Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Pijat Laktasi Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Menyusui Di Kelurahan Sendang Sari Kabupaten Asahan Tahun 2019 Nani Jahriani
Excellent Midwifery Journal Vol 2, No 2 (2019): EDISI OKTOBER
Publisher : STIKes Mitra Husada Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.568 KB) | DOI: 10.55541/emj.v2i2.89

Abstract

Mother's Milk (ASI) is a natural nutrient for babies with the most suitable nutritional content for optimal growth. Decreased milk production in breastfeeding mothers is one of the reasons for not materializing exclusive breastfeeding for the first 0-6 months of the baby's life and continued breastfeeding for children until ≥ 2 years, so the mother will give MP-ASI in the form of formula milk. Formula milk does not have complete contents like breast milk, and does not contain antibodies like those contained in breast milk. This causes babies who do not get exclusive breastfeeding will easily get sick. Some mothers experience difficulties and failure to breastfeed because the milk has not come out yet, a little breast milk or blasted nipples makes the mother afraid to breastfeed. So that mothers need special breast care to facilitate the lactation process. Lactation massage is one of the painless breast care methods that can stimulate the strength of the breast muscles to increase milk production and make the breasts softer and more elastic so that it makes it easy for babies to suck breast milk.  Lactation massage will also provide a sense of relief and overall comfort for the mother, improve the quality of breast milk, prevent blisters and mastitis and can improve / reduce lactation problems caused by flat nipples, inverted nipples. In Sendang Sari sub-district, Asahan Regency, the problem of decreased milk production and less is one of the problems in the process of breastfeeding mothers. This was obtained from the results of interviews with mothers who complained their babies were still fussy even though they were breastfeeding, so mothers gave additional formula milk to meet the needs of their babies.
PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG BULLYING PADA REMAJA DI SMAS TAMAN SISWA SUKADAMAI TAHUN 2022 Juliana sst70; Nani Jahriani; Mahyunidar -
Jurnal Pengabdian Masyarakat Aufa (JPMA) Vol 4 No 3 (2022): Vol. 4 No. 3 Desember 2022
Publisher : Universitas Aufa Royhan Di Kota Padangsidipuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/jpma.v4i3.930

Abstract

ABSTRAK Salah satu bentuk kekerasan fisik dan emosional yang paling umum pada anak - anak dan remaja adalah perundungan atau bullying. Indonesia adalah salah satu negara yang diduga masih mengalami angka kejadian bullying cukup tinggi, seperti perilaku intimidasi dikalangan remaja. Secara fisik, pelaku bullying tidak hanya didominasi oleh anak yang berbadan besar dan kuat, anak bertubuh kecil maupun sedang yang memiliki dominasi yang besar, secara psikologis di kalangan teman-temannya juga dapat menjadi pelaku bullying. Alasan yang paling jelas mengapa seseorang menjadi pelaku bullying adalah bahwa pelaku bullying merasakan kepuasan apabila ia “berkuasa” di kalangan teman sebayanya. Berdasarkan data diperoleh dari siswa SMAS Taman siswa Sukadamai terdapat adanya bullying antar siswa namun tidak berdampak negatif kepada individunya. Dengan adanya kegiatan penyuluhan bullying siswa mulai memahami dampak negatif dari perilaku bullying. kepada siswa yang terlibat dalam situasi bullying di sekolah, agar tidak membiarkan temannya menjadi korban, sehingga diharapkan agar siswa lebih peka melihat situasi ini dan mengambil peran dalam menghentikan episode bullying di lingkungannya. Kepada pihak sekolah agar menerapkan pendidikan karakter yang berisi penanaman nilai-nilai moral sebagai salah satu wujud dari penanganan bullying.
HUBUNGAN PEMERIKSAAN FISIK RUTIN BAYI BARU LAHIR DENGAN DETEKSI DINI KELAINAN KONGENITAL DI KLINIK BIDAN RISMALA KOTA KISARAN TAHUN 2025 Lili Yuliana Tambunan; Juliana; Nani Jahriani
Maternity and Neonatal : Jurnal Kebidanan Vol. 13 No. 2A (2025): Maternity and Neonatal : Jurnal Kebidanan (Special Issue)
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30606/jmn.v13i2A.4053

Abstract

Latar Belakang : Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), sekitar 3–6% bayi di dunia lahir dengan kelainan kongenital, dan kondisi ini menyumbang sekitar 276.000 kematian bayi baru lahir setiap tahun. Di Indonesia, angka kejadian kelainan kongenital masih cukup tinggi dan menjadi salah satu penyebab utama masalah kesehatan serta kematian pada bayi baru lahir. Pemeriksaan fisik rutin terhadap bayi yang baru lahir adalah langkah penting dalam mendeteksi dini adanya kelainan yang mungkin terjadi sejak lahir. Pemeriksaan ini mencakup evaluasi secara menyeluruh dari kepala sampai kaki, termasuk pemeriksaan kulit, kepala, mata, telinga, mulut, dada, perut, bagian kemaluan, anggota badan, hingga refleks saraf. Melalui pemeriksaan fisik yang komprehensif dan dilakukan secara rutin oleh tenaga kesehatan, berbagai kelainan seperti kelainan jantung bawaan, bibir sumbing, kaki pengkor, atau gangguan metabolik dapat terdeteksi sejak dini. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui hubungan antara pemeriksaan fisik rutin bayi baru lahir dengan deteksi dini kelainan kongenital di Klinik Bidan Rismala Kota Kisaran Tahun 2025. Metode : Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional (potong lintang), yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengamati variabel bebas (pemeriksaan fisik rutin bayi baru lahir) dan variabel terikat (deteksi dini kelainan kongenital) pada waktu yang bersamaan. Hasil Penelitian : Berdasarkan uji statistik Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,038 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pemeriksaan fisik rutin bayi baru lahir dengan deteksi dini kelainan kongenital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan pemeriksaan fisik secara lengkap dan rutin memiliki peluang lebih besar untuk terdeteksi lebih awal jika terdapat kelainan kongenital. Hal ini menegaskan pentingnya pemeriksaan fisik menyeluruh sebagai langkah pertama dalam upaya pencegahan komplikasi jangka panjang serta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan neonatal.