Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

ANALISIS KUALITAS CITRA RADIOGRAFI CR DENGAN SIGNAL TO NOISE RATIO (SNR) DAN CONTRAS TO NOISE RATIO (CNR) MENGGUNAKAN MICRODICOM Rivi Astria; Nani Lasiyah; Romi Mulyadi
Biomedical and Environmental Health Technology Vol 1 No 1 (2024): Biomedical and Environmental Health Technology (BIOHEALTH)
Publisher : Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35328/93ne3e89

Abstract

Citra sinar-X diperoleh dari hasil digitalisasi sebanyak-banyaknya dari proses scanner atau pemindai pasien. Citra sinar-X terkadang memiliki noiseyang dapat mempengaruhi kualitas citra. Deteksi diagnostik dengan radiografi adalah teknik yang paling umum digunakan. Namun, dalam beberapa kasus penyakit yang ada pada tubuh pasien tidak dapat dideteksi karena tertutup oleh kebisingan (noise) atau karena kualitas citra yang buruk. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisa kualitas hasil citra sinar-X dengan parameter yang berbeda pada radiografi kemudian dianalisa menggunakan Software Microdicom untuk mencari nilai Signal to Noise Ratio (SNR) dan Contras to Noise Ratio (CNR). Penelitian ini menggunakan metode dalam menganalisa citra yaitu menggunakan Signal to Noise Ratio (SNR) dan Contras to Noise Ratio (CNR). Signal to Noise Ratio (SNR) dan Contras to Noise Ratio (CNR) dapat digunakan untuk melihat tingkatan kualitas citra yang rendah karena SNR dan CNR merupakan pengukur tingkat kebisingan atau noise pada citra sinar-X. Pada penelitian ini menggunakan 4 parameter citra radiografi yaitu parameter Thorax, Clavicula, Pelvis, dan Molar. Hasilcitra radiografi Thorax, pelvis, Clavicula dan Molar diperoleh nilai SNR dan CNR yang berbeda-beda. Dari nilai rata-rata SNR dan CNR setiap citra, parameter citra radiografi yang memiliki nilai SNR tertinggi yaitu citra Pelvis dengan nilai SNR 9,25 sedangkan parameter citra radiografi yang memiliki nilai CNR tertinggi yaitu citra Molar dengan nilai CNR -0,71. Berdasarkan dari data yang diperoleh dapat ditarik kesimpulan bahwasannya penggunaan software microdicom tergolong mudah untuk digunakan dalam menganalisa hasil citra radiografi dengan nilai SNR dan CNR.”
ANALISIS TINGKAT KESELAMATAN PERALATAN PROTEKSI RADIASI TERHADAP RADIOGRAPHER PADA RUMAH SAKIT B PEKANBARU Ahmad Andriza Mustofa; Nur Hadziqoh; Nani Lasiyah
Biomedical and Environmental Health Technology Vol 1 No 1 (2024): Biomedical and Environmental Health Technology (BIOHEALTH)
Publisher : Institut Kesehatan dan Teknologi Al Insyirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35328/kg555e26

Abstract

Paparan dari sinar radiasi bersifat akumulatif dan mengakibatkan banyak dampak berbahaya seperti efek stokastik dan non stokastik terhadap pekerja radiasi dan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan penerapan prosedur keselamatan radiasi yang memenuhi persyaratan dari standar peraturan Bapeten No.4 Tahun 2020. Pada peraturan ini, ditetapkan beberapa hal dalam upaya keselamatan radiasi antara lain adalah penggunaan Alat Pelindung Diri seperti Apron, Pelindung Mata dan Tiroid, Pelindung Tangan, serta penggunaan Dosimeter Pasif Personal untuk memonitor dosis yang diterima pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi SOP dari penggunaan Alat pelindung Diri dan Pemantauan Dosis Personal dari pekerja radiasi pada Radiologi Rumah Sakit B. Penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Komparatif dengan melakukan survey dan observasi langsung dalam melakukan pengambilan data dengan objek yang diamati berupa Alat Pelindung Diri dan Arsip Dosimeter Pasif Personal. Persentase dari kesesuaian penerapan peralatan proteksi radiasi akan diukur dengan menggunakan Checklist yang mengacu pada SOP Bapeten, dan setelah itu dilakukan wawancara sebagai data pendukung dari penelitian. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan persentase kesesuaian penerapan peralatan proteksi radiasi dengan sebagai berikut : Apron dengan persentase 87,5% dinyatakan memenuhi persyaratan, Pelindung Mata 83% memenuhi persyaratan, Sarung Tangan 37,5% Kurang memenuhi persyaratan, dan Pelindung Tiroid dinyatakan tidak memenuhi persyaratan dikarenakan tidak tersedia pada Rumah Sakit B, serta penerapan dari penggunaan Dosimeter Pasif Personal dengan persentase 100% memenuhi persyaratan.
ANALISIS HASIL PENGUJIAN DAN KALIBRASI SYRINGE PUMP PARAMETER FLOWRATE DAN OCCLUSION MENGGUNAKAN METODE ISO GUM DAN METODE KRAGTEN Angelin, Nadia; Hadziqoh, Nur; Lasiyah, Nani; Surakusumah, Rino Ferdian
JURNAL MUTIARA ELEKTROMEDIK Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Mutiara Elektromedik
Publisher : Prodi Teknik Elektromedik Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/elektromedik.v9i2.6492

Abstract

Latar belakang: Syringe pump merupakan alat penting untuk memberikan cairan dan obat dalam dosis kecil secara akurat dan kontinu, sehingga kesalahan kerja dapat membahayakan pasien. Untuk menjamin keandalannya, alat ini perlu diuji dan dikalibrasi secara berkala, terutama pada parameter flowrate dan occlusion test karena keduanya berperan penting dalam kelancaran terapi. Selain itu, analisis ketidakpastian pengukuran seperti metode ISO GUM masih belum optimal diterapkan, sehingga penelitian ini diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang akurasi dan keandalan kalibrasi syringe pump. Tujuan: menganalisis hasil pengujian dan kalibrasi parameter  flowrate dan occlusion test pada syringe pump menggunakan pendekatan ISO GUM untuk menghitung ketidakpastian pengukuran secara sistematis. Metode: menggunakan metode eksperimental kuantitatif dengan objek syringe pump Medcaptain Sys-3010, di mana data diperoleh melalui kalibrasi langsung sesuai standar MK 047-18 Kemenkes RI. Pengujian dilakukan pada parameter flowrate sebesar 10, 50, dan 100 ml/h serta occlusion test pada 100 ml/h dengan bantuan Infusion Device Analyzer (IDA) sebagai alat standar. Data yang dihasilkan kemudian dianalisis menggunakan dua metode estimasi ketidakpastian, yaitu ISO GUM dan Kragten, untuk menghitung dan membandingkan ketidakpastian pengukuran secara menyeluruh, sehingga memberikan gambaran yang komprehensif mengenai keandalan hasil pengujian syringe pump tersebut. Hasil: Hasil pengujian pada syringe pump Medcaptain Sys-3010 menunjukkan bahwa metode ISO GUM dan Kragten menghasilkan nilai ketidakpastian yang sangat berdekatan pada seluruh titik ukur. Pada parameter flowrate, ketidakpastian diperluas masing-masing berada di kisaran ±0,18 ml/h (10 ml/h), ±0,64 ml/h (50 ml/h), dan ±0,80 ml/h (100 ml/h) untuk kedua metode, sedangkan pada occlusion test di 100 ml/h diperoleh nilai ketidakpastian yang sama, yaitu ±0,9084 Psi. Hal ini menunjukkan bahwa kedua metode memberikan hasil yang konsisten dan dapat diandalkan dalam analisis ketidakpastian pengukuran syringe pump. Kesimpulan: hasil pengujian dan analisis ketidakpastian pada syringe pump Medcaptain Sys-3010 menggunakan metode ISO GUM dan Kragten memberikan nilai ketidakpastian yang konsisten pada parameter flowrate dan occlusion test. Kedua metode menghasilkan estimasi ketidakpastian yang berada dalam batas toleransi standar kalibrasi alat kesehatan, sehingga syringe pump Sys-3010 dinyatakan memiliki kinerja yang akurat dan layak digunakan. Metode ISO GUM dinilai lebih sistematis dan terstruktur dalam menentukan ketidakpastian, sementara metode Kragten lebih praktis dalam perhitungannya namun tetap memberikan hasil yang sebanding.
The Effect of Ultrasonic Wave Frequency and Resolution on Image Quality in Ultrasonic Devices Nada Cinta, Cinta; Lasiyah, Nani
Journal of Engineering Science and Technology Management (JES-TM) Vol. 6 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Journal of Engineering Science and Technology Management

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jestm.v6i1.317

Abstract

Ultrasonography (USG) is a non-invasive medical imaging tool that is widely used in clinical diagnosis due to its safety and ability to visualize internal body structures. This study aims to analyze the effect of ultrasonic wave frequency and resolution on image quality in ultrasound devices. The experiment was conducted at RSUD Petala Bumi, Riau Province, using ultrasound images of four organs, namely the abdomen, cubital joint, prostate gland, and femoral artery. The frequency variations displayed on the ultrasound device were 17, 28, 31, 48, and 93. These values represent internal system preset levels rather than the actual transmitted ultrasonic frequencies. In diagnostic ultrasonography, acoustic waves operate in the megahertz (MHz) range (typically 2–10 MHz). Therefore, in this study, frequency is interpreted as a relative parameter influencing imaging performance, particularly resolution and penetration depth. The images were analyzed using ImageJ software to obtain grayscale histograms as indicators of image quality. The results demonstrate that higher frequency settings improve image resolution but reduce tissue penetration, whereas lower frequency settings provide deeper penetration with reduced resolution. Histogram analysis shows that most images exhibit low brightness intensity with dominant gray-level distributions in darker regions, indicating suboptimal image quality for diagnostic purposes. Therefore, appropriate selection of frequency presets and ultrasound parameter settings is essential to support accurate medical diagnosis.
A Generalizable AI-Based Framework for Automated Slice Sensitivity Profile and Slice Thickness Measurement Across Multi-Phantom and Multi-Scanner CT Systems Nur Hadziqoh; Nani Lasiyah; Rino Ferdian Surakusumah; Arda Yunianta; Nurul Maisarah Binti Kamaruddin
Jurnal Penelitian Fisika dan Aplikasinya (JPFA) Vol. 15 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Slice Sensitivity Profile (SSP) and its Full Width at Half Maximum (FWHM) are critical indicators of longitudinal resolution and effective slice thickness in computed tomography (CT), forming a cornerstone of quality assurance (QA) protocols. This study introduces a robust and vendor-neutral framework for automated SSP and FWHM measurement using a deep learning-based approach, designed to overcome the limitations of manual, scanner-specific, and phantom-specific methods. A U-Net convolutional neural network was trained on annotated CT phantom images—including AAPM, Catphan, and ACR models—acquired across Philips, Siemens, and GE CT systems with varied slice thicknesses (1.0 mm and 5.0 mm). The pipeline includes automatic stair-step object segmentation, angular correction via Hough Transform, profile extraction, and real-time FWHM computation. Validation against manual measurements demonstrated strong correlation (r > 0.97) and mean absolute errors below 0.2 mm, with no statistically significant differences across stair-step positions (p > 0.05). The system showed excellent repeatability (CV < 1.5%) and reproducibility (CV < 2.5%), even with phantom repositioning and inter-operator variability. Additionally, the framework maintained consistency across all phantom types and scanner brands, confirming its cross-platform reliability and alignment with IEC 61223-3-5 and AAPM performance standards. These results position the proposed method as a generalizable and scalable QA solution, suitable for clinical integration, automated reporting, and longitudinal CT performance monitoring.
ANALISIS HASIL PENGUJIAN DAN KALIBRASI SYRINGE PUMP PARAMETER FLOWRATE DAN OCCLUSION MENGGUNAKAN METODE ISO GUM DAN METODE KRAGTEN Angelin, Nadia; Hadziqoh, Nur; Lasiyah, Nani; Surakusumah, Rino ferdian
JURNAL MUTIARA ELEKTROMEDIK Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Mutiara Elektromedik
Publisher : Prodi Teknik Elektromedik Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Syringe pump merupakan alat penting untuk memberikan cairan dan obat dalam dosis kecil secara akurat dan kontinu, sehingga kesalahan kerja dapat membahayakan pasien. Untuk menjamin keandalannya, alat ini perlu diuji dan dikalibrasi secara berkala, terutama pada parameter flowrate dan occlusion test karena keduanya berperan penting dalam kelancaran terapi. Selain itu, analisis ketidakpastian pengukuran seperti metode ISO GUM masih belum optimal diterapkan, sehingga penelitian ini diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang akurasi dan keandalan kalibrasi syringe pump. Tujuan: menganalisis hasil pengujian dan kalibrasi parameter flowrate dan occlusion test pada syringe pump menggunakan pendekatan ISO GUM untuk menghitung ketidakpastian pengukuran secara sistematis. Metode: menggunakan metode eksperimental kuantitatif dengan objek syringe pump Medcaptain Sys-3010, di mana data diperoleh melalui kalibrasi langsung sesuai standar MK 047-18 Kemenkes RI. Pengujian dilakukan pada parameter flowrate sebesar 10, 50, dan 100 ml/h serta occlusion test pada 100 ml/h dengan bantuan Infusion Device Analyzer (IDA) sebagai alat standar. Data yang dihasilkan kemudian dianalisis menggunakan dua metode estimasi ketidakpastian, yaitu ISO GUM dan Kragten, untuk menghitung dan membandingkan ketidakpastian pengukuran secara menyeluruh, sehingga memberikan gambaran yang komprehensif mengenai keandalan hasil pengujian syringe pump tersebut. Hasil: Hasil pengujian pada syringe pump Medcaptain Sys-3010 menunjukkan bahwa metode ISO GUM dan Kragten menghasilkan nilai ketidakpastian yang sangat berdekatan pada seluruh titik ukur. Pada parameter flowrate, ketidakpastian diperluas masing-masing berada di kisaran ±0,18 ml/h (10 ml/h), ±0,64 ml/h (50 ml/h), dan ±0,80 ml/h (100 ml/h) untuk kedua metode, sedangkan pada occlusion test di 100 ml/h diperoleh nilai ketidakpastian yang sama, yaitu ±0,9084 Psi. Hal ini menunjukkan bahwa kedua metode memberikan hasil yang konsisten dan dapat diandalkan dalam analisis ketidakpastian pengukuran syringe pump. Kesimpulan: hasil pengujian dan analisis ketidakpastian pada syringe pump Medcaptain Sys-3010 menggunakan metode ISO GUM dan Kragten memberikan nilai ketidakpastian yang konsisten pada parameter flowrate dan occlusion test. Kedua metode menghasilkan estimasi ketidakpastian yang berada dalam batas toleransi standar kalibrasi alat kesehatan, sehingga syringe pump Sys-3010 dinyatakan memiliki kinerja yang akurat dan layak digunakan. Metode ISO GUM dinilai lebih sistematis dan terstruktur dalam menentukan ketidakpastian, sementara metode Kragten lebih praktis dalam perhitungannya namun tetap memberikan hasil yang sebanding.