Subur Wijaya
Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an Al-Hikam Depok

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Keadilan Poligami Perspektif Gender Studi Perubahan Sosial Dalam Kitab Nazhariyah Al- Maqashid Karya Ibnu Asyur Subur Wijaya
Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Vol. 16 No. 1 (2016): Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.829 KB) | DOI: 10.53828/alburhan.v16i1.67

Abstract

Artikel ini secara khusus membahas mengenai poligami dalam pandangan Ibnu Asyūr dalam kitabnya: “Nazhariyah al-Ma- qashid” yang menegaskan pembolehan laki-laki (suami) menikah lebih dari satu orang istri dengan catatan mampu dan dapat berlaku adil. Pandangan Ibnu Asyūr dalam pandangan penulis merupakan respon dari tiga aliran besar dari pendapat para ulama‘ mengenai poligami, yaitu; 1) aliran yang membolehkan, 2) aliran yang memperberat syarat kebolehan, dan 3) aliran yang melarang. Penulis sendiri cenderung le- bih setuju dengan aliran yang kedua daripada yang lainnya, mengingat perundang-undangan yang mengatur perkawinan di Indonesia mem- perbolehkan poligami dengan berbagai syarat. Jika poligami dilakukan dengan bijak, dan memenuhi persyaratan yang ada, tentu akan men- gokohkan bangunan keluarga yang bahagia, mawaddah wa rahmah.
Moderate Enlightenment Based on The Qur'an in Islamic Higher Education: Social-Cultural Education Strategies to Achieve Sustainable Development Goal (SDG) 16 : Enlightenment Based on The Qur'an in Islamic Higher Education: Social-Cultural Education Strategies to Achieve Sustainable Development Goal (SDG) 16 Miftah Ulya; Ahmad Ari Masyhuri; Chairunnisa Chairunnisa; Fahmi A Jawwas; Subur Wijaya
Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian dan Kajian Sosial Keagamaan Vol. 22 No. 02 (2025): Al-Mutharahah : Jurnal Penelitian dan Sosial Keagamaan
Publisher : LPPM Institut Agama Islam Diniyyah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46781/al-mutharahah.v22i02.2065

Abstract

Religious moderation has become a strategic agenda in Islamic higher education, especially in Malay communities faced with the challenges of religious polarization and the strengthening of extremist narratives. This study aims to analyze moderate Islamic preaching based on the Qur'an as a socio-cultural strategy in supporting the creation of peace and social justice in line with Sustainable Development Goal (SDG) 16. This study uses a qualitative approach with a thematic interpretation (maudhu'i) method combined with socio-religious analysis. The primary data consists of verses from the Qur'an that emphasize the principle of moderation, such as the concept of ummatan wasaṭan (QS. al-Baqarah [2]: 143) and the method of wise preaching (QS. an-Naḥl [16]: 125). while secondary data comes from academic literature on da'wah, religious moderation, and Islamic higher education in the Malay context The results of the study show that moderate Qur'anic da'wah in Islamic universities operates through three main dimensions: epistemic moderation through balanced interpretation of the Qur'an, pedagogical moderation through inclusive campus da'wah practices, and socio-cultural moderation in harmony with Malay cultural wisdom. These three dimensions contribute to strengthening social harmony, preventing religious extremism, and forming peaceful academic communities, as emphasized in the principles of justice and peace (QS. an-Naḥl [16]: 90). The core of this research lies in the interpretation of Islamic da'wah not only as a religious activity, but as an institutional and cultural mechanism of Islamic higher education in supporting sustainable peacebuilding and strengthening SDG 16.
Keadilan Poligami Perspektif Gender Studi Perubahan Sosial Dalam Kitab Nazhariyah AlMaqashid Karya Ibnu Asyur Subur Wijaya
Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Vol. 16 No. 1 (2016): Al Burhan: Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur’an
Publisher : LP2M Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53828/730gzj90

Abstract

This article specifically deals with the polygamy in the view of Ibn Asyūr in his book: ”Nazhariyah al-Maqashid” which affirms male enrollment (husbands) to marry more than one wife with record capable and fair. Ibn Asyūr’s view in the writer’s view is the response of the three major streams of scholars’ opinion of polygamy, that is; 1) allowable flow, 2) flow that tightens the ability condition, and 3) prohibit flow. The authors themselves are more likely to agree with the second flow than others, given the laws governing marriage in Indonesia allowing polygamy with various conditions. If polygamy is done wisely, and meet the existing requirements, it will certainly strengthen the happy family building, mawaddah wa rahmah
Al-Quran DAN KOMUNIKASI (Etika Komunikasi Dalam Perspektif Al-Quran) Subur Wijaya
Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Vol. 15 No. 1 (2015): Al Burhan: Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur’an
Publisher : LP2M Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53828/msvk2284

Abstract

Artikel ini membahas prinsip etika komunikasi perspektif Al-Quran beserta dengan teori komunikasinya. Adapun term-term khusus yang diasumsikan Al-Quran sebagai penjelasan dari prinsip-prinsip komunikasi tersebut antara lain; term qaulan balîghan, qaulan maisûran, qaulan karîman, qaulan ma’rûfan, qaulan layyinan, qaulan sadîdan, juga termasukqaul al-zûr, dan lain-lain. Maka gambaran komunikasi yang termaktub dalam Al-Quran dapat dijadikan sebuah landasan untuk mengimplementasikan pola komunikasi yang baik dan santun, dalam aspek sosial kemasyarakatan, politik, dan lain sebagainya. Salah satu bukti bahwa Al-Quran memberikan petunjuk ialah bagaimana cara berperilaku dan berkomunikasi secara baik dan benar kepada kedua orang tua, terutama sekali, disaat keduanya atau salah satunya sudah berusia lanjut. Dalam hal ini, Al-Quran menggunakan term karīm, yang secara kebahasaan berarti mulia. Messagedari perintah berkata dalam Al-Quran dan hadis menjadi sebuah indikasi wajibnya bagi muslim mengaplikasikan sifat kejujuran dan perkataan benar yang dalam konsep Al-Quran dikenal dengan istilah qaulan sadidan.