Iswandi Iswandi
Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERKEMBANGAN KESENIAN KUDA KEPANG DI SAWAHLUNTO MINANGKABAU Iswandi Iswandi
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 14, No 2 (2012): Ekspresi Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.567 KB) | DOI: 10.26887/ekse.v14i2.197

Abstract

Artikel ini membahas tentang perkembangan dan keberadaan kesenian Kuda Kepang di Kota Sawahlunto. Kuda Kepang merupakan kesenian tradisional yang ada awalnya dibawa oleh etnis perantau Jawa dan sampai saat ini berkembang di Kota Sawahlunto yang multi-etnis. Sebagai suatu unsur kebudayaan, kesenian tradisional Kuda Kepang dapat bertahan hidup bahkan berkembang secara pesat dengan dukungan dari pihak pemerintah dan masyarakat pendukungnya. Kesenian tradisional ini juga berkembang menuju ke arah seni pertunjukan yang lebih mempunyai nilai-nilai performan. Saat ini Kuda Kepang sudah diterima di tengah masyarakat Kota Sawahlunto yang bisa dilihat dari dukungan berbagai lapisan masyarakat dalam bentuk materi maupun moril. Kesenian tradisional Kuda Kepang telah menjadi milik mereka dan memiliki posisi yang sama dengan kesenian tradisional lainnya
PERANCANGAN PERTUNJUKAN OPERA MINANGKABAU MALIN NAN KONDANG SEBAGAI ALIH WAHANA KABA MALIN KUNDANG EDY SUISNO; ISWANDI ISWANDI; R.M PRAMUTOMO; LILI SUPARLI; NOVESAR JAMARUN
Dance and Theatre Review: Jurnal Tari, Teater, dan Wayang Vol 4, No 1: May 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dtr.v4i1.4373

Abstract

Perancangan Pertunjukan Opera Minangkabau Malin Nan Kondang sebagai Alih Wahana KabaMalin Kundangadalah proses penciptaan pertunjukan Opera Minangkabau yang bertitik tolak dari penafsiran ulang kaba Malin Kundang. Proses penciptaan pertunjukan Opera Minangkabau tersebut, diawali dari sebuah riset terhadap berbagai penafsiran atas kaba Malin Kundang sebagai titik tolak terbentuknya penafsiran baru atas kaba tersebut..Penafsiran baru tersebut kemudian dikreasi untuk menghasilkan bentuk lakon baru, yang kemudian diberi judul Malin Nan kondang.Lakon baru inilah yang menjadi pijakan dalam perancangan pemanggungan (spektakel) yang mencirikan sebuah pertunjukan Opera Minangkabau.Penuangan tersebut merupakan bentuk perancangan yang dimulai dari analisis lakon, pembuatan adegan demi adegan dan penempatan aspek pendukung opera yang meliputi gerak, dendang dan penghayatan seni peran. Aksentuasi opera diwujudkan dengan penggunakan ragam seni tradisi Minangkabau bagi kebutuhan perancangan Opera Minangkabau secara keseluruhan. Aksentuasi itu meliputi dialog dengan dendang, penggunaan koreografi dan paduan suara dan dialog yang berbentuk puisi.Kata kunci : Kaba Malin Kundang; Lakon Malin Nan Kondang; Opera Minangkabau