Baduy hingga sekarang masih bisa bertahan disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya penduduk Suku Baduy sangat taat kepada amanat para leluhurnya, untuk memenuhi kebutuhan sandang, faktor keyakinan dan filosofi Baduy, faktor geografi, keterbatasan interaksi, identitas, faktor ekonomi, dan kemitraan.Kata kunci: Baduy; perempuan; sejarah; tenun; visualisasi.Visualizing Baduy WeavingAbstract. Weaving is engraved in the soul of every Baduy woman, who start learning this skill from the age of three. The problem formulation of this study is twofold: 1) How can Baduy weaving be visualized? 2) How are the inherited weaving skills transferred by the Baduy people? The data used in this study were collected through blind participant observation, in-depth interviews, a documentation study and a literature review. This study focused on visualizing Baduy weaving, including the philosophy of weaving, the process of pattern making, weaving techniques, inherited weaving patterns, and factors supporting the preservation of Baduy weaving. The philosophy and procedure of Baduy weaving are inherited from ancestors. The patterns originate from reflection on nature and the Baduy way of life (pikukuh), and also own creations are produced. The Baduy people practice handweaving using a handloom (no machine tools), known in their language as pakara tinun. The transfer of inherited patterns happens through the adherence to the Baduy way of life. Every mother teaches her children, who then develop their skill by themselves together with their peers on a porch (sosompang). Baduy weaving until now has survived due to several factors, including the Baduy people being very obedient to the mandates of their ancestors with regards to clothing, their beliefs and philosophy, their geographical location which limits interaction with the outside world, Baduy identity, economic factors, and partnerships.Keywords: Baduy; history; visualization; weaving; women.
Perupaan dan Sinkronisasi Artefak Percandian Batujaya di Karawang, Jawa Barat dengan Borobudur di Jawa Tengah dan Mon-Dwarawati di Thailand Nuning Damayanti; Ira Adriati; Savitri Putri Ramadina
Journal of Visual Art and Design Vol. 6 No. 2 (2014): ITB Journal of Visual Art and Design
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/itbj.vad.2014.6.2.2

Abstract

Percandian Batujaya adalah sebuah kompleks sisa-sisa percandian Budha kuno yang terletak di Kecamatan Batujaya dan Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Adanya dua fase pembangunan pada Batujaya membuka kemungkinan terhadap interpretasi akan adanya gaya-gaya perupaan yang berbeda pada percandian Batujaya. Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa mazhab Budha yang diterapkan pada kompleks percandian Batujaya adalah mazhab Mahayana, dicirikan dengan keberadaan votive tablet dengan perupaan yang menggambarkan sosok-sosok bodhisattva dan Budha. Perbandingan gaya visual dengan artefak-artefak yang berasal dari periode Mon-Dwarawati di wilayah Thailand dan artefak Borobudur di Jawa Tengah menunjukkan bahwa artefak Batujaya cenderung memiliki gaya naturalis yang lebih serupa dengan Dwarawati terutama pada profil wajah dibandingkan gaya stilasi Borobudur yang lebih dekat secara geografis. Terdapat ciri khas pada arca Batujaya yaitu cenderung memiliki bentuk mata yang didistorsi menjadi lebih besar dan terkesan membelalak, serta hidung yang lebar. Kemungkinan hal ini didasari bentuk fisik masyarakat lokal atau pemikiran ideal lokal mengenai fisik yang sempurna.Kata kunci: arca; Batujaya; Budha Mahayana; gaya perupaan; votive tablet.Batujaya enshrinement complex is a remnant of ancient Buddhist monument, located in Kecamatan Batujaya and Kecamatan Pakisjaya, Karawang, West Java. The two development phases of Batujaya would open the possibility of different interpretations of visual style in Batujaya. Based on these results, it could be concluded that the Buddhist sect worshipped in Batujaya was Mahayana sect, characterized by votive tablets depicting bodhisattva and Budha. Comparison of visual style with the artifacts dating from Mon-Dvaravati period in Thailand region and Borobudur in Central Java indicated that Batujaya artifacts tend to have more naturalistic style similar to Dwarawati primarily onfacial profile compared to Borobudur style that was closer geographically. There are characteristics found in Batujaya statues, namely the tendency of eyes being distorted and gave the impression of bulging, and wide noses. There is some possibility that it was based on the physical feature of local people or the local beliefs of an ideal physique.Keywords: Batujaya; Mahayana Buddhism; statue; visual style; votive tablet.