Sadari
Dosen IAI Shalahuddin Al Ayyubi Bekasi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Wawasan Al-Qur’an Mengenai Metodologi Qur’ani dalam Penafsiran Kontemporer Sadari
Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Vol. 16 No. 2 (2016): Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.775 KB) | DOI: 10.53828/alburhan.v16i2.79

Abstract

Ketersaingan dunia Islam dalam belantika keilmuan disebabkan oleh lemahnya metodologi. Satu-satunya metodologi yang ditemukan dalam Islam adalah ushul fiqh. Namun ushul fiqh, sudah tidak lagi dapat berkembang karena telah dianggap sebagai sesuatu yang baku dan tidak boleh mengalami perkembangan. Dalam konteks tersebut, posisis ushul fiqh bukan lagi sebagai metodologi, akan tapi sudah menjadi hak paten bagi masing-masing tokoh mazhab dan pengikutnya. Metodologi Qur’ani ini diharapkan, dapat digunakan untuk menyadarkan umat Islam untuk terus berijtihad dengan beragam pandangan kontemporer, tetapi tetap didasarkan pada inspirasi dasar al-Qur’an sebagai sumber utama dan petunjuk dunia dan akhirat. Metodologi bebasis Qur’ani di sini, merujuk pada dua tokoh pakar pemikiran Islam yakni Fazlur Rahman dan Muhammad Syahrur. Fazlur Rahman menawarkan metode penafsiran al-Qur’an yang disebutnya dengan teori gerakan ganda (Double movement). Sementara Muhammad Syahrur menawarkan metode penafsiran al- Qur’an yang disebut dengan teori batas (hudud, limit). Melalui teori penafsiran double movement dan hudud tersebut diharapkan mampu membuat revolusioner ilmiah atas ilmu ushul fiqh sebagai ciri khas produk metodologi umat Islam.
Wawasan Al-Qur’an Mengenai Metodologi Qur’ani dalam Penafsiran Kontemporer Sadari
Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Vol. 16 No. 2 (2016): Al Burhan: Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur’an
Publisher : LP2M Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53828/0410m973

Abstract

The marginality of Islamic world in the scientific scene due to the lack of methodology. The only methodology that is found in Islam is ushul fiqh. However, ushul fiqhis no longer able to grow because it was regarded as something raw and can not be increased. In that context, the position of ushul fiqhis no longer as a methodology, but it would be a patent for each madzhableaders and its followers. Qur’anic methodology is expected to be used to bring Muslims to continue with varying views of contemporary ijtihad. Yet, it still based on the basic inspiration of the Qur’an as a major source and a guidance of the world and the hereafter. Qur’anic-based methodology here, referring to two prominent scholars of Islamic thought, Fazlur Rahman and Muhammad Shahrur. Fazlur Rahman offers a method of interpretation of the Qur’an which he called the theory of double movement. While, Muhammad Shahrur offers a method of interpretation of the Qur’an namely the theory of limits (hudud). Through interpretation of double movement and hudud theory, it is expected to create science revolutionary on the science of usul fiqh as a characteristic of methodology product of Muslims.