Rina Sabrina
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pelestarian Pola Permukiman Tradisional Suku Sasak Dusun Limbungan Kabupaten Lombok Timur Sabrina, Rina; Antariksa, Antariksa; Prayitno, Gunawan
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karakter dari suatu suku dapat dilihat dari tradisi dan budaya yang terbentuk dalam suatu permukiman dan masih menjaga local wisdom mereka, hal ini dapat terlihat dari permukiman tradisional Suku Sasak di Dusun Limbungan Kabupaten Lombok Timur, yang menjaga rumah adat mereka dari segala perubahan. Tujuan dari studi adalah mengidentifikasi karakteristik non fisik sosial budaya masyarakat Dusun Limbungan, dan mengidentifikasi karakteristik fisik pola tata ruang permukiman yang terbentuk, menganalisis pola tata ruang permukiman tradisional yang terbentuk akibat pengaruh fisik dan non fisiknya, dan kearifan lokalnya, serta menentukan arahan pelestarian bagi permukiman tradisional Limbungan. Metode yang digunakan adalah deskriptif-evaluatif. Hasil studi menunjukkan bahwa konsep keruangan makro yang terbentuk dari tatanan fisik lingkungan hunian memperlihatkan adanya pembagian ruang permukiman berdasarkan guna lahan, yaitu tempat hunian di bagian tengah, dan lahan pertanian di bagian luar area permukiman. Dari hasil struktur ruang permukiman tradisional Suku Sasak Limbungan terbentuk berdasarkan konsep filosofi, yaitu konsep arah sinar matahari, konsep terhadap gunung rinjani, konsep pembangunan rumah dan elemennya secara berderet dan tanah berundak-undak, dan konsep bentuk rumah yang seragam terdiri dari rumah yang berjajar (suteran). Penempatan elemen rumah (bale) berupa panteq memiliki posisi saling berhadapan dengan bale. Pola pengembangan tata ruang masyarakat Sasak di Dusun Limbungan berorientasi pada nilai kosmologi berdasarkan sistem kepercayaan dan tradisi-tradisi masyarakat yang berbasis budaya sehingga menghasilkan ruang-ruang khusus.Kata kunci: Pola tata ruang, Permukiman tradisioal Sasak Limbungan, Sosial budaya, Pelestarian
Fenomena Radikalisasi Digital di Indonesia dan Implikasinya Terhadap Kebijakan Kontraterorisme di Asean Sabrina, Rina
Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol. 7 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Publisher : STISIPOL Raja Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56552/jisipol.v7i2.326

Abstract

Digital radicalization has emerged as a strategic phenomenon that reshapes the landscape of national and regional security threats, particularly in Indonesia and the Southeast Asian region. This study aims to analyze how state actors construct the securitization process of digital radicalization and how this threat framing influences ASEAN's counterterrorism policies. Employing a qualitative approach with a case study method, the research examines data from academic literature, national and regional regulations, and expert interviews on security policy. The findings reveal that securitizing actors such as Indonesia’s National Counterterrorism Agency (BNPT) and Densus 88 frame extremist digital activities as existential threats, prompting extraordinary measures such as website blocking, cyber surveillance, and the enactment of specific regulations, notably Law No. 5 of 2018. At the regional level, this narrative gains legitimacy through the ASEAN Convention on Counter Terrorism (ACCT), which serves as a collaborative framework among member states to address transnational terrorism. However, the effectiveness of ASEAN’s policy response continues to face significant challenges, including technological capacity gaps, the absence of collective enforcement mechanisms, and tensions between security imperatives and civil liberties. This study concludes that digital radicalization requires vertical integration between national and regional policies, alongside a hybrid approach that balances hard and soft security instruments. To that end, ASEAN must reorient its counterterrorism strategy by strengthening digital security capacities, expanding value-based counter-narratives, and enhancing cross-sectoral coordination to build regional resilience against adaptive and transnational threats.