Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kajian Tafsir Falsafi Aldomi Putra
Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Vol. 17 No. 1 (2017): Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.836 KB) | DOI: 10.53828/alburhan.v17i1.83

Abstract

Tafsir dan filsafat adalah dua jenis keilmuan yang berbeda, namun ketika keilmuan filsafat digunakan untuk memahami Alqu- ran, maka akan melahirkan corak penafsiran yang disebut dengan tafsir falsafi. Dalam tulisan ini akan diungkap perkembangan kajian tafsir falsafi, yang dimulai pada masa khalifah Abbasiyah, dengan ge- rakan menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani kedalam bahasa Arab. Dalam perkembangannya tafsrir falsafi menuai pro dan kontra, al-Ghalazi misalnya menolak penafsiran yang menggunkan pendeka- tan filsafat, dan tafsir falsafi bertentangan dengan agama. Diantara mufassir yang menggunakan corak falsafi ini adalah al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ikhwan as-Shafa. Mereka berusaha menafsirkan Alquran dengan menggunakan teori-teori filsafat. Usaha yang dilakukan oleh mufassir tersebut adalah untuk merekonsiliasikan antara agama dan filsafat.
Tawaran Solusi LGBT al-Husain al-Bashri al-Mu’tazily Dalamal-Mu’tamad Aldomi Putra
Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Vol. 18 No. 1 (2018): Al Burhan: Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur’an
Publisher : LP2M Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (923.624 KB) | DOI: 10.53828/88c1t029

Abstract

This paper addresses LGBT case resolahe focus of the LGBT is that the issue has been quite controversial today in Indonesia, due to the enormous lesbian, gay and transgender community in many major cities in Indonesia. They have moved to demand their rights to be respected, and are even championing their relationship to legitimacy by marriage laws. How to understand the qaum Lūṭstory which is the forerunner of LGBT by al-Husain al-Bashri al-Mu’tazilî in the book al-Mu’tamād with the theory of al-’Af’aland al-Qiyās al-Syar’I, so the LGBT actors are excluded from al-’Af’al al-Qabîh who is condemned to punishment for those who commit adultery, because the illah or the reason isn’t the same as fahisha(same sex sexual conduct).
Kajian Tafsir Falsafi Aldomi Putra
Al Burhan: Jurnal Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur'an Vol. 17 No. 1 (2017): Al Burhan: Kajian Ilmu dan Pengembangan Budaya Al-Qur’an
Publisher : LP2M Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53828/vv1rjb96

Abstract

Interpretations and philosophies are two different types of scholarship, but when the philosophy of science is used to understand the Qur'an, it will give birth to a pattern of interpretation called falsafi tafsir. In this paper will be revealed the development of a philosophical interpretation, which begins during the Abbasid caliphate, with the movement of translating the works of Greek philosophy into Arabic. In its development the philosophical interpretation of the pros and cons, al-Ghalazi for example denies the interpretation that uses the philosophical approach, and philosophical interpretations contrary to religion. Among the mufassir who use this falsafi pattern are al-Farabi, Ibn Sina, and the Ikhwan as-Shafa. They sought to interpret the Qur'an by using philosophical theories. The efforts made by the mufassir are to reconcile between religion and philosophy.
Respons Al-Qur’an Terhadap Fenomena Toxic Positivity: Analisis Kritis Ayat-Ayat Ujian, Sabar dan Keseimbangan Emosi Jun Firmansyah; Afifah Nada ulhaq; Aldomi Putra
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3464

Abstract

Fenomena toxic positivity berkembang dalam masyarakat modern sebagai kecenderungan menuntut sikap berpikir positif secara berlebihan hingga mengabaikan realitas penderitaan, emosi negatif, dan proses psikologis manusiawi. Dalam konteks keislaman, sikap ini berpotensi bertentangan dengan nilai-nilai Al-Qur’an yang memandang ujian, kesabaran, dan keseimbangan emosi sebagai bagian integral dari kehidupan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respons Al-Qur’an terhadap fenomena toxic positivity melalui kajian kritis terhadap ayat-ayat yang berbicara tentang ujian (ibtilā’), sabar (ṣabr), dan pengelolaan emosi secara proporsional. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research), menggunakan analisis tematik (tafsīr maudhu‘ī) terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang relevan, serta didukung oleh literatur tafsir klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an secara tegas mengakui keberadaan penderitaan, kesedihan, dan kegelisahan sebagai bagian dari sunnatullah, serta tidak menuntut manusia untuk menutupi atau menafikan emosi negatif. Konsep sabar dalam Al-Qur’an tidak dimaknai sebagai penyangkalan emosi, melainkan sebagai sikap aktif dalam menghadapi ujian dengan kesadaran, keteguhan iman, dan keseimbangan emosional. Pembahasan ini menegaskan bahwa ajaran Al-Qur’an menawarkan paradigma kesehatan mental yang realistis dan humanis, berbeda dari toxic positivity yang cenderung menekan ekspresi emosi. Kesimpulannya, Al-Qur’an memberikan kerangka etis dan spiritual yang seimbang dalam menyikapi realitas hidup, dengan menempatkan emosi manusia sebagai bagian dari proses pembentukan keimanan dan kedewasaan spiritual.