Anak Agung Sri Dwipayani
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Bali

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Eksistensi Lelakut Sebagai Sebuah Bagian Dari Tradisi Agraris Di Tengah Konversi Lahan Pertanian Di Bali I Gusti Agung Ngurah Agung Yudha Pramiswara; Anak Agung Sri Dwipayani
Maha Widya Duta : Jurnal Penerangan Agama, Pariwisata Budaya, dan Ilmu Komunikasi Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/duta.v6i2.2400

Abstract

Bali dikenal sebagai sebuah pulau yang menjadi destinasi pariwisata di dunia, hal ini dikarenakan oleh kekayaan budaya, adat istiadat, ritual dan alam pulau Bali yang begitu indah dan menawan bagi banyak wisatawan. Jauh sebelum Bali menjadi destinasi wisata, Bali adalah sebuah pulau yang bernafaskan budaya-budaya agraris, yang dimana para leluhur orang Bali telah menjalankan budaya tersebut selama turun temurun. Budaya agraris ini melahirkan begitu banyak bentuk ritual yang saat ini semakin memudar, salah satunya adalah lelakut. Lelakut sendiri adalah sebuah bentuk budaya agraris yang lahir dari ritual yang dilakukan oleh para petani padi, dimana lelakut tersebut berfungsi sebagai pelindung tanaman padi dari serangan hama burung dan hal-hal negatif lainnya. Saat ini keberadaan persawahan di beberapa wilayah di Bali semakin menurun, hal ini terjadi karena lahan persawahan banyak mengalami alih fungsi menjadi bangunan atau infrastruktur yang mendukung perkembangan industry pariwisata di Bali. Hal tersebut tentu saja berpengaruh besar terhadap keberadaan atau eksistensi dari bentuk-bentuk budaya agraris, yang dimana salah satunya adalah lelakut itu sendiri. Guna menangulangi hilangnya bentuk budaya agraris tersebut maka beberapa cara telah dilakukan salah satunya adalah dengan mengadakan lomba lelakut yang dilakukan oleh pemerintah kota Denpasar, hal ini bertujuan untuk mengembalikan keberadaan atau eksistensi dari lelakut dan juga bentuk-bentuk budaya agraris lainnya di Bali.Kata Kunci: Eksistensi, Lelakut, Budaya agraris, Konversi lahan