Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERANAN SAINS DALAM MENGENAL TUHAN Jidi, La
Tabligh Vol 14, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract; Kaum Muslim bersikap lebih kritis pada sains. Bahkan, ada percobaan menafsirkan sains dalam perspektif Islam karena pada prinsipnya, Islam menegaskan perlunya menfasirkan segenap aspek kehidupan selaras dengan keimanan. Dalam artian bahwa ilmu dan pengetahuan mempunyai pengertian yang berbeda secara mendasar. Pengetahuan dalam arti knowlegde adalah hasil daripada aktifitas mengetahui, yaitu tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa hingga tidak keraguan terhadapnya. Tujuan utama pendukung sains Islam adalah menegaskan bahwa Islam ataupun sains sama-sama bersandar pada sikap tertentu tentang rasionalitas. Jenis rasionalitas yang digunakan oleh sains melibatkan kepercayaan yang sama dengan yang ada pada agama. Pada saat tertentu, perlu ada pendekatan yang berbeda terhadap sains yang selaras dengan masyarakat sekitarnya. Karena itu, sains tidak lebih meyakinkan daripada agama. Keduanya sama-sama melibatkan keyakinan tertentu pada serangkaian asas yang tak berdalil. Orang bisa mengatakan bahwa sains tampaknya berhasil, tetapi demikian pula halnya dengan agama. pencarian para ilmuwan muslim terhadap fenomena alam disebabkan fakta bahwa mereka menganggap masalah sains ini merupakan salah satu cara terbaik untuk lebih dekat dengan Allah. Sains sebenarnya dapat mempertebal keyakinan dan keimanan. Namun demikian iman juga dapat digoyahkan oleh sains seandainya dicampuradukkan dengan pemahaman agama. Pengkaitan fenomena alam dengan ayat-ayat suci secara serampangan bisa jadi malah akan memberikan pemahaman yang salah. Bagi para agamawan yang kurang memahami sains, tindakan ini akan menyesatkan. Kata Kunci: Peranan, Ilmu, Pengetahuan Muslims to be more critical in science. In fact, there are experiments to interpret science in the Islamic perspective because, in principle, Islam stressed the need menfasirkan all aspects of life in harmony with faith. In the sense that science and knowledge have a fundamentally different understanding. Knowledge in the sense of knowlegde is the result rather than the activity to know, that the exposure of a reality to the soul to no doubt about it. The main purpose of science advocates assert that Islam is Islam or science are equally rests on a certain attitude about rationality. Type of rationality used by science involving the same beliefs as that of the religion. At some point, there needs to be a different approach to science that is in harmony with the surrounding community. Therefore, science is no more convincing than religion. Both involve a certain confidence in a series of principles that do not postulate. One could say that science seemed to work, but so does religion. Muslim scientists search for a natural phenomenon caused by the fact that they considered the issue of science is one of the best ways to get closer to God. Science can actually strengthen confidence and faith. However, faith can also be swayed by science if mixed with religious understanding. The linking natural phenomena with sacred verses at random may actually would give a wrong understanding. For the clergy who do not understand the science, this action would be misleading. Keywords: Role, Science, Know
Tren Pemahaman Remaja Milenial Desa terhadap Darah Haid dan Istihadhah di Tengah Era Digitalisasi Muhamad; Jusu, La; Jidi, La
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 23 No. 1 (2025): Jurnal Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/realita.v23i1.502

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana pemahaman remaja milenial di Desa Wasuamba Kecamatan Lasalimu Kabupaten Buton terhadap haid dan istihadhah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Sampel dalam penelitian ini yaitu remaja perempuan di desa wasuamba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para remaja di desa tersebut umumnya sudah memahami konsep dasar haid. Namun, pemahaman tentang perbedaan haid dan istihadhah masih belum merata. Beberapa remaja sudah mengetahui, tetapi banyak yang belum karena tidak terbiasa mencatat siklus haid dan tidak diajarkan oleh orang tua maupun guru di sekolah. Meskipun remaja perempuan di Desa Wasumba memiliki akses yang relatif mudah terhadap teknologi digital, pemanfaatan teknologi tersebut untuk memperoleh pengetahuan mengenai darah haid masih sangat rendah. Ketersediaan akses teknologi saja tidak cukup untuk menjamin peningkatan pemahaman, melainkan diperlukan pendekatan edukasi yang kontekstual dan sensitif terhadap norma budaya setempat dari berbagai pihak baik masyarakat maupun pemerintah atau lainnya.
Tren Pemahaman Remaja Milenial Desa terhadap Darah Haid dan Istihadhah di Tengah Era Digitalisasi Muhamad; Jusu, La; Jidi, La
Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam Vol. 23 No. 1 (2025): Jurnal Realita: Jurnal Penelitian dan Kebudayaan Islam
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/realita.v23i1.502

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana pemahaman remaja milenial di Desa Wasuamba Kecamatan Lasalimu Kabupaten Buton terhadap haid dan istihadhah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Sampel dalam penelitian ini yaitu remaja perempuan di desa wasuamba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para remaja di desa tersebut umumnya sudah memahami konsep dasar haid. Namun, pemahaman tentang perbedaan haid dan istihadhah masih belum merata. Beberapa remaja sudah mengetahui, tetapi banyak yang belum karena tidak terbiasa mencatat siklus haid dan tidak diajarkan oleh orang tua maupun guru di sekolah. Meskipun remaja perempuan di Desa Wasumba memiliki akses yang relatif mudah terhadap teknologi digital, pemanfaatan teknologi tersebut untuk memperoleh pengetahuan mengenai darah haid masih sangat rendah. Ketersediaan akses teknologi saja tidak cukup untuk menjamin peningkatan pemahaman, melainkan diperlukan pendekatan edukasi yang kontekstual dan sensitif terhadap norma budaya setempat dari berbagai pihak baik masyarakat maupun pemerintah atau lainnya.
Islamic Law Review of the Baruga Posambua Tradition in Bahari village South Buton Regency Purnamayanti, Irma; Jidi, La; Agustini, Sufiani Indra
AIQU: Journal Multidiscipliner of Science Vol. 2 No. 2 (2024): JUNE, AIQU: Journal Multidiscipliner of Science
Publisher : Institute Journal and Publication Muhammadiyah University of Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Baruga Posambua tradition is a tradition of the people of Bahari Village, South Buton Regency, which is held every three years in November, which is a must that must be carried out. The aim of this research is to find out the form of the ritual procession of the Baruga Posambua tradition in the people of Bahari Village, South Buton Regency and a review of Islamic Law. towards the Baruga Posambua tradition in the people of Bahari Village, South Buton Regency. The method in this research is descriptive qualitative using field research. Collecting data or information by referring to observation, documentation and interview guidelines. Furthermore, data analysis techniques are obtained in the form of field notes, photographs, interview transcripts and method of description, depiction or painting in a factual and accurate manner regarding the facts and phenomena being investigated. The results of research from the Islamic Law Review of the Baruga Posambua Tradition show that this tradition does not conflict with Islamic laws because it has the aim of being a form of gratitude to Allah SWT for the good fortune that has been given, as a form of friendship between communities, as a space for soul mates and a form of cultural preservation. in which there are no elements of polytheism.