Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja mengenai pentingnya gizi dan zat besi dalam pencegahan stunting. Permasalahan utama yang dihadapi mitra, yaitu remaja Desa Balungtawun, adalah rendahnya pemahaman tentang hubungan antara anemia dan risiko stunting lintas generasi. Program ini bertujuan membentuk kader remaja sadar gizi sebagai agen perubahan perilaku sehat di tingkat keluarga dan masyarakat. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di Balai Desa Balungtawun pada dua tahap, dengan melibatkan 36 remaja berusia 10–12 tahun. Metode pelaksanaan mencakup tahap persiapan, penyuluhan interaktif, simulasi pemilihan makanan kaya zat besi, serta pendampingan perilaku melalui pasar gizi dan diskusi kelompok. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test dengan analisis statistik uji Wilcoxon Signed Rank Test dan korelasi Spearman untuk mengukur perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada seluruh aspek yang diukur. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 66,11 menjadi 78,05, sikap dari 22,22 menjadi 22,80, dan perilaku dari 19,00 menjadi 20,83 (p < 0,05). Korelasi kuat ditemukan antara pengetahuan dan perilaku (r = 0,611; p < 0,001), menunjukkan bahwa peningkatan pemahaman remaja berdampak nyata pada kebiasaan makan sehat. Peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi dalam setiap sesi pelatihan dan mampu mengidentifikasi sumber makanan bergizi lokal. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan partisipatif berbasis praktik langsung efektif dalam meningkatkan literasi gizi remaja. Aspek kebaruan dari program ini terletak pada keterlibatan aktif remaja sebagai mitra pembelajaran dan agen perubahan dalam upaya pencegahan stunting berbasis komunitas di wilayah pedesaan.