Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

PARABOLIC DRAMA: PENYANGKALAN TEORETIK TERHADAP TEATER ABSURD Susandro Susandro; Afrizal H; Saaduddin Saaduddin; Edy Suisno
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 1 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i1.1342

Abstract

ABSTRACTSamuel Beckett's Waiting for Godot is one of the dramas that Martin Esslin calls the Absurd Theater. Furthermore, For Esslin, Theater of the Absurd is not only a term but a theater theory to know conventions and understand the meaning of a drama. In this way, Esslin puts the Absurd Theater into the trajectory of the development of the world's theater arts style, as well as leading the reader or audience to a perception that the life or routine that humans live in is meaningless, pointless and futile. However, the Theater of the Absurd, in the view of Michael Y. Bennett, a term that is supported by unstructured and abstract concepts. Therefore, it is necessary to develop an alternative, a term which he calls Parabolic Drama. A more structured term in understanding Waiting for Godot and other dramas that contain parallel philosophical values. This article tries to explain the dialectic of the two theater theories above, the extent to which they can bind one drama and encompass another drama. ABSTRAKWaiting for Godot karya Samuel Beckett merupakan salah satu drama yang disebut dengan istilah Teater Absurd oleh Martin Esslin. Lebih jauh, Bagi Esslin, Teater Absurd tidak hanya suatu istilah melainkan teori teater untuk mengetahui konvensi serta memahami makna suatu drama. Dengan begitu, Esslin menempatkan Teater Absurd ke dalam lintasan perkembangan gaya seni teater dunia, sekaligus menggiring pembaca atau penonton pada suatu persepsi bahwa kehidupan atau rutinitas yang dijalani manusia tidaklah bermakna, tidak ada tujuan dan sia-sia. Namun, Teater Absurd, menurut pandangan Michael Y. Bennett, istilah yang didukung oleh konsep-konsep yang tidak terstruktur serta abstrak. Oleh karena itu, perlu dibangun suatu alternatif,istilah yang disebutnya dengan Parabolic Drama.Istilah yang lebih terstruktur dalam memahami Waiting for Godotserta drama lain yang mengandung nilai filosofis yang sejajar.Artikel ini mencoba memaparkandialektika kedua teoriteater di atas,sejauh mana keduanya dapat mengikat suatu drama dan melingkupi drama lainnya.                                                                                                                                    
Alih Wahana Lakon Malin Nan Kondang dalam Media Komik Edy Suisno; Novesar Jamarun; Navisha Yustitia
Dance and Theatre Review: Jurnal Tari, Teater, dan Wayang Vol 5, No 1: May 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1597.59 KB) | DOI: 10.24821/dtr.v5i1.7661

Abstract

Naskah lakon Malin Nan Kondang adalah karya drama sebagai hasil dari alih wahana folklor Sumatera Barat: Malin Kundang. Folklor Malin Kundang mengisahkan tentang pemuda Minangkabau bernama Malin yang sukses dalam perantauan tapi akhirnya durhaka pada ibu kandungnya. Folklor Malin Kundang tersebut dialih-wahanakan dalam karya Opera Minangkabau melalui re-interpretasi (tafsir ulang), yang berusaha menghadirkan tokoh Malin sebagai anak berbudi dan selalu berbakti pada orang tua. ‘Kedurhakaan’ dalam folklor Malin Kundang ditafsir kembali sebagai sikap kritis anak dalam menghadapi keinginan orang tua yang terkadang memaksakan kehendak, terlebih setelah pihak orang tua terimbas kesuksesan perantauan anak sebagai orang kaya baru. Secara substansial, capaian penikmat naskah lakon Malin Nan Kondang, yang telah ditampilkan dalam bentuk pertunjukan opera Minangkabau tersebut telah menjangkau kalangan seniman, mahasiswa seni, para kritikus teater dan kalangan pemerhati seni budaya tradisional. Namun, jangkauan itu masihlah dipandang belum mewakili khalayak luas. Maka dari itu, untuk memperluas target audience dalam bentuk pencapaian ke semua lapisan masyarakat, penggarapan alih media dalam bentuk komik akhirnya dirancang sebagai strategi untuk memperluas audience, terutama dalam memperluas segmen dari kalangan remaja. Pembuatan komik yang berpijak dari naskah Malin Nan Kondang tersebut juga dirancang untuk memanfaatkan teknologi online yang sangat berperan aktif dalam proses pengenalan ke semua lapisan masyarakat, terutama di kalangan remaja sebagai pengguna aktif teknologi digital. Kata kunci : Alih Wahana, Komik, Naskah Lakon Malin Nan Kondang
Naskah Lakon Siti Nurbaya (Wajah di Sebalik Punggung) sebagai Alih Wahana Roman Siti Nurbaya (Kasih tak Sampai) Karya Marah Rusli Suisno, Edy; Wenhendri, Wenhendri
Creativity And Research Theatre Journal Vol 5, No 1 (2023): Creativity And Research Theatre Journal (CARTJ)
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/cartj.v5i1.3714

Abstract

The creation of the play script Siti Nurbaya (Wajag di Sebalik Punggung) as a replacement for the romance Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) by Marah Rusli is an attempt to design a play script by turning the romance genre into a drama or play script. This design is the result of a new interpretation in terms of content and literary genre, namely a transfer of vehicles from the romance genre to the drama genre, which will later become the starting point in theatrical creativity. critical analysis of Siti Nurbaya's romance (Kasih Tak Sampai) so that a new structure for the play is formed, both from the characterizations, plot and setting of the story. The new structure resulting from the re-interpretation is then formatted in scene after scene and dialogue between characters, some of which are 'opposite' to what is stated and told in the novel Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai). The play script was later given the title Siti Nurbaya (Wajah di Sebalik PunggungAbstrakPenciptaan naskah lakon Siti Nurbaya (Wajah di Sebalik Punggung) sebagai alih wahana roman Siti Nurbaya (Kasih tak Sampai) karya Marah Rusli merupakan upaya untuk merancang naskah lakon dengan menjadikan genre roman untuk dikreasi ulang ke dalam genre drama atau naskah lakon. Perancangan ini merupakankan hasil dari sebeuah penafsiran baru secara isian (content) maupun secara genre satra, yakni sebuah alih wahana dari genre roman menuju genre drama, yang kelak merupakan titik pijak dalam kreativitas teater.Penciptaan atau perancangan drama (naskah lakon) tersebut diawali dengan melakukan analisis kritis terhadap roman Siti Nurbaya (Kasih tak Sampai) sehingga terbentuk struturisasi naskah lakon yang baru, baik yang tergambar dari penokohan, alur dan latar cerita. Struktur baru dari hasil tafsir ulang tersebut kemudian diformat dalam pengadegan demi pengadegan dan dialog antar tokoh yang di antaranya ‘berkebalikan’  dengan yang tertuang dan dituturkan dalam roman Siti Nurbaya (Kasih tak Sampai). Naskah lakon itu yang kemudian diberi judul Siti Nurbaya (Wajah di Sebalik Punggung)
The Application of Patriarchal Culture in the Scenes of the Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini Desti Rahmadhini; Rustim; Edy Suisno
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 3 No. 2 (2024): Vol. 3 No. 2 2024
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v3i2.428

Abstract

This research reveals the practice of patriarchal culture through narrative and cinematic character scenes in the film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, namely the character Narendra as a father who dominates women in domestic life. The purpose of this research is to find scenes of Narendra's character in dominating domestic life which is a representation of patriarchal culture. This research method uses a qualitative method with an interpretation approach to the patriarchal culture depicted by the director through narrative and cinematic aspects. Data collection techniques were carried out by observation, interviews and documentation. The results of this study show that the scenes built by the director through narrative and cinematic aspects show the practice of patriarchal culture and domination of women in domestic life. This research can contribute to how the director's experience of reading patriarchal culture and applying it in filmmakers' work practices in film language. Keywords: Patriarchy, Domination, Narrative, Cinematic.
PENCIPTAAN SKENARIO FILM FIKSI THE BLUE MOON KILLER MENGGUNAKAN PLOT TWIST ANAGNORISIS Meysyaputri, Chairunnisa; Suisno, Edy
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i1.250

Abstract

Skenario The Blue Moon Killer lahir dari keresahan terhadap isu pembunuhan yang dipicu oleh dendam, yang menyoroti pentingnya pengelolaan emosi dengan cara yang sehat dan damai. Isu ini kemudian diolah menjadi sebuah cerita drama misteri yang intens dan penuh intrik. Melalui skenario ini, penulis bertujuan untuk menggambarkan dampak negatif dari tindakan balas dendam serta menyajikan kisah yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan nilai edukatif bagi berbagai kalangan. Penuturan cerita dalam skenario ini menggunakan teknik plot twist anagnorisis, yang merupakan plot twist di mana karakter utama atau penonton menyadari kebenaran tersembunyi yang mengubah keseluruhan pemahaman terhadap cerita. Plot twist ini hadir pada adegan kunci, yaitu di scene 51, 74, dan 77, ketika karakter protagonis akhirnya menyadari bahwa dalang di balik serangkaian pembunuhan adalah seseorang yang sangat dekat dengan mereka.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan plot twist anagnorisis mampu memberikan dampak emosional yang mendalam pada penonton, serta meningkatkan kualitas narasi dalam skenario film. Selain itu, isu balas dendam yang diangkat memberikan kedalaman psikologis pada karakter dan relevansi sosial yang kuat.
MISE EN SCENE UNTUK MENCIPTAKAN GAMBAR METAFORA DALAM FILM FIKSI FEMENINE Situngkir, Rivaldo Cristenseen; Pradhono, Choiru; Suisno, Edy
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i1.266

Abstract

Film fiksi Femenine mengisahkan tentang seorang pria bersifat femininbernama Dendi. Tokoh Dendi yang mengalami pemahaman seksual, streotipdanmaskulinitas oleh lingkungan. Maraknya kasus ini menjadi tema besar dalampembuatan film Femenine . Film ini menggunakan konsep penerapan Mise EnScene untuk menciptakan Visual Metaphor pada film Femenine . Tujuan dari penciptaan karya ini adalah dengan mengahadirkan elemen Mise en scene padafilm untuk menghadirkan Visual Metaphor, sehingga penonton dapat mengonseptualkan ke suatu hal atau kejadian. Film Femenine ini tidak hanyamenampilkan pesan verbal (dialog dan ekspresi pemain) tetapi jugamenampilkan pesan non verbal dari setting, acting, lighting, dan Wandrobe, yangmendukung terciptanya film ini. Sedangkan di dalam film terdapat aspek-aspek yangmembentuk sebuah film, diantaranya sentuhan pada aspek Mise en scene mampuuntuk mengonstruksi pemahaman penonton pada sebuah filmyang tidak hanyamendapat informasi namun juga dapat membangun aspek emosi.
PENERAPAN THREE ACT STRUCTURE PADA PENCIPTAAN SKENARIO KEMBALI KE TITIK NOL Muhammad Farhan Aulia; Suisno, Edy; Fitri, Dynia
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i1.269

Abstract

Pertanggung jawaban dari skenario film Kembali ke Titik Nol bertujuan untuk menyampaikan kepada para pembaca skenario tentang kesejahteraan gaji guru honorer yang sangat memprihatinkan. Sehingga para pembaca dapat memahami seberapa memprihatinkan nasib guru honorer di Indonesia. Skenario Kembali ke Titik Nol bercerita tentang perjuangan seorang guru honorer yang memiliki keinginan untuk membeli rumah KPR subsidi karena diusir oleh juragan yang punya kontrakan akan tetapi memiliki kesulitan untuk membayar DP rumah dalam waktu singkat tersebut yang membuatnya terpaksa harus menjadi kurir ganja. Tujuan terciptanya karya ini untuk menciptakan skenario dengan membagi cerita dalam tiga pembabakan, sehingga membuat cerita tidak berbelit-belit. Penciptaan skenario Kembali ke Titik Nol untuk menerapkan teori Three Act Structure yang dimana berfungsi membagi cerita dalam tiga pembabakan Set-up, Konfrontasi, Resolusi yang berfungsi agar membuat alur cerita tidak berbelit-belit dengan mengangkat tema kesejahteraan gaji guru honorer, menghasilkan skenario yang menarik untuk diproduksi.
MINUMAN TRADISIONAL TUAK DALAM PENCIPTAAN FILM DOKUMENTER EXPOSITORY TUAK Septian, Farell; Sasongko, Hery; Suisno, Edy
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i1.270

Abstract

Film tuak merupakan film dokumenter berdurasi 15 menit yangmenceritakan seputar minuman tuak, dari segi pembuatan, kandungan hinggahukum yang mengatur tentang minuman tuak itu sendiri.Penulis yang juga sebagaifilmmaker membuat film dokumenter dengan pendekatan exspository, dan jugavoice over sebagai penutur cerita agar informasi dapat dipahami dengan mudah olehpenonton. Film dokumenter ini memakai teori Bill Nichols sebagai pendukungdalam karya film dokumenter ini .Film ini bertujuan untuk jadi pemahaman tentangminuman tradisional tuak,baik itu darisisi manfaat dan negatifnya.Film dokumenterini jadi media edukasi pemahaman tentang konsumsi minuman tuak,dan jugakeputusan untuk mengkomsumsinya adalah keputusan pribadi.
VISUALISASI PENGARUH NARKOBA DENGAN PENERAPAN SUBJECTIVE SHOT PADA FILM FIKSI DEEPA Dwianto, Robby; Suisno, Edy
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i1.320

Abstract

Film merupakan media komunikasi visual yang efektif dalam menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat. Skripsi ini membahas penciptaan film fiksi Deepa sebagai bentuk visualisasi pengaruh narkoba dengan menerapkan teknik pengambilan gambar subjective shot. Konsep subjective shot dipilih untuk membangun kedekatan emosional antara karakter dan penonton, di mana kamera bertindak sebagai mata subjek untuk memperlihatkan sensasi dan pengalaman karakter secara langsung. Dalam proses produksi, pengkarya menggunakan kombinasi camera movement, handheld, camera shaking, serta variasi angle seperti eye level, low angle, dan dutch angle guna memperkuat nuansa halusinasi dan ketidakstabilan akibat pengaruh narkoba. Film Deepa menceritakan perjuangan seorang pecandu narkoba yang ingin berhenti, namun justru menyeret temannya ke dalam kecanduan yang berujung pada tragedi. Hasil akhir menunjukkan bahwa penggunaan subjective shot berhasil menciptakan pengalaman visual yang intens dan mampu menyampaikan efek destruktif narkoba secara emosional kepada penonton. Karya ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam penciptaan film bertema sosial dengan pendekatan visual yang imersif dan edukatif.
Tinjauan Kritis Perwujudan Mise en Scene dalam Film Budi Pekerti Sutradara Wregas Bhanuteja Suisno, Edy; Wenhendri, Wenhendri
Jurnal Cerano Seni : Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan Vol 3 No 01 (2024): Jurnal Cerano Seni | Pengkajian dan Penciptaan Seni Pertunjukan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jcs.v3i01.35295

Abstract

Tinjauan kritis terhadap aspek mise en scene dalam film Budi Pekerti arahan sutradara Wregas Bhanuteja merupakan uraian yang berisi kritik terhadap aspek-aspek di luar aspek sinematografis, yang meliputi aspek seni peran atau akting, pengemasan tata artistik dan unsur pencahyaan. Telaah kritis tersebut dinilai berdasarkan resepsi dan interpretasi penulis yang dikaitkan dengan beberapa teori mise en scene, yang berisi batasan dan indikasi-indikasi tentang bagaimana aspek mise en scene diwujudkan secara maksimal dalam sebuah film. Tulisan ini diawali dengan kajian tentang pentingnya optimalisasi mise en scene dalam film sekaligus menelaah relasi antara mise en scene dalam sebuah kreativitas pembuatan film. Kajian tersebut ditindaklanjuti dengan pemaparan seputar cerita dan konflik yang ditegaskan dalam film dari scene awal hingga scene yang terakhir. Pada akhirnya, tulisan ini mengurai secara kritis atas tampilan unsur-unsur mise en scene secara keseluruhan, yang meliputi seni peran dan pangadeganan, tata artistik dan tata lampu.