Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Application of Dried Mixed Culture (Lactobacillus plantarum, Lactobacillus fermentum and Sacchromyces cereviceae) in maize and sorghum fermentation Putri, Widya D.R.; Widyaningsih, Tri Dewanti; Ningtyas, Dian Widya
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 10, No 1 (2009)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.852 KB)

Abstract

Whole cereal-based products, i.e maize and sorghum have a beneficial effect on health, but they also contain high level of phytate and tannin that defined as anti-nutrition which could affect protein digestibility.  The quality of protein can be improved by fermentation, as natural fermentation or with pure culture.  Dried culture containing lactic acid bacteria (Lactobacillus plantarum, Lactobacillus fermentum) and khamir (Saccharomyces cereviceae), is potential for cereal fermentation to decrease anti-nutrition compounds and to increase protein digestibility of cereal based product. The main objective of this research was to know the effect of applying dried mixed culture of L. plantarum, L. fermentum, and S. cereviceae on maize and sorghum flour fermentation, and to determine the effect of maize and sorghum flour fermentation on protein digestibility, antinutrition components, and other chemical and physical characteristics. The result showed that the mixed dried culture increased protein digestibility of fermented maize and sorghum flour, from 48.23% and 38.44% to 89.31% and 91.00%, respectively. Phytic acid content of maize flour decreased 43.14%, and tannin content of sorghum flour decreased 74.84%. Weaning food was made from fermented maize and sorghum flour had energy of 160 kcal for consumption of 40 g/day (for a 6 – 12 month child), and 312.5 kcal for consumption of 76 g/day (for a 13 – 24 month child).Keywords: dried mixed culture, maize fermentation, sorghum fermentation, antinutrition, protein digestibility
KARAKTERISTIK BISKUIT BERBASIS TEPUNG UBI JALAR ORANYE (IPOMOEA BATATAS L.), TEPUNG JAGUNG (ZEA MAYS) FERMENTASI, DAN KONSENTRASI KUNING TELUR Widyastuti, Endrika; Claudia, Ricca; Estiasih, Teti; Ningtyas, Dian Widya
Jurnal Teknologi Pertanian Vol 16, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.01 KB)

Abstract

Biskuit merupakan salah satu produk olahan pangan yang memiliki tekstur renyah dimana kebanyakan dibuat dari bahan baku tepung terigu. Salah satu potensi bahan lokal yang dapat digunakan sebagai pengganti tepung terigu adalah ubi jalar oranye dan jagung. Kedua tanaman ini mengandung karbohidrat yang tinggi serta gizi yang cukup baik sebagai bahan baku pembuatan biskuit. Kelemahan jagung sebagai bahan pembuatan biskuit yaitu adanya anti nutrisi berupa asam fitat sehingga perlu dilakukan proses pendahuluan yaitu fermentasi. Bahan tambahan yang digunakan dalam membantu memperbaiki tekstur biskuit adalah kuning telur. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui proporsi pembuatan biskuit mengunakan tepung ubi jalar oranye, jagung fermentasi dan kuning telur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor. Faktor I adalah proporsi tepung ubi jalar : tepung jagung (50:50%, 70:30%, 90:10%) dan faktor II konsentrasi kuning telur (3, 6, dan 9%). Penentuan perlakuan terbaik menggunakan metode De Garmo. Penambahan konsentrasi kuning telur menunjukkan peningkatan pada kadar air, lemak dan protein. Sedangkan, pada rerata kadar pati dan serat kasar akan menurun seiring dengan meningkatnya konsentrasi kuning telur. Perlakuan terbaik secara fisik kimia diperoleh pada perlakuan proporsi ubi jalar oranye dengan tepung jagung fermentasi 70 : 30 dan konsentrasi kuning telur 9%. Sedangkan biskuit perlakuan terbaik dari segi organoleptik diperoleh pada perlakuan proporsi ubi jalar oranye dengan tepung jagung fermentasi 50 : 50 dan konsentrasi kuning telur 3%. Faktor proporsi tepung ubi jalar oranye dan tepung jagung fermentasi serta konsentrasi kuning telur berpengaruh nyata (? = 5%) terhadap kadar protein, air, serat kasar, lemak, daya patah, pati, kecerahan serta kekuningan biskuit.
PENGARUH KONSENTRASI PASTA SINGKONG (Manihot esculenta) DAN LAMA FERMENTASI PADA PROSES PEMBUATAN MINUMAN WINE SINGKONG [IN PRESS JANUARI 2015] Eko Sutrisno Hawusiwa; Agustin Krisna Wardani; Dian Widya Ningtyas
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 1 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wine merupakan minuman yang berasal dari daerah Mesopotamia yang kemudian menyebar ke berbagai negara di dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Wine dibuat melalui fermentasi gula yang ada di dalam buah anggur yang kemudian akan dirubah menjadi alkohol. Salah satu bahan yang memiliki atau dapat menghasilkan gula adalah singkong. Sebelum dibuat wine singkong terlebih dahulu dijadikan pasta untuk memudahkan proses hidrolisis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi substrat, dalam hal ini pasta singkong dan lama fermentasi yang paling efektif sehingga dihasilkan minuman wine dengan kadar alkohol tinggi yang sesuai standar. Kajian pada penelitian ini adalah konsentrasi pasta singkong (15%, 25%, dan 35% b/v) dan lama fermentasi (1, 2 dan 3 minggu). Perlakuan terbaik dipilih berdasarkan yield alkohol tertinggi yaitu sebesar 83.11% yang dihasilkan dengan konsentrasi pasta 15% (b/v) dan lama fermentasi 3 minggu. Perlakuan terbaik ini menghasilkan kadar alkohol 11.47% dan nilai total khamir 3.10 x 104 koloni/ml. Kata kunci: Alkohol, Fermentasi, Khamir, Pasta, Singkong, Wine
PENAMBAHAN DEKSTRIN DAN GUM ARAB PETIS INSTAN KEPALA UDANG TERHADAP SIFAT FISIK, KIMIA DAN ORGANOLEPTIK [IN PRESS JULI 2015] Citra Firdhausi; Joni Kusnadi; Dian Widya Ningtyas
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 3 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Petis merupakan hasil komoditi pengolahan ikan atau udang yang cukup dikenal terutama di masyarakat Jawa. Mengingat limbah dari industri pembekuan udang dalam hal ini kepala udang masih memiliki kandungan nutrisi tinggi dan harga jual yang relatif rendah, maka untuk meningkatkan nilai ekonomi, nilai gizi, dan nilai guna kepala udang diperlukan diversifikasi pangan dalam upaya pemanfaatan kepala udang yang lebih luas salah satunya mengolah  menjadi petis instan. Pada pembuatan petis diperlukan bahan pengisi untuk meningkatkan total padatan, melapisi komponen flavor dan mempercepat proses pengeringan. Pada penelitian ini menggunakan bahan pengisi dekstrin dan gum arab. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi bahan pengisi terhadap sifat fisik, kimia, dan organoleptik petis instan kepala udang. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Tersarang (Nested Design) yang terdiri dari 2 faktor dengan 3 ulangan. Analisis data menggunakan ragam ANOVA dan uji lanjut BNT. Hasil uji organoleptik dianalisis menggunakan uji mutu Hedonik. Pemilihan perlakuan terbaik dengan metode De Garmo. Hasil penelitian didapatkan perlakuan terbaik berdasarkan sifat fisik kimia pada dekstrin 15% dan gum arab 15% serta berdasarkan sifat organoleptik pada dekstrin 5% dan gum arab 5% yang memiliki karakteristik petis semi pasta, berwarna cokelat kehitaman, dan beraroma khas petis.   Kata kunci: Petis instan, Dekstrin, Gum arab
PENGEMBANGAN BISKUIT DARI TEPUNG UBI JALAR ORANYE (Ipomoea batatas L.) DAN TEPUNG JAGUNG (Zea mays) FERMENTASI : KAJIAN PUSTAKA [IN PRESS SEPTEMBER 2015] Ricca Claudia; Teti Estiasih; Dian Widya Ningtyas; Endrika Widyastuti
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No. 4 (2015)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ubi jalar dan jagung merupakan tanaman lokal yang banyak ditanam oleh petani di Indonesia. Hasil panen yang melimpah tidak disertai dengan pengolahan yang optimal dan hanya diolah menjadi makanan dengan proses pengolahan yang sederhana seperti pengukusan dan penggorengan. Ubi jalar dan jagung sangat berpotensi untuk ditepungkan sebagai bahan baku pembuatan biskuit. Tepung ubi jalar oranye dan tepung jagung sangat sesuai dijadikan bahan baku dalam pembuatan biskuit karena tidak diperlukan adanya gluten. Namun dalam proses pengolahannya masih terdapat beberapa kendala yaitu tekstur biskuit yang keras dan adanya senyawa anti nutrisi seperti fitat pada jagung. Tekstur biskuit yang keras disebabkan karena ukuran granula pati tepung jagung yang besar. Oleh sebab itu jagung diberi perlakuan fermentasi untuk mendegradasi fitat dan juga diperlukan penambahan kuning telur dalam pembuatan biskuit untuk memperbaiki karakteristik biskuit.   Kata kunci: biskuit, fermentasi, jagung, kuning telur, ubi jalar
UJI TOKSISITAS AKUT TEPUNG GLUKOMANAN (A. muelleri Blume) TERHADAP NILAI KALIUM TIKUS WISTAR [IN PRESS JANUARI 2014] Eka Dessy Natalia; Simon Bambang Widjanarko; Dian Widya Ningtyas
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 2 No. 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Porang (A.muelleri Blume) merupakan tumbuhan dari golongan araceae yang mengandung serat larut glukomanan cukup tinggi (15–64%) basis kering. Masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan tepung porang adalah adanya kalsium oksalat yang menyebabkan rasa gatal dan iritasi saat dikonsumsi serta memicu terbentuknya batu ginjal. Pengujian toksisitas akut diperlukan untuk mengetahui potensi toksik akut dari tepung porang murni (tepung glukomanan). Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor. 30 ekor tikus wistar terdiri atas tikus jantan dan betina dibagi dalam 5 kelompok perlakuan, yaitu kelompok kontrol, pemberian tepung glukomanan dosis 40; 400; 4000; 5000 mg/kg BB tikus selama 72 jam. Parameter yang diamati adalah nilai Lethal Dose 50 (LD50) dan kalium. Hasil penelitian selama 72 jam menunjukkan pemberian tepung glukomanan tidak menunjukkkan potensi toksik akut pada seluruh kelompok, namun berpengaruh nyata terhadap nilai kalium.   Kata kunci: A. muelleri Blume, Glukomanan, Kalsium Oksalat, Toksisitas Akut
PENGARUH PENAMBAHAN KONSENTRASI SUSU SKIM DAN SUKROSA TERHADAP KARAKTERISIK MINUMAN PROBIOTIK SARI BERAS MERAH [IN PRESS JULI 2014] Rinelda Ayu Sintasari; Joni Kusnadi; Dian Widya Ningtyas
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 2 No. 3 (2014)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Beras merah merupakan salah satu komoditi pangan yang dipilih karena adanya kandungan antioksidan yang bermanfaat sebagai penangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan mendapatkan proporsi penambahan susu skim dan sukrosa dengan konsentrasi yang tepat pada pembuatan minuman probiotik sari beras merah. Metode penelitian yang digunakan adalah RAK dengan dua faktor. Konsentrasi penambahan susu skim (5%,7%,9%) dan sukrosa (5%, 7%). Analisis data dilakukan dengan metode ANOVA dilanjutkan dengan BNT dan DMRT 5%. Analisis organoleptik diuji dengan skala kesukaan Hedonik. Perlakuan terbaik dipilih menggunakan metode De Garmo. Minuman probiotik sari beras merah dengan konsentrasi susu skim 9% dan sukrosa 7% merupakan perlakuan terbaik dengan nilai pH 4.13, total asam  1.16%, total gula 12.595%, total padatan terlarut 18.80 oBrix, viskositas 47.33 d.Pa s, total BAL 5.54x109 (cfu/ml). Perlakuan terbaik secara organoleptik yaitu konsentrasi susu skim 5% dan sukrosa 7% memiliki kesukaan rasa 5.80 (menyukai), aroma 4.50 (netral), warna 5.40 (menyukai), dan tekstur 5.25  (menyukai). Kata Kunci : Beras merah, Lactobacillus plantarum FNCC 027, Probiotik, Sukrosa, Susu skim
PROPORSI TEPUNG PORANG (Amorphophallus muelleri Blume) : TEPUNG MAIZENA TERHADAP KARAKTERISTIK SOSIS AYAM [IN PRESS JULI 2014] Dyah Ayu Anggraeni; Simon Bambang Widjanarko; Dian Widya Ningtyas
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 2 No. 3 (2014)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tepung porang dari umbi porang (Amorphophallus muelleri Blume) memiliki kandungan serat pangan larut yang struktur dan fungsinya mirip dengan pektin yang disebut juga glukomanan. Kandungan glukomanan yang terdapat dalam umbi porang sangat besar yaitu sebanyak  67%. Glukomanan mempunyai kemampuan sebagai gelling agents yang mampu menggantikan fungsi STPP yang terdapat pada sosis pada umumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi tepung porang yang terbaik sebagai bahan pengikat dan tepung maizena sebagai bahan pengisi dalam membuat sosis ayam, untuk menghasilkan sosis ayam dengan karakteristik yang baik. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor yaitu proporsi tepung porang dan tepung maizena (2% : 23%, 3% : 22%, 4% : 21%, 5% : 20%, 6% : 19% dan 7% : 18%) dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbaik tepung porang 3% dan tepung maizena 22% memiliki karakteristik rendemen 91.90%, kadar air 70.25%, kadar pati 8.49%, WHC 68.44%, kadar lemak 5.68%, kadar oksalat 1.38%, kadar glukomanan 43.74% dan kekenyalan 8.80 N.   Kata kunci: Glukomanan, Maizena, Sosis Ayam, Tepung Porang
PEMBUATAN LEMPENG BUAH LINDUR (Bruguiera gymnorrhiza) DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG UBI KAYU (Manihot esculenta crantz) [IN PRESS OKTOBER 2014] Elfira Rosyadi; Simon Bambang Widjanarko; Dian Widya Ningtyas
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 2 No. 4 (2014)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Buah lindur (Bruguiera gymnorrhiza) memiliki nilai kalori yang tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pangan masyarakat pesisir untuk mencegah kerawanan pangan ketika terjadinya musim panceklik. Tujuan penelitian ini mengetahui proporsi tepung buah lindur dibanding tepung ubi kayu terhadap karakteristik lempeng buah lindur, serta mengetahui Angka Kecukupan Gizi (AKG) per takaran saji lempeng buah lindur perlakuan terbaik. Lempeng adalah makanan ringan sejenis cookies, dimana proses pembuatannya tanpa penambahan tepung terigu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) 1 faktorial yaitu perbandingan tepung buah lindur dibanding tepung ubi kayu (40:40, 45:35, 50:30, 55:25, 60:20, 65:15) sehingga diperoleh 6 perlakuan dengan 4 ulangan. Lempeng perlakuan terbaik diperoleh pada perlakuan tepung buah lindur 65% dan tepung ubi kayu 15% dengan nilai kadar air 2.45%, kadar lemak 38.31%, serat kasar 8.70%, dan daya patah 15.29 N. AKG lemak, protein, dan karbohidrat pertakaran saji adalah 17.68%, 4.62%, dan 4.94%.   Kata Kunci: Lempeng, Buah Lindur, Ubi Kayu
PENGARUH PENGECILAN UKURAN JAHE DAN RASIO AIR TERHADAP SIFAT FISIK KIMIA DAN ORGANOLEPTIK PADA PEMBUATAN SARI JAHE (Zingiber officinale) [IN PRESS OKTOBER 2014] Lisna Mayani; Sudarminto Setyo Yuwono; Dian Widya Ningtyas
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 2 No. 4 (2014)
Publisher : Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Alternatif lain mengoptimalkan pemanfaatan jahe adalah diolah menjadi sari jahe. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh pengecilan ukuran jahe dan rasio air terhadap sifat fisik, kimia dan organoleptik sari jahe. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok 2 faktor, yaitu : (1) rasio jahe dan air  (1:10 dan1:15); (2) pengecilan ukuran jahe (diiris 3-5 mm, diparut dan digeprek). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Data dianalisis menggunakan ANOVA dilanjutkan uji lanjut BNT selang kepercayaan 95%. Perlakuan terbaik adalah rasio jahe : air (1:10) dengan digeprek. Perlakuan tersebut memiliki total fenol 387.93 ppm; antioksidan 62.19%; TPT 11.63%; TPTT 4.77%; waktu pengendapan 10.74 menit; pH  6.87 dan nilai L 34.23. Karakteristik organoleptik memiliki tingkat kesukaan rasa 3.10 (agak suka); warna 3.35 (agak suka); aroma 3.10 (suka) dan kenampakan 1.95 (tidak suka). Kata kunci: Sari Jahe, Pengecilan Ukuran, Rasio Jahe dan Air