Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series : Medical Science

Scoping Review: Suplementasi Probiotik Efektif Menurunkan Kadar IL-6 pada Obesitas Dewasa Pipit Anggana Dewi; Uci Ary Lantika; Ajeng Kartika Sari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6530

Abstract

Abstract. Obesity is ranked fifth as a primary health problem in the world. Obesity is abnormal fat accumulation caused by a long-term imbalance between energy intake and energy use. This energy imbalance causes excess adipose accumulation. Adipose tissue functions to produce cytokines such as IL-6. Increased cytokine production creates a chronic proinflammatory state. Obesity management can be carried out with multimodal lifestyle interventions such as changes in diet, including controlled food portions and healthy foods such as probiotics. Probiotics have a mechanism of action, namely immunomodulation, so that they can reduce the production of cytokines such as IL-6. The purpose of this study was to analyze whether probiotic supplementation is effective in reducing IL-6 levels in obese adult patients. This research uses a scoping review study to identify, analyze, and evaluate scientific writing through Pubmed, ScienceDirect, and SpringerLink data sources that meet the inclusion, exclusion, and eligibility criteria using the JBI Critical Appraisal Checklist summarized in the PRISMA diagram. 4,309 articles were produced from the three data sources, 526 articles met the inclusion criteria, and 5 articles met the exclusion and eligibility criteria. The results of three articles stated that probiotic supplementation was effective for reducing IL-6 levels in adults with obesity, while two articles stated that there were no significant changes. Two articles stated that there was no significant change in IL-6 levels were studies using synbiotics, which consisted of prebiotics and probiotics, while three other research articles using only probiotics stated that there was a decrease in IL-6 levels. Abstrak. Obesitas menduduki peringkat kelima sebagai masalah kesehatan primer di dunia. Obesitas diartikan akumulasi lemak abnormal disebabkan oleh ketidakseimbangan jangka panjang antara asupan energi dan penggunaan energi. Ketidaksimbangan energi tersebut menimbulkan akumulasi adiposa berlebih. Jaringan adiposa berfungsi menghasilkan sitokin seperti IL-6. Peningkatan produksi sitokin menimbulkan keadaan proinflamasi kronis. Manajemen obesitas dapat dilakukan dengan multimodal lifestyle intervention seperti perubahan pola makan termasuk porsi makanan terkontrol serta makanan sehat seperti probiotik. Probiotik memiliki mekanisme aksi yaitu imunomodulasi sehingga dapat menurunkan produksi sitokin seperti IL-6. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis apakah suplementasi probiotik efektif menurunkan kadar IL-6 pada pasien obesitas dewasa. Penelitian menggunakan studi scoping review untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi tulisan ilmiah melalui sumber data Pubmed, ScienceDirect, dan SpringerLink yang memenuhi kriteria inklusi, ekslusi dan kelayakan menggunakan JBI Critical Apprasial Checklist dirangkum dalam diagram PRISMA. Dihasilkan 4.309 artikel dari ketiga sumber data, 526 artikel memenuhi kriteria inklusi dan 5 artikel memenuhi kriteria ekslusi dan kelayakan. Hasil dari 3 artikel menyatakan suplementasi probiotik efektif untuk menurunkan kadar IL-6 pada orang dewasa dengan obesitas, sedangkan 2 artikel menyatakan tidak ada perubahan yang signifikan. Dua artikel yang menyebutkan tidak ada perubahan signifikan kadar IL-6 merupakan penelitian menggunakan sinbiotik yaitu terdiri dari prebiotik dan probiotik sedangkan 3 artikel penelitian lainnya hanya menggunakan probiotik menyebutkan terdapat penurunan kadar IL-6.
Usia Ibu, Paritas, dan Interval Kehamilan Sebagai Risiko Terjadinya Persalinan Preterm pada Ibu Hamil dengan Preeklampsia di RSUD Al-Ihsan Bandung Tahun 2021 Aricka Pratiwi Koesdinar; Jusuf Effendi; Ajeng Kartika Sari
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10491

Abstract

Abstract. Preeclampsia is the most common cause of death in pregnant women with a mortality rate of 58.1% of the total 585,000 maternal deaths each year. Preeclampsia can occur due to several factors such as the pregnant woman's age, parity, obesity and diabetes. Pregnant women aged < 20 years or > 35 years, with increasing numbers of parities and pregnancy intervals < 6 months are at risk of experiencing preeclampsia. This study aims to analyze the relationship between maternal age, parity, and pregnancy interval with the occurrence of preterm labor in preeclampsia sufferers at Al-Ihsan Regional Hospital. This research is a cross sectional study conducted at Al-Ihsan Regional Hospital. The research sample came from secondary medical record data in the form of age characteristics, pregnancy interval, parity and delivery. Data were analyzed using univariate and bivariate tests and carried out the ChiSquare statistical test. Characteristics of pregnant women who experienced preterm, the majority were aged < 35 years (80%), pregnancy interval ≥ 2 years (63.9%), parity 2-≥5 (70%) and the majority experienced term delivery (79.2%) The results of the analysis of the relationship between maternal age, parity, and pregnancy interval with the occurrence of preterm labor in preeclampsia sufferers showed p values of 0,21, 0,61, 0,67 (> 0.05) which indicated that there was no significant relationship between maternal age, parity, and pregnancy interval with the occurrence of preterm labor in preeclampsia sufferers at Al-Ihsan Regional Hospital. Early diagnosis and appropriate treatment can prevent preterm labor in preeclampsia patients. Abstrak. Preeklampsia merupakan penyebab tersering kematian pada ibu hamil dengan angka kematian 58,1% dari total 585.000 kematian ibu setiap tahunnya. Preeklampsia dapat terjadi karna beberapa faktor seperti usia ibu hamil, paritas, obesitas, dan diabetes. Ibu hamil yang berusia < 20 tahun atau > 35 tahun, jumlah paritas yang semakin banyak dan interval kehamilan yang <6 bulan berisiko mengalami preeklampsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara usia ibu, paritas, dan interval kehamilan dengan terjadinya persalinan preterm pada penderita preeklampsia di RSUD Al-Ihsan. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yang dilakukan di RSUD Al-Ihsan. Sampel penelitian berasal dari data sekunder rekam medik berupa karakteristik usia, interval kehamilan, paritas, dan persalinan Data dianalisis dengan uji univariat dan bivariat serta dilakukan uji statistik ChiSquare. Karakteristik responden ibu hamil yang mengalami preterm mayoritas berusia < 35 tahun (80%), interval kehamilan ≥ 2 tahun (63,9%), jumlah paritas 2-≥5 (70%) dan mayoritas mengalami persalinan aterm (79,2%) Hasil analisis hubungan antara usia ibu, paritas, dan interval kehamilan dengan terjadinya persalinan preterm pada penderita preeklampsia didapatkan nilai p sebesar 0,21, 0,61, 0,67 (> 0.05) yang menunjukan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia ibu, paritas, dan interval kehamilan dengan terjadinya persalinan preterm pada penderita preeklampsia di RSUD Al-Ihsan. Diagnosis dini dan tatalaksana yang tepat dapat mencegah terjadinya persalinan preterm pada pasien preeklampsia.
Analisis Vasektomi Sebagai Faktor Risiko Kejadian Kanker Prostat Audia Hajera Bachtiar; Ajeng Kartika Sari; Eka Nurhayati
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10555

Abstract

Abstract. Vasectomy or vas ligation is a method of contraception in men by cutting and tying the right and left of vas deferens with the aim of preventing spermatozoa from coming out during ejaculation. Vasectomy cannot be separated from long-term health risks, one of which is that men who undergo vasectomies have a 15% higher risk of developing prostate cancer overall. Prostate cancer is a type of cancer that develops from gland cells that produce prostate fluid combined with semen. The aim of this study is to provide information to readers regarding the relationship between vasectomy as a risk factor for prostate cancer. This research uses a scoping review study to identify and report several articles through Pubmed, ScienceDirect, SpringerLink, Taylor and Francis. The PRISMA diagram method was used in this research and resulted in nineteen articles that met the inclusion and eligibilty criteria. Based on results of the analysis, there are ten articles that can conclude that vasectomy could increase the risk of prostate cancer and nine articles concluded that vasectomy could not increase the risk of prostate cancer. Abstrak. Vasektomi atau vas ligation merupakan salah satu metode kontrasepsi pada pria dengan prosedur pemotongan dan pengikatan pada vas deferens kanan dan kiri dengan tujuan untuk mencegah spermatozoa keluar saat ejakulasi. Vasektomi tidak lepas dari dampak risiko kesehatan yang panjang, salah satunya yaitu pria yang menjalani vasektomi memiliki risiko 15% lebih tinggi terkena kanker prostat secara keseluruhan. Kanker prostat merupakan jenis kanker yang berkembang dari sel kelenjar yang menghasilkan cairan prostat yang tergabung dengan semen. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memberikan informasi kepada pembaca mengenai hubungan vasektomi sebagai faktor risiko kejadian kanker prostat. Penelitian ini menggunakan studi scoping review untuk mengidentifikasi dan melaporkan beberapa artikel melalui sumber PubMed, ScienceDirect, SpringerLink, dan Taylor and Francis. Metode diagram PRISMA digunakan dalam penelitian ini dan menghasilkan sembilan belas artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan kelayakan. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dari uraian artikel penelitian yang ditinjau, sepuluh artikel menyimpulkan bahwa vasektomi dapat meningkatkan risiko kejadian kanker prostat dan sembilan artikel menyimpulkan bahwa vasektomi tidak dapat meningkatkan risiko kejadian kanker prostat.