Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Metalurgi

PEMBENTUKAN NANOPARTIKEL PADUAN CoCrMo DENGAN METODA PEMADUAN MEKANIK[Manufacturing of Co-Cr-Mo Alloy Nano-Particle by Using Mechanical Alloying]] Sukaryo, Sulistioso Giat; Adi, Wisnu Ari
Metalurgi Vol 27, No 1 (2012): Metalurgi Vol. 27 No. 1 April 2012
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.07 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v27i1.139

Abstract

Metoda pemaduan mekanik adalah reaksi padatan dari beberapa logam dengan memanfaatkan proses deformasi untuk membentuk suatu paduan. Pada penelitian ini dibuat paduan Co-Cr-Mo dengan  proses wet milling dengan variasi waktu milling selama 3, 5, 10, 20, dan 30 jam. Proses wet milling sangat efektif untuk mencegah terjadinya oksidasi dan juga memicu pembentukan paduan Co-Cr-Mo dengan baik. Hasil XRD menunjukkan bahwa telah terjadi pertumbuhan fasa γ pada durasi milling 3, 5, 10, 20, dan 30 jam, berturut-turut sebesar 42,80 %; 67,61 %; 82,94 %, 84,63 % dan 88,92 %. Ukuran kristalit fasa γ sebesar 25,9 nm; 12,5 nm; 5,1 nm dan 4,9 nm seiring dengan meningkatnya waktu milling. Disimpulkan bahwa telah berhasil dilakukan pembuatan paduan nanokristalin Co-Cr-Mo dengan metode pemaduan mekanik lebih dari 85 % dengan waktu milling minimum selama 30 jam. AbstractSynthesis of Co-Cr-Mo nano-crystalline by mechanical alloying has been carried out. Mechanical alloying is a solid state reaction of some metals by utilizing the deformation process to form an alloy. In this research, parameter milling time used for making Co-Cr-Mo alloy by wet milling process is 3, 5, 10, 20 and 30 h. Wet milling process is very effective to prevent oxidation and triggers the formation of fine Co-Cr-Mo alloys. Results of XRD pattern refinement shows that Co-Cr-Mo alloys was growth by percentage approximately around 42.80%, 67.61%, 82.94%, 84.63% and 88.92% for milling time 3, 5, 10, 20, and 30 h, respectively. Otherwise, crystalline size measurement after milling time 5, 10, 20, and 30 h obtained around 25.9 nm, 12.5 nm, 5.1 nm and 4.9 nm, respectively. This research concluded that the optimum milling time could obtained synthesizes nano-crystalline of Co-Cr-Mo alloy more than 85% is 30 h.
PENGARUH PENAMBAHAN MOLIBDENUM TERHADAP MORFOLOGI STRUKTUR MIKRO, SIFAT MEKANIK DAN KETAHANAN KOROSI PADUAN ZR-NB UNTUK MATERIAL IMPLAN Sukaryo, Sulistioso Giat; Badriyana, B; Sebleku, Pius
Metalurgi Vol 29, No 1 (2014): Metalurgi Vol.29 No.1 April 2014
Publisher : Pusat Penelitian Metalurgi dan Material - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.076 KB) | DOI: 10.14203/metalurgi.v29i1.267

Abstract

PENGARUH PENAMBAHAN MOLIBDENUM TERHADAP MORFOLOGI STRUKTUR MIKRO,SIFAT MEKANIK DAN KETAHANAN KOROSI PADUAN Zr-Nb UNTUK MATERIAL IMPLAN.Paduan Zr-Nb adalah material paduan yang banyak digunakan untuk bio-implan. Penambahan unsur lain dalampaduan berbasis Zr-Nb seperti molibdenum akan meningkatkan sifat mekanik dan ketahanan korosinya.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat morfologi struktur mikro, karakteristik sifat mekanik danketahanan korosi dalam paduan Zr-Nb dengan dan tanpa penambahan molibdenum. Komposisi paduan yangakan dibuat adalah Zr-2,5% Nb dan Zr-2,5% Nb-0,5% Mo, dimana molibdenum ditambahkan dalam paduandengan proses peleburan menggunakan tungku busur listrik. Ingot paduan Zr-2,5% Nb dan Zr-2,5% Nb-0,5%Mo kemudian diuji keras secara mikro dengan Vicker?s, metalografi dengan mikroskop optik (OM) dan SEM(scanning electrone microscopy), uji XRD (X-ray diffraction) serta uji korosi dalam lingkungan larutan simulasitubuh (simulated body fluid-SBF). Hasil metalografi dan uji XRD menunjukkan bahwa struktur yang terbentukadalah fasa ?-Zr yang terdistribusi secara homogen dan berukuran sangat halus (fine grain). Laju korosi dalampaduan Zr-2,5Nb adalah sebesar 0,1023 mpy, sedangkan setelah penambahan molibdenum dalam paduan Zr-2,5% Nb-0,5% Mo laju korosi semakin lambat sebesar 0,089 mpy. Hal ini terjadi akibat terbentuknya lapisantipis dari zirkonium dan molibdenum oksida sebagai pelindung di permukaan paduan. Kekerasan paduan Zr-2,5% Nb mencapai 183 VHN dan meningkat menjadi 230 VHN setelah penambahan 0,5% berat Mo. Hal inidimungkinkan karena adanya fenomena penghalusan butir yang berakibat pada naiknya kerapatan dislokasidalam paduan Zr-2,5% Nb-0,5% Mo.