Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : AGRIEKONOMIKA

PRODUKSI DAN KEUNTUNGAN USAHATANI EMPAT VARIETAS BAWANG MERAH DI LUAR MUSIM (OFF-SEASON) DIKABUPATEN SERANG, BANTEN Resmayeti Purba
Agriekonomika Vol 3, No 1: April 2014
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v3i1.440

Abstract

ABSTRAKBawang merah di lahan sawah umumnya ditanam pada musim kemarau, karena pada musim hujan biasanya lahan sawah dipergunakan untuk pertanaman padi. Penanaman bawang merah di musim penghujan (off season) sering mengalami kerugian karena hasil dan keuntungan yang diperolehpetani  rendah. Untuk itu, perlu pemilihan  varietas yang dapat tumbuh pada musim penghujan. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui produksi dan keuntungan usahatani bawang merah di luar musim (offseason) menggunakanempat varietas, yaitu Katumi, Bima, Manjoung dan Bima Curut (lokal).Budidaya bawang merah dilaksanakan di lahan petani, di  Kabupaten, Serang, Banten pada musim hujan (Februari-April 2013). Empat varietas diuji  dalam suatu percobaan yang ditata sesuai dengan rancangan acak lengkap dengan 5 ulangan.Parameter yang diamati adalah tinggi tanaman jumlah daun, jumlah  umbi, produksi umbi dan keuntungan  usahatani bawang merah. Untuk mengetahui keuntungan usahatani bawang merah di luar musim digunakan rasio B/C. Hasil pengkajian menunjukkan bahwatinggi tanaman dan jumlah daun bawang merah di luar musim pada umur 42 HST secara berturut-turut  ialah varietas Katumi 36,82 cm dan 26,22 helai; varietas Bima  34,53 cm dan 20,04 helai; varietas Manjoung 32,61 cm dan 19,66helai, varietas Bima Curut (lokal) 29,51 cm dan 17,74 helai.Produksi  bawang merah secara berturut-turut ialah varietas Katumi, 7,27 ton/ha, varietas Bima 6,15 t/ha varietas  Manjoung5,85t/ha, dan Bima Curut (lokal) 5,40ton/ha. Keuntungan usahatani  bawang merah di luar musim secara berturut-turut diperoleh  varietas Katumi Rp. 64.480.000/ha dengan nilai B/C 1,24; varietas Bima sebesar Rp 47.480.000/ha   dengan nilai B/C 0,93,  varietas Manjoung Rp.42.680.000,-/ha dengan nilai B/C 0,78 dan varietas Bima Curut  (lokal) Rp. 36,480.000/hadengan rasio B/C 0,73.Data tinggi  tanaman, jumlah daun, produksi  dan keuntungan  usahatani bawang merah menunjukkan bahwa  varietas Katumi dapat digunakan sebagai alternatif  pada usahatani bawang merah di luar musim (off season),  Kabupaten Serang, Banten ABSTRACTShallot cultivation in paddy fields is generally planted the dry season, because the rainy season is usually used for wetland cultivation. Shallot cultivation in the rainy season often suffered looses as result of farmers and low profits. As the results, it needs the selection of varieties that can be grown in the rainy season. This study aims to determine the  product and benefits of shallot farming in the off-season using four varieties. Shallot cultivation carried out infarmers’fields, in Serang District Banten Province in the rainy season (February-April 2013). Four varieties were tested in a trial that lay out according to a completely randomized design with 5 replications. The parameters  measured were plant height and number of  leaves, number of tubers as well as the production and benefits of shallot farming. To know the benefits of shallot farming in the off-season use ratio B/C. The study showed that the plant height and number of leaves of shallot in the off-season at the age 42 in a row HST varieties was 36.82 cm and 26.22 strands Katumi, varieties Bima  34.53 cm and 20.04 strands, varieties Manjoung was 32.61 cm and 19.66 strands, varieties Bima Curut 29.51 cm and 17.74 strands. Production of  shallots in a row is Katumi varieties 7.27 t/ha,  Bima  varieties 6.15 t/ha, varieties Manjoung 5.85 t/ha and Bima Curut 5,40 ton/ha. Advantages of shallots farming in the the off-season in a varieties obtained Katumi Rp.  64.480.000/ha with the B/C ratio of 1.24; varieties Bima of  47.480.000 /ha with the ratio B/C of 0.93, varieties Manjoung Rp. 42.680.000/ha and the value of B/C 0.78 and varieties Bima Curut  of Rp.36.480.000/ha with a ratio B/C of 0.73.  Data of plant height, number of leaves, the production  and benefits of shallot farming Katumi showed that varieties can be used as an alternative to shallot farming in the off-season, Serang, Banten
KAJIAN PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK PADA USAHATANI PADI SAWAH DI SERANG BANTEN (STUDY OF ORGANIC FERTILIZER UTILIZATION ON PADDY FARMING AT SERANG DISTRICT, BANTEN) Resmayeti Purba
Agriekonomika Vol 4, No 1: April 2015
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v4i1.674

Abstract

ABSTRAKUntuk meningkatkan hasil padi sawah yang ramah lingkungan diperlukan upaya pengelolaan hara sumbedaya lahan secara efektif dari segi ekologi dan efisien dari segi ekonomi. Tujuan kajian adalah mengetahui hasil dan keuntungan usahatani padi sawah  dengan penggunaan pupuk organik  yang berbeda. Pengkajian dilakukan  di desa Pamengkang, Kec. Kramatwatu. Kab. Serang pada  bulan April-Juli 2013. Kajian  dilakukan  di lahan sawah irigasi milik petani dengan susunan perlakuan (1). Pupuk kandang, (2). Kompos jerami, (3). Pola petani, mengunakan varietas  Ciherang. Hasil kajian  menunjukkan bahwa perlakuan  kompos jerami    dapat meningkatkan hasil  GKP padi  700 kg/ha (10,2%) dibanding dengan  pupuk kandang  .dan 1.100 kg/ha  (17,1%).  dibanding dengan perlakuan  petani. Tingkat keuntungan yang diperoleh dengan  perlakuan  kompos jerami lebih tinggi Rp. 2.440.000 (17,1%)  dibanding pupuk kandang  dan Rp. 3.320.000 ((25,0%) dibanding dengan perlakuan pola petani. Untuk memenuhi kebutuhan  hara tanaman padi dapat dimanfaatkan sumber hara yang berasal jerami padi insitu  karena murah dan tersedia di tingkat petani. ABSTRACTIn order to increase agricultural production, it needs efforts to manage natural resources efectively and efficiently in terms of ecology and economies. The aims of this study were to know yield and profit on paddy rice farming by the use of different organic fertilizer. The study carried out in Pamengkang Kramatwatu village, Serang district Banten.  The study was started in April to July 2013 at irrigation rice field farm belongs to farmer with following treatment formation: (1). Manure, (2). Straw compost, (3). Farmer pattern, using Ciherang variety.  The study result showed that straw compost could increase GKP of paddy by 700 kg/ha (10,2%) compared to manure and 1.100 kg/ha (17.1%) compared to the pattern of farmers.  Benefits rate gained by straw compost was higher Rp.2.440.000/ (25.0%) compared to treatment of manure treatment and Rp. 3.320.000 (17.10.2%) compared to farmers pattern. In order to meet nutrient needs of rice plant, straw compost of in situ can be used because of cheap and available at the farm level