Titiek Yulianti
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Soil Amendments with Organic Matter for The Control of Hollow Stalk (Pectobacterium carotovorum subsp. carotovorum) of Besuki Cigar Tobacco Yulianti, Titiek; Hidayah, Nurul
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 33, No 2 (2011)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya and Indonesian Agronomic Assossiation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Amendments of soil with organic matter have been known to provide control of soilborne pathogens and to improve soil properties as well. Four sources organic matter, viz: rice straw, neem cake, chicken, and cow manure were amended one month prior to planting in soil naturally infested by Pectobacterium carotovorum subsp. carotovorum, the causal agent of hollow stalk of tobacco. Soil without added organic matter served as control and seedlings treated with streptomycin sulphate was used as a comparison. This treatment was combined with one of two sources of fertilizer N viz:, urea, and CaNO3. The field experiment was conducted in North Jember arranged in randomized blocked factorial with three replicates. The chicken manure amendment gave the best control of hollow stalk with lowest disease severity (12.03%) compared to other organic matter treatments or even control (31.31%). Chicken manure also improved plant height, yield, and the quality of flue cured tobacco. All organic matter treatments increased soil microbial populations of fungi, bacteria, and actinomycetes. This may be related to the suppression of the pathogen and the consequent reduction of disease severity. Treatment of soil with urea or CaNO3 showed no effect on disease severity or growth or quality of tobacco. Keywords : organic matter amendments, hollow stalk, Pectobacterium carotovorum subsp. carotovorum
Tingkat Ketahanan 70 aksesi Plasma Nutfah Kenaf terhadap Fusarium oxysporum Schletch . Supriyono; Titiek Yulianti
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 8, No 2 (2016): Oktober 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v8n2.2016.65-73

Abstract

Salah satu penyakit penting yang sangat merugikan tanaman kenaf adalah penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum Schlecht. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi tingkat ketahanan aksesi kenaf terhadap jamur Fusarium oxysporum. Penelitian dilakukan di laboratorium dan rumah kasa Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Malang menggunakan rancangan acak lengkap) yang diulang tiga kali. Dalam evaluasi ini digunakan 70 aksesi dan 1 aksesi tahan (BG-52-135) yang digunakan sebagai kontrol. Inokulasi dilakukan pada 7 hari setelah tanam (HST) menggunakan suspensi spora dengan kerapatan105/ml sebanyak 100 ml setiap bak. Pengamatan intensitas serangan dilakukan mulai 10–40 hari setelah inokulasi (HSI) dengan interval pengamatan lima hari. Pengamatan persentase diskolorisasi batang dilakukan sekali pada 50 HSI. Hasil pengujian memperoleh 1 aksesi (FJ/017) sangat tahan dengan intensitas serangan terrendah (0,83%) dan 14 aksesi tahan dengan intensitas serangan <10%, 28 aksesi dengan ketahanan moderat, dan 27 aksesi yang rentan terhadap infeksi F. oxysporum. Aksesisi FJ/017 (aksesi yang sangat tahan) dan 14 aksesi yang tahan: 1064(SUC/012), 1061(SRB/082), 1035(FJ/005), 839(PARC/2709), 955(FJ/003), 842(PARC/2712), 1095(SUC/003), 838(PARC/2708), 957(FJ/ 007), 1065(SUC/023), 1042(CHN/056), 145(BL/118), 1036(FJ/006), dan 778(PARC/2466) dapat digunakan sebagai sumber ketahanan pada perakitan varietas baru. One of the important disease that very detrimental to kenaf is Fusarium wilt caused by Fusarium oxysporum Schlecht. The purpose of this study was to evaluate the response of 70 kenaf germplasms accessions against F. oxysporum. The study was conducted at the Phytopatology Laboratory and screen house of Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute, Malang using completely randomized design with three replicates.  Seventy accessions and one resistant accession as control (1267 (BG-52-135) were used in this study.  Inoculation of Fusarium was done 7 days after sowing (das) by sprinkling 100 ml of spore suspension into the soil.  Observation of disease intensity started at 10–40 days after inoculation (dai) and repeated every five days.  Percentage of stalk discolorization was estimated at 50 dai.  The results showed that accession 1040 (FJ/017) had the lowest disease intensity (0.83%), hence was categorized as a highly resitant accession. Fourteen accessions were categorized as resistant with disease intensity below or equal to 10%; 28 accessions were moderate resistant; and 27 accessions were susceptible.  FJ/017 (the highset resistant accession) and 14 resis-tant accessions (1064(SUC/012), 1061(SRB/082), 1035(FJ/005), 839(PARC/2709), 955(FJ/003), 842(PARC/ 2712), 1095(SUC/003), 838PARC/2708), 957(FJ/007), 1065(SUC/023), 1042(CHN/056), 145(BL/118), 1036 (FJ/006), dan 778(PARC/2466)) could be used as resistant  genetic sources  in developing new varieties.
Biofumigan untuk Pengendalian Patogen Tular Tanah Penyebab Penyakit Tanaman yang Ramah Lingkungan TITIEK YULIANTI; SUPRIADI SUPRIADI
Perspektif Vol 7, No 1 (2008): Juni 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n1.2008.%p

Abstract

ABSTRAKMetil  bromida  adalah  pestisida  berspektrum  luas untuk   mengendalikan   serangga,   nematoda,   dan patogen,   baik   dalam   tanah   maupun   di   gudang. Senyawa ini sudah dilarang penggunaannya di dunia berdasarkan  kesepakatan  Montreal  Protocol  tahun 2000, bahkan harus dimusnahkan di seluruh dunia pada tahun 2015.  Di beberapa negara maju sudah gencar dilakukan penelitian untuk mencari senyawa biofumigan sebagai alternatif pengganti metil bromida. Tulisan ini menguraikan salah satu sumber biofumigan  yang  cukup  prospektif  dan  cukup  banyak  diteliti, yaitu, glukosinolat (GSL), termasuk beberapa aspek berkaitan dengan biosintesis dan hidrolisis senyawa tersebut dan produk yang dihasilkan, sumber tanaman penghasil   GSL,   pengaruh   biofumigan   terhadap patogen tular tanah dan mikroorganisme lainnya, serta prospek  dan  kendala  pemanfaatan  biofumigan  di Indonesia.  GSL  berasal  dari  tanaman  famili  kubis-kubisan (Brassicaceae).  Ada sekitar 350 genera dan 2500   spesies   famili   Brassicaceae   yang   diketahui mengandung senyawa GSL. GSL merupakan senyawa yang   mengandung   nitrogen   dan   belerang   hasil metabolit sekunder tanaman.  GSL akan dihidrolisis apabila   terjadi   kontak   dengan   enzim   mirosinase, biasanya melalui pelukaan jaringan tanaman.  Hasil hidrolisis adalah beberapa senyawa, baik yang bersifat volatil maupun tidak, misalnya isotiosianat (ITS), ion tiosianat (SCN-),  nitril,  epitionitril,  indolil  alkohol, amin, sianid organik dan oksazolidinetion. Senyawa yang dihasilkan dari proses hidrolisis tergantung pada suhu, pH, dan jenis tanah.  Meskipun sudah banyak bukti  bahwa  senyawa  ITS  mampu  mengendalikan patogen-patogen    tular    tanah,    namun    untuk penerapannya  di  Indonesia  masih  perlu  penelitian supaya diperoleh hasil yang efektif, seperti eksplorasi jenis-jenis Brassicaceae    lokal    sebagai    sumber biofumigan, teknik aplikasi di lapangan (pola tanam, rotasi, tumpangsari,  tanaman penutup tanah), dan faktor-faktor   abiotik   yang   berpengaruh   terhadap biosintesis maupun hidrolisis GSL di dalam tanah.Kata   kunci:   Brassicaceae,   biofumigan,   hidrolisis, sumber   tanaman,   prospek   pengem-bangan di Indonesia ABSTRACTBiofumigant as an environmentally friendly method to control soilborne plant pathogensMethyl bromide (MBr) is a broad spectrum pesticide used to control insects, nematodes, and pathogens both in soils and storages.  Under the Montreal Protocol 2000, MBr has been banned excempted for critical use and it is scheduled to be eliminated completely as of 2015. Several  developed  countries  are  intensively seeking for biofumigants as an alternative substances to substitute MBr. This paper discuses glucosinolate (GSL),   one  of  the  most  prospective  biofumigant, including its biosynthesis, hydrolisis process and their products, effect on soilborne pathogen and other soil microorganisms, as well as its prospect and constrains of  the  development  of  biofumigant  in  agricultural system in Indonesia.  There are about 350 genus and 2500 spesies of Brassicaceae plants known to contain GSLs. The GSLs are secondary metabolites that contain sulfur, nitrogen and a group of glucose.  The GSL is only hydrolysed when it is contacted with myrosinase enzym in the presence of water, commonly occured when plant tissue is damaged.  Various hydrolysis products of volatile and non volatile compounds are known such as isothiocyanates (ITCs), ion thiocyanates (SCN-), nitrile, epithionitrile, indolyl alcohol, amine, organic   cyanide   and   oxazolidinethion.   Type   of hydrolised products depends on soil temperature, pH, and soil types.  Ample evidences support the use of ITCs to control soilborne pathogens and yet to obtain effective control in a large scale application, especially in Indonesia, needs more comprehensive studies, such as exploration of biofumigant sources from indigenous or local species of Brassicaceae, application methods (cropping  system,  rotation,  intercropping,  or  cover crop) and other abiotic factors affecting the hydrolysis process of GSL in soil.Keyword: Brassicaceae, biofumigant, hydrolisis, plant source, prospect, Indonesia.
Pengelolaan Patogen Tular Tanah Untuk Mengembalikan Kejayaan Tembakau Temanggung di Kabupaten Temanggung Titiek Yulianti
Perspektif Vol 8, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v8n1.2009.%p

Abstract

ABSTRAKTembakau   Temanggung   mempunyai   aroma   khas senyawa  nikotin  dan  digunakan  sebagai  campuran rokok  kretek.    Penanaman  tembakau  Temanggung telah dilakukan secara intensif selama bertahun-tahun oleh   sebagian   petani   tembakau   di   lereng-lereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, Kabupaten Temanggung.   Kondisi   ini   telah   menyebabkan kerusakan lahan dan akumulasi patogen tular tanah, seperti  Ralstonia  solanacearum  dan  Meloidogyne  spp., yang   telah   mengakibatkan   kematian   pertanaman tembakau cukup tinggi, serta menurunkan produksi dan mutu tembakau.  Selama 10 tahun terakhir, luas lahan pertanaman tembakau Temanggung menurun sampai 50%, dari sekitar 20.284 ha pada tahun 1996 menjadi 9.326 ha pada tahun 2006. Namun, petani setempat tetap saja menanam tembakau karena harga tembakau temanggung masih cukup tinggi. Makalah ini membahas keterkaitan antara pengelolaan tanaman tembakau  Temanggung  oleh  petani  dengan  tingkat kerusakan    lingkungan    dan    kerugian    tanaman tembakau. Untuk mengembalikan kejayaan Kabupaten Temanggung   sebagai   penghasil   utama   tembakau Temanggung. Strategi yang perlu dilakukan adalah penerapan teknologi pengelolaan pertanian berkelanjutan    berbasis    lingkungan    yang    telah dihasilkan   oleh   Balai   Peneltian   Tembakau   dan Tanaman Serat, seperti penanaman varietas tahan R. solanacearum dan Meloidogyne spp., konservasi lahan menggunakan tanaman pencegah erosi, rotasi tanaman dengan   jenis   tanaman   bukan   inang   patogen, pemupukan dengan bahan organik, dan pengelolaan agens hayati dalam tanah.  Diharapkan usaha-usaha tersebut akan meminimalkan kerusakan lingkungan sekaligus   meningkatkan   produksi   tembakau.   Di samping   itu,   keterlibatan   petani,   penyuluh,   dan pemerintah  daerah  setempat  secara  terus  menerus perlu  digalakan  untuk  mengoptimalkan  hasil  yang diharapkan.Kata kunci: Tembakau Temanggung, Lincat, degradasi lahan, Ralstonia solanacearum,  Meloidogyne, pengelolaan berkelanjutan, lingkungan ABSTRACTManagement of Soil-Born Diseases to Sustain the Greatness of Temanggung District as the Center Producer of Temanggung TobaccoTemanggung Tobacco has a unique nicotine flavour for cigarette blending. Continuous growing tobacco for many years on the slope of Sindoro and Sumbing Mounts has led to land degradation and accumulation of pathogens, i.e Ralstonia solanacearum and Meloidogyne spp.  Many tobacco plants suffered from wilt disease and died resulting in production and quality decreased which made significant income loss. In the last 10 years, tobacco areas in Temanggung decreased up to 50%, from 20,284 ha in 1996 to 9,326 ha in 2006. And yet, local farmers are continuing to grow tobacco plants because of its highly steady price. This paper discusses the   correlation   of   farmers   habits   during   tobacco cultivation and environmental degradation to sustain the Temanggung District as the centre producer of Temanggung tobacco. The study comments adoption of  ecologically  friendly  cultivation  technologies  as resulted by the Indonesian Tobacco and Fiber Research Institute   of   Malang,   including   land   conservation, planting tobacco resistant varieties to R. solanacearum and Meloidogyne spp., increase biodiversity through growing economic non host crops, organic fertilizers, and   management   of   soil   microbial   antagonists. Furthermore, farmer participation, agricultural services and  local  institutions  need  to  be  strengthening  to optimize expected results.Keywords:  Temanggung  tobacco,  land  degradation, Ralstonia               solanacearum,         Meloidogyne, sustainability management practices
Soil Amendments with Organic Matter for The Control of Hollow Stalk (Pectobacterium carotovorum subsp. carotovorum) of Besuki Cigar Tobacco Titiek Yulianti; Nurul Hidayah
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 33, No 2 (2011)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v33i2.63

Abstract

Amendments of soil with organic matter have been known to provide control of soilborne pathogens and to improve soil properties as well. Four sources organic matter, viz: rice straw, neem cake, chicken, and cow manure were amended one month prior to planting in soil naturally infested by Pectobacterium carotovorum subsp. carotovorum, the causal agent of hollow stalk of tobacco. Soil without added organic matter served as control and seedlings treated with streptomycin sulphate was used as a comparison. This treatment was combined with one of two sources of fertilizer N viz:, urea, and CaNO3. The field experiment was conducted in North Jember arranged in randomized blocked factorial with three replicates. The chicken manure amendment gave the best control of hollow stalk with lowest disease severity (12.03%) compared to other organic matter treatments or even control (31.31%). Chicken manure also improved plant height, yield, and the quality of flue cured tobacco. All organic matter treatments increased soil microbial populations of fungi, bacteria, and actinomycetes. This may be related to the suppression of the pathogen and the consequent reduction of disease severity. Treatment of soil with urea or CaNO3 showed no effect on disease severity or growth or quality of tobacco. Keywords : organic matter amendments, hollow stalk, Pectobacterium carotovorum subsp. carotovorum
Pengelolaan Patogen Tular Tanah Untuk Mengembalikan Kejayaan Tembakau Temanggung di Kabupaten Temanggung Titiek Yulianti
Perspektif Vol 8, No 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.771 KB) | DOI: 10.21082/p.v8n1.2009.%p

Abstract

ABSTRAKTembakau   Temanggung   mempunyai   aroma   khas senyawa  nikotin  dan  digunakan  sebagai  campuran rokok  kretek.    Penanaman  tembakau  Temanggung telah dilakukan secara intensif selama bertahun-tahun oleh   sebagian   petani   tembakau   di   lereng-lereng Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, Kabupaten Temanggung.   Kondisi   ini   telah   menyebabkan kerusakan lahan dan akumulasi patogen tular tanah, seperti  Ralstonia  solanacearum  dan  Meloidogyne  spp., yang   telah   mengakibatkan   kematian   pertanaman tembakau cukup tinggi, serta menurunkan produksi dan mutu tembakau.  Selama 10 tahun terakhir, luas lahan pertanaman tembakau Temanggung menurun sampai 50%, dari sekitar 20.284 ha pada tahun 1996 menjadi 9.326 ha pada tahun 2006. Namun, petani setempat tetap saja menanam tembakau karena harga tembakau temanggung masih cukup tinggi. Makalah ini membahas keterkaitan antara pengelolaan tanaman tembakau  Temanggung  oleh  petani  dengan  tingkat kerusakan    lingkungan    dan    kerugian    tanaman tembakau. Untuk mengembalikan kejayaan Kabupaten Temanggung   sebagai   penghasil   utama   tembakau Temanggung. Strategi yang perlu dilakukan adalah penerapan teknologi pengelolaan pertanian berkelanjutan    berbasis    lingkungan    yang    telah dihasilkan   oleh   Balai   Peneltian   Tembakau   dan Tanaman Serat, seperti penanaman varietas tahan R. solanacearum dan Meloidogyne spp., konservasi lahan menggunakan tanaman pencegah erosi, rotasi tanaman dengan   jenis   tanaman   bukan   inang   patogen, pemupukan dengan bahan organik, dan pengelolaan agens hayati dalam tanah.  Diharapkan usaha-usaha tersebut akan meminimalkan kerusakan lingkungan sekaligus   meningkatkan   produksi   tembakau.   Di samping   itu,   keterlibatan   petani,   penyuluh,   dan pemerintah  daerah  setempat  secara  terus  menerus perlu  digalakan  untuk  mengoptimalkan  hasil  yang diharapkan.Kata kunci: Tembakau Temanggung, Lincat, degradasi lahan, Ralstonia solanacearum,  Meloidogyne, pengelolaan berkelanjutan, lingkungan ABSTRACTManagement of Soil-Born Diseases to Sustain the Greatness of Temanggung District as the Center Producer of Temanggung TobaccoTemanggung Tobacco has a unique nicotine flavour for cigarette blending. Continuous growing tobacco for many years on the slope of Sindoro and Sumbing Mounts has led to land degradation and accumulation of pathogens, i.e Ralstonia solanacearum and Meloidogyne spp.  Many tobacco plants suffered from wilt disease and died resulting in production and quality decreased which made significant income loss. In the last 10 years, tobacco areas in Temanggung decreased up to 50%, from 20,284 ha in 1996 to 9,326 ha in 2006. And yet, local farmers are continuing to grow tobacco plants because of its highly steady price. This paper discusses the   correlation   of   farmers   habits   during   tobacco cultivation and environmental degradation to sustain the Temanggung District as the centre producer of Temanggung tobacco. The study comments adoption of  ecologically  friendly  cultivation  technologies  as resulted by the Indonesian Tobacco and Fiber Research Institute   of   Malang,   including   land   conservation, planting tobacco resistant varieties to R. solanacearum and Meloidogyne spp., increase biodiversity through growing economic non host crops, organic fertilizers, and   management   of   soil   microbial   antagonists. Furthermore, farmer participation, agricultural services and  local  institutions  need  to  be  strengthening  to optimize expected results.Keywords:  Temanggung  tobacco,  land  degradation, Ralstonia               solanacearum,         Meloidogyne, sustainability management practices