Titis Sensusiana
Universitas Kusuma Husada Surakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Peer Education Terhadap Efikasi diri Pada Remaja dalam Penanganan Pre Menstrual Syndrome Mellia Silvy Irdianty; Titis Sensusiana
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 13 No. 2, Juli 2022
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.86 KB) | DOI: 10.34035/jk.v13i2.852

Abstract

Siklus menstruasi merupakan siklus yang dialami oleh dimulai dari usia remaja putri hingga dewasa. Sebelum mengalami menstruasi, sejumlah remaja putrid biasanya mengalami rasa tidak nyaman atau istilah populernya premenstrual syndrome (PMS) sehingga seringkali menganggu aktivitas sehari - hari. Penanganan PMS dapat dilakukan oleh remaja secara mandiri dengan meningkatkan efikasi diri, salah satunya dengan metode peer education. Tujuan mengetahui pengaruh peer education terhadap self efficacy dalam penanganan PMS Pada Remaja. Desain penelitian menggunakan quasi experiment dengan rancangan pre-post test without control menggunakan e booklet PMS. Sampel pada penelitian ini sejumlah 60 remaja putri. Instrumen dalam penelitian iniadalahkuesioner dan standard operasianal prosedur (SOP) Peer education dan Self Eficacy. Analisis data menggunakan uji Wilxocon. Hasil penelitian menghasilkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap remaja dalam menangani PMS setelah dilaksanakan pendidikan kesehatan. Selain itu, terdapat perbedaan rerata efikasi responden sebelum dan sesudah dilaksanakan pendidikan kesehatan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dan menjadi sumber informasi mengenai penanganan PMS dengan metode peer education. The menstrual cycle is a cycle experienced by a woman from adolescence to adulthood. Before menstruation, a number of women usually experience discomfort or the popular term premenstrual syndrome (PMS) so that it often interferes with daily activities. The handling of PMS can be done by adolescents independently by increasing self-efficacy, one of which is the peer education method. The purpose of knowing the effect of peer education on self-efficacy in handling PMS in Adolescents. The research design used a quasi-experimental design with a pre-post test without control design using the PMS e booklet. The sample in this study were 60 young women. The instruments in this study were questionnaires and standard operating procedures (SOPs) for peer education and self-efficacy. Data analysis using Wilxocon test. The results showed that there were differences in the knowledge and attitudes of adolescents in dealing with PMS after health education was carried out. In addition, there is a difference in the average efficacy of respondents before and after being given health education. The results of this study can be used as a reference and a source of information regarding the handling of PMS with the peer education method.
Upaya Pemberdayaan Kader Posyandu dalam Rangka Pencegahan Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil di Posyandu Kelurahan Wonorejo Mellia Silvy Irdianty; Titis Sensusiana; Endang Zulaicha
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i6.25631

Abstract

ABSTRAK Preeklamsia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu dan perinatal di dunia, termasuk di Indonesia (Sibai, 2022; Say et al., 2014). Kondisi ini ditandai dengan hipertensi dan proteinuria setelah usia kehamilan 20 minggu dan berkontribusi besar terhadap kematian ibu, terutama di negara berkembang. Ibu hamil dan kader posyandu memiliki peran penting dalam upaya deteksi dini dan pencegahan preeklamsia melalui peningkatan pengetahuan, pemantauan tekanan darah, serta kunjungan antenatal teratur (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2022). Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberdayakan kader posyandu dan meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai faktor risiko, tanda gejala, serta upaya pencegahan preeklamsia di Posyandu Kelurahan Wonorejo. Kegiatan dilaksanakan pada 20 Mei 2025 dengan sasaran 25 ibu hamil yang mengikuti penyuluhan interaktif, pemeriksaan tekanan darah, dan skrining protein urin, disertai pre-test dan post-test untuk evaluasi pengetahuan. Hasil menunjukkan rata-rata nilai pre-test 55,2 meningkat menjadi 88,4 pada post-test, dengan peningkatan 33,2 poin (sekitar 60,2%), dan ditemukan 2 ibu hamil dengan tekanan darah ≥140/90 mmHg yang kemudian dirujuk ke fasilitas Kegiatan ini membuktikan bahwa pendidikan kesehatan terstruktur berbasis posyandu yang melibatkan kader dan tenaga kesehatan efektif meningkatkan pengetahuan ibu hamil serta mendukung deteksi dini risiko preeklamsia. Disarankan agar penyuluhan dan skrining sederhana (tekanan darah dan urin) dilakukan secara berkala di posyandu dengan keterlibatan aktif kader. Kata Kunci: Preeklamsia, Ibu Hamil, Kader Posyandu, Pendidikan Kesehatan, Pencegahan.  ABSTRACT Preeclampsia is one of the leading causes of maternal and perinatal morbidity and mortality worldwide, including in Indonesia (Sibai, 2022; Say et al., 2014). This condition is characterized by hypertension and proteinuria after 20 weeks of gestation and significantly contributes to maternal deaths, particularly in developing countries. Pregnant women and community health volunteers (posyandu cadres) play an important role in early detection and prevention of preeclampsia through improved knowledge, regular blood pressure monitoring, and adherence to antenatal care visits. This community service activity aimed to empower posyandu cadres and to improve pregnant women’s knowledge regarding risk factors, clinical signs, and preventive efforts of preeclampsia at Wonorejo Posyandu. The program was conducted on May 20th, 2025, involving 25 pregnant women who participated in an interactive health education session, blood pressure measurement, and urine protein screening, accompanied by pre-test and post-test to evaluate knowledge. The results showed that the mean pre-test score of 55.2 increased to 88.4 in the post-test, with an improvement of 33.2 points (around 60.2%), and two pregnant women with blood pressure ≥140/90 mmHg were identified and referred to health. This activity demonstrated that structured health education at the community level, involving cadres and health professionals, is effective in improving pregnant women’s knowledge and supporting early detection of preeclampsia risk.Regular counseling and simple screening (blood pressure and urine tests) at posyandu with active cadre involvement are strongly recommended. Keywords: Preeclampsia, Pregnant Women, Posyandu Cadres, Health Education, Prevention.