p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Dekonstruksi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Stairway to Heaven: Memandang Tuhan Melalui Kacamata Dekonstruksi Aldrich Anthonio
Dekonstruksi Vol. 1 No. 01 (2021): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.991 KB)

Abstract

Sejak abad 19 filsafat ketuhanan mengalami krisis oleh kritik tajam para filsuf, khususnya Nietzsche dan Heidegger. Sasaran kritik tersebut sebenarnya adalah konsep Metafisika yang dianggap sudah gagal menjelaskan realita yang beragam. Filsafat ketuhanan juga dibangun atas dasar Metafisika tersebut, sehingga filsafat ketuhanan juga dianggap sudah gagal. Di abad ke-21, seorang teolog dan filsuf bernama John Caputo mencoba menjawab permasalahan ini melalui penafsirannya atas dekonstruksi Jacques Derrida. Caputo menganggap filsafat ketuhanan dapat hidup tanpa mengandalkan metafisika. Menanggapi kritik tersebut Caputo menganggap Allah sebagai problema dan panggilan (insistensi). Ia mengubah konsep logos yang bersifat metafisis (doktrin ketat) menjadi konsep poetics yang bersifat dekonstruktif (narasi, perumpamaan, dan paradoks). Filsafat Ketuhanan bukan lagi theology metafisis melainkan sebuah theopoetics dekonstruktif.
Work Sucks, I Know: Herbert Marcuse Mengenai Pekerjaan Sebagai Represi Manusia Aldrich Anthonio
Dekonstruksi Vol. 6 No. 01 (2022): Jurnal Dekonstruksi
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.279 KB) | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v6i01.88

Abstract

Peradaban dan pekerjaan bagi Herbert Marcuse adalah sebuah represi terhadap kehidupan manusia. Berangkat dari pemahaman Freud, terdapat dua tingkatan represi: ontogenetik dan filogenetik. Represi ontogenetik adalah represi individu berdasarkan struktur ego, superego, dan id; sedangkan represi filogenetik adalah represi masyarakat yang dimulai dari kondisi alamiahnya pada kelompok primal. Dalam kedua tingkatan tersebut prinsip kenikmatan (berkaitan dengan pemuasan hasrat) dikalahkan oleh prinsip realitas (ingin mempertahankan hidup di dunia). Namun dalam sistem kapitalisme muncul penindasan lanjutan melalui represi-berlebih (surplus-repression) dan prinsip prestasi (performance principle). Sebagai jalan keluar dari kondisi ini Marcuse merasa perlunya perubahan kesadaran manusia melalui bidang estetika, yaitu seni, yang dianggapnya tidak pernah berada dalam dominasi prinsip prestasi. Menurutnya pekerjaan dan peradaban masih mungkin terjadi tanpa penindasan, dan pekerjaan bisa menjadi bukan cara mempertahankan hidup melainkan sebagai cara mengekspresikan diri.