Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KAJIAN HISTORIS PEMUKIMAN DI SEKITAR PANTAI MANADO Mawikere, F.R.; Wowor, Meity
Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi,Sosial,Budaya, dan Hukum) Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui proses yang terbentuk dan perkembangan kehidupan wilayah pesisir pantai kota Manado. Penelitian ini menggunakan metode sejarah kritis, pada akhirnya hasil penelitian ini menunjukkan beberapa proses pembangunan yaitu sebagai berikut: (1) Sebelum keberadaan kolonialisme pada akhir abad ke-21, awalnya wilayah Manado hanya desa kecil bernama Wenang, yang tidak berkembang. (2) Awalnya, kota Manado dibentuk oleh keberadaan kolonialisme Spanyol dan Belanda, bahwa pada abad ke-21 dapat membangun benteng di mulut sungai Tondano. (3) Lokasi Benteng (Amsterdam) yang sudah maju, akhirnya mengundang para imigran dari dalam dan luar Minahasa; para imigran dari China dan Arab umumnya suka pekerjaan yang santai dan berdagang, dari Minahasa umumnya bertani dan mereka yang berasal dari daerah dan pulau berorientasi ke laut sebagai nelayan. (4) Mereka yang memilih tinggal di pesisir pantai, yang pada umumnya berorientasi ke laut: mencari ikan, membuat garam, menggunakan jasa transportasi laut atau hidup dengan sumber daya laut. (5) Seiring dengan perkembangan benteng Amsterdam menjadi pusat pemerintahan, perdagangan dan pelayanan publik, sehingga tinggal di pesisir pantai menjadi berkembang ke Utara dan Selatan, pada saat yang sama infrastruktur kota dibangun ke arah yang sama (Utara-Selatan). (6) Sekarang, kebijakan pemerintah kota yang masih menjaga pembangunan sektor pemerintah, jasa, dan perdagangan misalnya, secara bertahap telah mempengaruhi orientasi hidup masyarakat pesisir pantai dari laut ke darat, dari masyarakat nelayan kepada masyarakat kota yang konsumtif.Kata kunci: pesisir pantai, pemukiman, kota Manado, populasi
Rampa Campur (Mixed Ingredients) in Nomenclature of Minahasan Culinary Ingredients as Food Security Pamantung, Rina P.; . Porong, Viekson J; Wowor, Meity; Monoarfa, Stanly; M. Lontoh, Irma
Indonesian Journal of Multidisciplinary Science Vol. 5 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Multidisciplinary Science
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/ijoms.v5i2.1206

Abstract

Food security is a priority program of President of R I. The government has allocated Rp118 trillion for food security programs in 2025, focusing on various initiatives to enhance food availability and access. Food security close related to the traditional food include Minahasan culinary and its ingredients (spicy). So the study focuses on the Rampa campur in Nomenclature of Minahasan ingredients. In the Minahasan community, the traditional food’s spices (ingredients) are uniquely differentiated based on the use of local languages in certain Minahasan regions. The problem is what are the lingual forms of the Rampa campur in Nomenclature of Minahasan ingredients as food security and its meaning. This research uses a descriptive qualitative method through a linguistics synchronic and gastronomic linguistic approach. The theory of syntax (Givon, 1984) and morphology are applied. The lingual forms of the Rampa campur in Nomenclature of Minahasan ingredients are words and phrases as results of research. Kekuru ‘kemangi’ ( Ocimum citriodonum)., and salimbata ‘serai’ (Cymbopogon Citratus) are words. Kekuru as raw material in woku and tinutuan. Sere is used in pangi, tinoransak, kotei, saut, and ayam woku isi di bulu . Furthermore, phrases consist of Lemong Cui ‘jeruk nipis’, is call lemong ikang (Citrus microcarpa), and Daong lemong ‘daun jeruk’ ( Lat citruss aurantifolia). Lemong cui is a basic ingredients in ikang bakar rica. While, Daun lemong is used in pangi, tinoransak, kotei, saut, dan ayam woku isi di bulu. The patterns are 1). Noun +noun; 2) and Noun + Adjective.