i gusti agung ngurah agung yudha pramiswara
STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Nilai Agama Hindu Pada Lirik Lagu Band Subkultur Metal Rudra: Hymns from The Blazing Chariot i gusti agung ngurah agung yudha pramiswara
Genta Hredaya: Media Informasi Ilmiah Jurusan Brahma Widya STAHN Mpu Kuturan Singaraja Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/gentahredaya.v6i1.2097

Abstract

Hindu sebagai sebuah agama memiliki konsep filosofis maupun teologis yang digunakan sebagai sebuah panduan kehidupan (way of life) bagi umat hindu di seluruh dunia. Nilai-nilai tersebut tersurat dan tersirat dalam berbagai bentuk literasi yang digubah oleh para rsi yang merupakan orang yang telah tercerahkan dan telah diwariskan dan diajarkan serta diterapkan secara turun temurun. Nilai-Nilai atau konsepsi kehidupan Hindu ini seringkali tidak tersampaikan dengan baik, terlebih pada era disrupsi saat ini dimana massive-nya perkembangan teknologi dan globalisasi membuat orang semakin enggan untuk membaca dan mempelajari nilai-nilai kehidupan atau way of life dari ajaran agama Hindu melalui Bhagawadgita. Melalui lagu yang berjudul “Hymns From The Blazing Chariot” dari band Rudra nilai-nilai agama Hindu di dalam Bhagavand Gita lebih mudah diserap terutama oleh kaum muda. Nilai-nilai Ketuhanan dalam agama Hindu disampaikan atau dikomunikasikan melalui lirik lagu, dimana di dalam lirik lagu tersebut disampaikan pula sloka-sloka yang mendukung pernyataan dalam lirik lagu tersebut. Nilai-nilai agama hindu mengenai pencerahan akan Atman yang mejatinya adalah bagian dari Brahman dan tidak akan dapat dimusnahkan dengan menggunakan apapun terpampang dengan jelas secara eksplisit.Kata Kunci: Bhagavand Gita, Nilai agama Hindu, Subkultur Metal, Vedic Metal
Eksistensi Lelakut Sebagai Sebuah Bagian Dari Tradisi Agraris Di Tengah Konversi Lahan Pertanian Di Bali I Gusti Agung Ngurah Agung Yudha Pramiswara; Anak Agung Sri Dwipayani
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v6i2.2400

Abstract

Bali dikenal sebagai sebuah pulau yang menjadi destinasi pariwisata di dunia, hal ini dikarenakan oleh kekayaan budaya, adat istiadat, ritual dan alam pulau Bali yang begitu indah dan menawan bagi banyak wisatawan. Jauh sebelum Bali menjadi destinasi wisata, Bali adalah sebuah pulau yang bernafaskan budaya-budaya agraris, yang dimana para leluhur orang Bali telah menjalankan budaya tersebut selama turun temurun. Budaya agraris ini melahirkan begitu banyak bentuk ritual yang saat ini semakin memudar, salah satunya adalah lelakut. Lelakut sendiri adalah sebuah bentuk budaya agraris yang lahir dari ritual yang dilakukan oleh para petani padi, dimana lelakut tersebut berfungsi sebagai pelindung tanaman padi dari serangan hama burung dan hal-hal negatif lainnya. Saat ini keberadaan persawahan di beberapa wilayah di Bali semakin menurun, hal ini terjadi karena lahan persawahan banyak mengalami alih fungsi menjadi bangunan atau infrastruktur yang mendukung perkembangan industry pariwisata di Bali. Hal tersebut tentu saja berpengaruh besar terhadap keberadaan atau eksistensi dari bentuk-bentuk budaya agraris, yang dimana salah satunya adalah lelakut itu sendiri. Guna menangulangi hilangnya bentuk budaya agraris tersebut maka beberapa cara telah dilakukan salah satunya adalah dengan mengadakan lomba lelakut yang dilakukan oleh pemerintah kota Denpasar, hal ini bertujuan untuk mengembalikan keberadaan atau eksistensi dari lelakut dan juga bentuk-bentuk budaya agraris lainnya di Bali.Kata Kunci: Eksistensi, Lelakut, Budaya agraris, Konversi lahan