Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PARADIGMA FAKTA SOSIAL DALAM FILM FETIH 1453, KAJIAN STUKTURAL FUNGSIONAL ANDRI MAIJAR; SITI FADILLA; NOVI BUDIMAN
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 23, No 2 (2021): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.382 KB) | DOI: 10.26887/ekspresi.v23i2.1624

Abstract

ABSTRAKFilm sebagai karya seni tentu tidak terlepas dari paradigma masyarakat dalam membaca sebuah fenomona baru dalam film (realitas film).  Film Fetih 1453 yang bercerita tentang peperangan umat muslim untuk merobohkan dan mengambil alih konstatinopel (Spanyol) dari tangan non muslim ini dapat dikaji melalui paradigma fakta sosial dengan memasukan aspek-aspek teori sturktural fungsional dan teori konflik. Kelompok-kelompok masyarakat yang hadir dalam film tersebut juga merefleksikan konflik sosial yang terjadi pada masa kejadian dalam film tersebut. Beberapa konflik sosial seperti pandangan masyarakat dan kekuasaan menjadi poin-poin penting untuk menciptakan dramatik dalam film tersebut. Sebagai fungsi film sebagai sarana komunikasi dan representasi dari kehidupan masyarakat, film ini dianggap cukup berhasil dalam menghadirkan realitas tersebut. Film-film bernuansa religi ini juga menjadi bahan kajian dan dakwah bagi umat muslim untuk melihat kekuatan umat islam di zaman tersebut. ABSTRACTFilm as a work of art indeed cannot be separated from the paradigm of society in reading a new phenomenon in film (film reality). The film Fetih 1453, which tells about the war of Muslims to overthrow and take over Constantinople (Spain) from the hands of non-Muslims, can be studied through the paradigm of social facts by incorporating aspects of functional, structural theory, and conflict theory. The community groups present in the film also reflect the social conflicts that occurred during the events in the film. Several social conflicts, such as people's views and power, become essential points to create drama in the film. As a function of film as a means of communication and representation of people's lives, this film is considered quite successful in presenting this reality. These films with religious nuances are also material for study and da'wah for Muslims to see the strength of Muslims at that time 
ETIKA KOMUNIKASI VERBAL DALAM FILM SERIGALA TERAKHIR FULL MOVIE KARYA UPI AVIANTO Anugrah Ramadhana; Siti Fadilla
KINEMA: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Vol. 2 No. 1 (2023): KINEMA: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran
Publisher : Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31958/kinema.v2i1.9314

Abstract

Penelitian ini di latar belakangi oleh Etika Komunikasi Verbal dalam Film Serigala Terakhir Karya Upi Avianto yang lebih berfokus kepada adegan-adegan yang menampilkan komunikasi verbal yang negatif yang menjadi pemicu film Serigala Terakhir layak untuk diteliti kerena secara teori penonton dikalangan remaja dan anak-anak cenderung mengimitasi (teori pembelajaran sosial). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian literatur. Jenis penelitian ini dilihat dari sumber data utama yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah. Untuk penelitian literatur (Archieval Research) menggunakan sumber berupa teks, dokumen, atau arsip yang digunakan sebagai sumber utama penelitian. Dokumentasi yang digunakan berupa laptop, film, pena, buku, dan lain-lainnya yang mendukung didalam penelitian tersebut. Penggunaan analisis isi pada penelitian kualitatif ini, tidak jauh berbeda dengan pendekatan lainnya. Awalnya harus ada objek komunikasi yang dapat dilihat permasalahannya agar peneliti dapat merumuskan dengan tepat apa yang akan diteliti dan harus sesuai dan didasarkan dengan tujuan yang sudah ditentukan. Selanjutnya memilih unit analisis yang akan dikaji, dan memilih objek penelitian yang akan menjadi sasaran analisis. Dapat disimpulkan bahwa didalam menonton film serigala terakhir sebaiknya dilihat apakah film tersebut layak untuk di tonton atau tidak karena kebanyakkan yang menonton di dikalangan anak-anak. Karena bijak menonton sangat perlu untuk diperlihatkan dengan baik.
Ekonomi Hijau dan Prinsip Syariah: Bagaimana Media Mengkomunikasikan Keberlanjutan dalam Islam Muhammad Deni Putra; Siti Fadilla; Dailani Ismail; Muhammad Lutfi; Akhmad Rofiki
BAITUL MAAL : Journal of Sharia Economics Vol. 1 No. 3 (2024): September - Desember
Publisher : Yayasan Lembaga Studi Manarul Ilmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi peran media dalam mengkomunikasikan hubungan antara ekonomi hijau dan prinsip syariah, dengan fokus pada keberlanjutan dalam konteks Islam. Dengan mengedepankan konsep Khilafah, yang menekankan tanggung jawab umat Muslim terhadap lingkungan, media berperan penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang keselarasan antara nilai-nilai Islam dan praktik ekonomi berkelanjutan, seperti sukuk hijau yang mendanai proyek ramah lingkungan. Selain itu, artikel ini mengidentifikasi tantangan yang dihadapi komunitas Muslim dalam mengadopsi praktik hijau, termasuk peningkatan emisi CO2. Media dapat menjadi platform untuk mendiskusikan tantangan ini dan mendorong advokasi kebijakan yang mendukung keberlanjutan. Peran filantropi Islam, melalui zakat dan waqf, juga ditekankan sebagai kontribusi penting dalam mendukung inisiatif lingkungan. Lebih jauh, artikel ini menyoroti pentingnya pendidikan lingkungan dalam lembaga pendidikan Islam dan bagaimana media dapat mempromosikan program-program ini untuk memberdayakan generasi muda. Dengan komunikasi yang efektif, media dapat mendorong keterlibatan aktif komunitas Muslim dalam inisiatif keberlanjutan, mengintegrasikan prinsip syariah dalam ekonomi hijau. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa media adalah kunci dalam membangun pemahaman yang lebih dalam mengenai ekonomi hijau dan prinsip syariah, serta mendorong komitmen kolektif untuk mencapai keberlanjutan.