Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

CITRA PEREMPUAN BANTEN DALAM CERPEN RADAR BANTEN (The Image of Banten Women in The Short Story in Radar Banten Daily) Seha, Nur
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2012.v5i1.55-66

Abstract

Tulisan ini membahas citra perempuan Banten dalam cerpen yang dimuat di harian Radar Banten dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Budaya Banten melatarbelakangi para cerpenis dalam melukiskan perempuan Banten. Para penulis dapat memotret sebagian kehidupan para perempuan tersebut melalui tokoh-tokoh rekaan yang diciptakan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji citra perempuan Banten melalui deskripsi para cerpenis dalam harian Radar Banten. Sumber data utama berasal dari empat belas cerpen yang dimuat tahun 2006—2010. Setelah analisis data melalui teori feminisme, diketahui bahwa citra perempuan Banten dalam cerpen tersebut adalah perempuan sebagai sosok pemimpin pemerintahan, penulis, perempuan berkekuatan magis, pemegang norma, pekerja keras, penyabar, penyayang, perempuan yang agamis, dan perempuan metropolis.Abstract:This paper discusses the image of Banten women in short stories published in Radar Banten. It  uses a qualitative descriptive method. Banten’s  cultural background depicts women in Banten. The writers of short story can capture some of the women’s real life through fiction’s characters. The purpose of this study is to examine the image of women through the description of the short story’s writers in Radar Banten. The main data sources were taken from fourteen short stories published in 2006—2010. Having analyzed the data using feminism theory, it is found out that the image of women in short stories of Radar Banten is the figure of woman as government leader, writer, woman with magical power, obedient norm woman, hardworking woman, patient and caring woman, religious woman, and  metropolitan woman.
WAYANG GARING: FUNGSI DAN UPAYA MEREVITALISASI WAYANG KHAS BANTEN (Wayang Garing: The Function and The Revitalization Efforts of Bantenese Iconic Culture) Seha, Nur; Rivay, Ovi Soviaty
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 1 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i1.77-90

Abstract

Mayoritas masyarakat belum mengenal wayang garing Banten dengan baik. Dengan demikian, upaya pelestarian dan pemahaman tentang wayang khas Banten ini belum maksimal. Hal itu disebabkan wayang garing lahir dan berkembang hanya di wilayah Kabupaten Serang, Banten. Untuk itu diperlukan kajian atau penelitian ilmiah sebagai bahan informasi dan apresiasi terhadap keberadaan wayang garing. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan melestarikan wayang garing asal Kabupaten Serang, Banten. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik perekaman, wawancara, pengamatan, dan studi pustaka. Teori yang digunakan adalah teori fungsi Wellek dan Warren. Penelitian ini pun mencermati upaya revitalisasi wayang garing sebagai penguatan kearifan lokal Banten. Simpulan dari tulisan ini adalah wayang garing berfungsi sebagai alat  pemenuhan kebutuhan hidup bagi Kajali, satu-satunya pelaku wayang garing Banten. Fungsi lainnya adalah pemertahanan bahasa Jaseng (Jawa Serang) dan wayang khas Banten, serta dapat menjadi alternatif media pengajaran bahasa dan sastra Banten. Upaya revitalisasi yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah menyelenggarakan bengkel wayang garing, sosialisasi, dan kaderisasi.Abstract:The majority of people have not known Bantenese Wayang Garing (the Bantenese pup- pet) well. Hence, conservation effort and understanding of the typical Bantenese puppet have not been maximized. These are due to the puppet born and developed only in Serang regency, Banten. Based on the fact, it is necessary to  conduct a study or scientific research as substantial  informa- tion and appreciation of the  existences of the puppet. The study is aimed at describing and pre- serving the puppet  in Serang regency, Banten. The data collection technique is  carried out by recordings, interviews, observations and literature studies.The applied theory is functions by Wellek and Warren. The research is also paying close attention to the revitalization efforts as the way to strengthen the local wisdom of Banten. From the research it can be concluded that  the puppet has its function as subsistence for Kajali, the only puppeteer in Banten. It can also be a tool for the retention of Jaseng (JawaSerang) language, the preservation of Banten iconic puppet and a me- dia of teaching Bantenese language and literature. The revitalization efforts which can be done by the government are conducting workshops, giving socialization, and finding regeneration to con- tinue this iconic traditional culture.
KARAKTERISTIK MANUSIA DALAM ANTOLOGI BULAN KEBABIAN Seha, Nur
BEBASAN Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 5, No 2 (2018): BÉBASAN Edisi Desember 2018
Publisher : Kantor Bahasa Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.983 KB) | DOI: 10.26499/bebasan.v5i2.101

Abstract

This study aims to reveal the human character in the anthology "Bulan Kebabian". This study uses the theory of genetic structuralism proposed by Goldmann in Faruk (2014) regarding humanitarian facts. The data source is the short story of anthology "Bulan Kebabian" (2015) published by BELISTRA, Serang, Banten. Data collection was carried out using qualitative descriptive methods and literature. Data analysis is carried out at the level of words and the interweaving of words. And than, the interpretation to obtain the understanding and description of the word and the composition of the sentence in the short story is preceded by the reading, understanding, and analysis of short stories. The conclusions from this study are:First the partiality of ‘Ayah's character in the material resulted he give up his daughter to become a migrant worker, even though in the end he was sorry; Second, rationality and realistic attitude of the character "She" is able to raise him from adversity and look back at the future with his husband and children; Third, love for fellow humans has tremendous significance for the characters "She" and "the river man" in the household.
IDEOLOGI PEREMPUAN DALAM KARYA CERPENIS PEREMPUAN Seha, Nur
BEBASAN Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 1, No 1 (2014): BÉBASAN Edisi Juni 2014
Publisher : Kantor Bahasa Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.943 KB) | DOI: 10.26499/bebasan.v1i1.33

Abstract

Artikel ini membahas ideologi perempuan dalam kumpulan cerpen Kunang-kunang dalam Pelukan karya cerpenis perempuan asal Banten. Buku ini berisi 18 (delapan belas) buah cerpen yang menampilkan sosok perempuan sebagai tokoh utama dan tambahan dari berbagai profesi. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif dengan teknik pustaka. Teori feminisme digunakan untuk menganalisis ideologi tokoh perempuan yang terdapat pada kumpulan cerpen tersebut. Hasil analisis yang didapat, para tokoh perempuan dalam kumpulan cerpen Kunang-kunang dalam Pelukan adalah banyak diantara para tokoh yang digambarkan dalam cerpen berprofesi tak hanya di ranah domestik seperti di sumur, kasur, dan dapur, namun ada pula yang berkecimpung di ranah publik seperti dosen, aktivis sosial, jurnalis, dan politikus. Hasil pembahasan memperlihatkan empat poin ideologi yang terdapat pada para tokoh perempuan dalam cerpen yaitu akualisasi diri, pemberontakan, rela berkorban, dan keteguhan.
GAYA BAHASA PADA PUISI ANAK Seha, Nur
ATAVISME Vol 10, No 2 (2007): ATAVISME, EDISI DESEMBER 2007
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2866.586 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v10i2.239.39-46

Abstract

Literature is a form of language performance and even in poetry genre. The element of that performance was quite conspicuous, such as the shape of rhyme and rhythm performance. Prerequirement for reading, hearing, and understanding of literature is mastery of the relevant language. It's effective for adults and child. Language is a purpose to understands the world that offered and purpose of increasing capability of children speech on listening, reading, speaking, and writing.
MASALAH-MASALAH SOSIAL DALAM NOVEL TOENGGOEL KARYA EER ASURA Seha, Nur
ATAVISME Vol 11, No 2 (2008): ATAVISME, EDISI DESEMBER 2008
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4439.439 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v11i2.335.65-74

Abstract

Although opus of literature is based on perception process of sociocultural as imaginative, the result of narative construction actually is not only imaginary or fantacy, but also a result of social substances with factual quality. It means that opus of literature takes to the amount of substances the society belief all of them is objective facts. A fact that may be enabled and once happen in society, such as regionalism and nationalism, philosophical and religious, education and emancipation, conflict between youthful and older, tradition and modernization, Western and Eastern and many kind of social contents.
PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH DI LEMBAGA PENDIDIKAN BERBASIS AGAMA KABUPATEN PANDEGLANG Local Language Maintenance in Religious-Based Educational Institutions in Pandeglang Seha, Nur; Fatonah, Nur Alif
Jurnal Lingko : Jurnal Kebahasaan dan Kesastraan Vol 2, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Kantor Bahasa NTT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jl.v2i1.40

Abstract

PEMERTAHANAN BAHASA DAERAH DI LEMBAGA PENDIDIKAN BERBASIS AGAMA KABUPATEN PANDEGLANG, BANTENAbstrakKajian ini berpijak pada asumsi bahwa penggunaan bahasa daerah sudah mengalami penurunan pada sebagian besar anak-anak Banten. Sikap negatif pemilik bahasa daerah terutama generasi muda yaitu rasa bangga dan setia terhadap kepemilikan bahasa daerah sama sekali tidak terlihat. Hal itu menyebabkan tidak adanya kemauan dan motivasi untuk mempelajari bahasa daerah. Sumber data kajian adalah kuisoner yang telah diisi oleh 50 responden dan studi pustaka yang telah dilakukan sebelumnya terkait pemertahanan bahasa daerah. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sementara itu, teori dalam kajian ini adalah sosiolinguistik. Berdasar pada analisis data, dapat disimpulkan penggunaan bahasa daerah di sekolah berbasis agama masih ditemukan, walaupun tingkat penggunaan bahasa daerah lebih rendah dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Di lingkungan sekolah, sebagian besar responden menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan teman dan gurunya, baik saat pembelajaran maupun bertemu di lingkungan sekolah. Pada saat pembelajaran, guru juga lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan muridnya. Di samping itu, belum adanya kebijakan dari pihak sekolah yang menganjurkan penggunaan bahasa daerah sebagai alat komunikasi di sekolah menyebabkan penggunaan bahasa daerah di lingkungan sekolah masih rendah. Keberadaan bahasa daerah sebagai muatan lokal hanya ditemukan di beberapa sekolah. Mayoritas pengguna bahasa daerah lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat berkomunikasi dibandingkan dengan bahasa daerah.  Dari segi intensitas penggunaan bahasa daerah, bahasa Indonesia justru lebih sering digunakan oleh masyarakat pemilik bahasa daerah sebagai alat komunikasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemertahanan bahasa daerah di sekolah berbasis agama Kabupaten Pandeglang masih rendah. Walau pun masih ditemukan penggunaan bahasa daerah, akan tetapi intensitas penggunaannya masih tertinggal daripada bahasa Indonesia.Kata kunci: pemertahanan bahasa daerah dan lembaga pendidikan berbasis agama LOCAL LANGUAGE MAINTAIN IN RELIGIOUS-BASED EDUCATIONAL INSTITUTIONS IN PANDEGLANG, BANTEN AbstractThis study rests on the assumption that the use of local languages has decreased in most Banten children. The negative attitude of the local languages owners, especially the younger generation, namely the sense of pride and loyalty towards the ownership of local languages is completely invisible. That cause the lack of willingness and motivation to learn local languages. The data source of the study were questionnaires that has been filled by 50 respondents and literature study that has been done previously related to maintaining local languages. This research used descriptive qualitative method. Meanwhile, the theory in this study was sociolinguistics. Based on data analysis, it can be concluded that the used of local languages in religious schools is still found, although the level wais lower than Indonesian. In the school environment, most respondents used Indonesian to communicate with their friends and teachers, both during learning activity and outside activity in the school environment. During learning activity, teachers also used Indonesian more to communicate with their students. In addition, the absence of a policy from the school that advocated the use of local languages as a communication tool in schools caused the use of local languages in the school environment was still low. The existence of local languages as local content was only found in a few schools. The majority of regional language users use more Indonesian as a communication tool compared to local languages. In terms of the intensity of the use of local languages, Indonesian was actually more often used by the people who own local languages as a communication tool. Thus, it can be concludes that the retention of regional languages in the religious-based schools in Pandeglang Regency is still low. Even though the use of local languages is still found, the intensity of their use is still lagging behind Indonesian.Keywords: local languages maintain and religious-based educational institutions
PERKEMBANGAN SASTRA INDONESIA DI SERANG RAYA SEBELUM TAHUN 2000: SEBUAH TINJAUAN AWAL Kristianto, Dody; Seha, Nur
BEBASAN Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol 8, No 2 (2021): BÉBASAN EDISI DESEMBER 2021
Publisher : Kantor Bahasa Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bebasan.v8i2.238

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan menggambarkan kondisi perkembangan sastra Indonesia di Serang Raya sebalum tahun 2000. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan historiografi. Penyediaan data primer diperoleh melalui metode wawancara dan perekaman. Data sekunder didapatkan melalui buku-buku yang dihasilkan sastrawan Serang maupun catatan yang didapatkan pada periode sebelum tahun 2000. Berdasarkan paparan data didapatkan kesimpulan bahwa kesusastraan Indonesia modern di wilayah Serang Raya mulai terlacak pada tahun 1970-an melalui aktivitas kepenulisan Junus Astradirdja. Perkembangan sastra melalui komunitas dimulai pada akhir dekade 1980-an. Pada dekade 1990-an, keberadaan komunitas sastra mulai memberikan pengaruh yang signifikan. Hal ini terlihat dari terbitan sastra dan buku-buku kumpulan puisi yang terbit pada dekade 1990-an di Serang. Kata kunci: sastra Indonesia, Serang, sejarah sastra, komunitas   Â