Ilham Hidayat Azis
Departement Of Ilmu Hukum, Universitas Andi Djemma, 19911, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Politik Hukum Terhadap Kedudukan Dan Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi Pasca Berlakunya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 Ilham Hidayat Azis; Anshori Ilyas; Zulkifli Aspan
Jurnal Sosio Sains Vol 8 No 2 (2022): Jurnal Sosio Sains
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL DIKTI) IX Sulawesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37541/sosiosains.v8i2.793

Abstract

The research objectives to analyze the Authority of the Corruption Eradication Commission after the enactment of Law No. 19 of 2019. This research was conducted using doctrinal legal research methods or normative legal research. The results of the study show that: 1) The authority of the Corruption Eradication Commission (KPK) after the promulgation of Law no. 19 of 2019 concerning the Second Amendment to Law No. 30 of 2002 concerning the Corruption Eradication Commission, with the stipulation of a Supervisory Board within the KPK Institution which has considerable authority, namely supervisory authority and also added authority to carry out the KPK's authority. The position of the Corruption Eradication Commission (KPK) after the enactment of Law no. 19 of 2019 concerning the Second Amendment to Law No. 30 of 2002 concerning the Commission for the Eradication of Criminal Acts of Corruption, he emphasized in Article 3 that the KPK Institution is a State Institution within the executive clump, and also the addition of a Supervisory Board within the KPK Institution whose members are appointed directly by the President and can also be dismissed during their term of office by the President The Republic of Indonesia, with considerable authority, namely in terms of wiretapping, searches and/or confiscations carried out by the KPK must first obtain permission from the Supervisory Board. Tujaun penelitian menganalisis Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi pasca pemberlakuan UU No 19 Tahun 2019. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian hukum doktrinal atau penelitian hukum normative (normative legal research). Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah diundangkannya UU No. 19 Tahun 2019 Tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dengan diaturnya Dewan Pengawas Dalam Lembaga KPK yang memiliki kewenangan yang cukup besar yaitu kewenangan pengawasan dan juga ditambahkannya kewenangan dalam melaksanakan kewenangan KPK. Kedudukan Komisi pemberantasan Tindak pidana Korupsi (KPK) pasca berlakunya UU No. 19 Tahun 2019 Tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan tindak Pidana Korupsi, dengan ditegaskannya dalam Pasal 3 bahwa Lembaga KPK adalah Lembaga Negara yang ada dalam rumpun eksekutif, dan juga ditambahkannya Dewan Pengawas Dalam Lembaga KPK yang anggotanya diangkat langsung oleh Presiden dan juga dapat diberhentikan dalam masa jabtannya oleh Presiden Republik Indonesia, dengan kewenangan yang cukup besar yaitu dalam hal penyadapan, Pengeledahan dan/atau Penyitaan yang dilakukan oleh KPK harus terlebih deahulu dapat izin dari Dewan Pengawas
Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Pengawasan Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor Kecamatan Walenrang Erwina, Erwina; Mawarni, Eva Indah; Azis, Ilham Hidayat; Munawar, Rezty Irene; Febriana, Nisya
YUME : Journal of Management Vol 7, No 3 (2024)
Publisher : Pascasarjana STIE Amkop Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37531/yum.v7i3.7167

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan, pengawasan, dan disiplin kerja terhadap kinerja pegawai. Penelitian ini dilakukan di Kantor Kecamatan Walenrang di Kabupaten Luwu. Ukuran sampel yaitu 30 pegawai yang merupakan pegawai pada Kantor Kecamatan Walenrang di Kabupaten Luwu. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan kuisioner sebagai alatnya. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji validitas dan reliabilitas serta analisis regresi linear berganda untuk menjawab hipotesis penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan, pengawasan dan disiplin kerja secara simultan berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Secara parsial gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Kantor Kecamatan Walenrang. Serta disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Kantor Kecamatan Walenrang. Sedangkan pengawasan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Kantor Kecamatan Walenrang. Artinya bahwa semakin baik penerapan gaya kepemimpinan dan disiplin kerja pada Kantor Kecamatan Walenrang maka kinerja karyawan akan semakin meningkat. Namun tidak dengan variabel pengawasan. Hal ini berarti jika variabel pengawasan ditingkatkan maka kinerja pegawai pada Kantor Kecamatan Walenrang tidak mengalami peningkatan, sehingga apabila pengawasan yang dimiliki responden ditingkatkan maka belum tentu akan meningkatkan kinerja pegawai. Kata kunci: Gaya Kepemimpinan, Pengawasan, Disiplin Kerja
TINJAUAN YURIDIS PELAKSANAAN PELAYANAN PUBLIK DALAM PROSES PENGURUSAN PERIZINAN BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 5 TAHUN 2021 DI KOTA PALOPO (Studi Penelitian Pada Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Palopo) Umar Laila; Ilham Hidayat Azis; Kodrat R. Kodrat
Jurnal To Ciung : Jurnal Ilmu Hukum Vol 4, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Universitas Andi Djemma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan, Untuk mengetahui dan menganalisis pelaksanaan pelayanan publik dalam proses pengurusan perizinan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko dan kendala dalam penerapannya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis empiris. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dokumentasi. Analisa data yang digunakan adalah teknik kualitatif dimana hasil analisisnya disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian ini menemukan bahwa: 1) Perizinan berusaha berbasis risiko diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 Tentang Cipta Kerja dan sebagai peraturan pelaksananya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021, sehingga memunculkan sistem elektronik pelayanan perizinan yang baru yaitu Sistem OSS RBA (Online Single Submission Risk Based Approach). Pemerintah Kota Palopo dalam memberikan izin usaha kepada Pelaku UKM masih menggunakan Undang-Undang Cipta Kerja dan PP Nomor 5 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko. Kepatuhan hukum pelaku UKM terhadap perizinan berusaha berbasis risiko di Kota Palopo pada saat ini masih rendah dan masih banyak pelaku usaha yang tidak mendaftarkan usahanya. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan pelaku usaha atas pentingnya izin usaha tersebut; 2) Dalam penerapan perizinan berusaha berbasis risiko di Kota Palopo memiliki beberapa kendala, seperti ketidaktahuan masyarakat mengenai pentingnya izin usaha ini yang didasari kegiatan sosialisasi yang masih kurang dari pemerintah. Informasi yang diperoleh pelaku usaha masih sangat terbatas baik dari sisi intensitas maupun kedalaman informasi. Pelaku usaha juga masih kebingungan terkait tingkat risiko yang kini menjadi basis dalam pelayanan perizinan Sistem OSS RBA. Kemudian, informasi terkait OSS RBA sangat terbatas, pelaku usaha juga kebingungan dalam mendaftarkan usahanya melalui sistem OSS RBA, yang mana disebabkan oleh rendahnya pengetahuan masyarakat terkait teknologi.
Distortion of the Supervisory Function of the Village Consultative Body over Village Fund Management in Radda Village Ilham Hidayat Azis; Aulia Khaerunnisa; Abdul Rahman Nur
SIGn Jurnal Hukum Vol 8 No 1: April - September 2026
Publisher : CV. Social Politic Genius (SIGn)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37276/sjh.v8i1.746

Abstract

The mainstreaming of regional autonomy positions the BPD as an important institution for maintaining institutional checks and balances in village financial governance. In practice, this normative authority is connected to the sociological reality of the post-disaster area of Radda Village, which shows a weakening of the participatory supervisory function. This study aims to identify and analyze the implementation of the supervisory function of the BPD in budget management and to evaluate the institutional constraints that affect the effectiveness of that supervision. This study uses normative-empirical legal research to examine the gap between regulatory instruments and their implementation in the field. The findings show that the digitalization of financial recording through an administrative system is not sufficient to ensure substantive compliance in the implementation of physical development programs. The internal supervision of the BPD remains weakened by low administrative legal literacy and limited technical understanding among its members. This condition allows unilateral action by the Village Head in modifying programs without formal deliberation, so that the supervisory function of the BPD tends to be limited to retrospective supervision. This study recommends strengthening the regulatory capacity of the BPD through administrative law education, technical budget verification training, and regional policy support to restore the internal supervisory function in accountable village governance.