Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

TRADISI BAAYUN MULUD DI BANJARMASIN Norhidayat, Maimanah dan
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.703 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.416

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan tentang tradisi baayun mulud yaitu salah satu tradisi lokal yang bernuansa religius di kalangan masyarakat Banjar. Dengan melakukan pengamatan langsung di dua tempat serta wawancara langsung terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini, yaitu: di Makam Sultan Suriansyah Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin dan Mesjid Jami Teluk Dalam Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin, maka dapat ditegaskan bahwa meskipun terlihat jelas adanya unsur-unsur budaya pra-Islam dalam pelaksanaan tradisi baayun mulud ini, namun dari sisi yang lain justru menunjukkan karakter khas dari sebuah proses islamisasi di tengah-tengah masyarakat Banjar, di mana kedatangan Islam tidaklah membabat habis seluruh tradisi lokal yang pernah ada di tengah-tengah masyarakat, melainkan menjadi ruh bagi tradisi yang dipandang masih layak dipertahankan dan banyak mengandung nilai-nilai positif
TRADISI BAAYUN MULUD DI BANJARMASIN Norhidayat, Maimanah dan
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.703 KB) | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.416

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan tentang tradisi baayun mulud yaitu salah satu tradisi lokal yang bernuansa religius di kalangan masyarakat Banjar. Dengan melakukan pengamatan langsung di dua tempat serta wawancara langsung terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini, yaitu: di Makam Sultan Suriansyah Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin dan Mesjid Jami Teluk Dalam Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin, maka dapat ditegaskan bahwa meskipun terlihat jelas adanya unsur-unsur budaya pra-Islam dalam pelaksanaan tradisi baayun mulud ini, namun dari sisi yang lain justru menunjukkan karakter khas dari sebuah proses islamisasi di tengah-tengah masyarakat Banjar, di mana kedatangan Islam tidaklah membabat habis seluruh tradisi lokal yang pernah ada di tengah-tengah masyarakat, melainkan menjadi ruh bagi tradisi yang dipandang masih layak dipertahankan dan banyak mengandung nilai-nilai positif
TRADISI BAAYUN MULUD DI KOTA BANJARMASIN (KAJIAN FENOMENOLOGIS) Arni Arni; Maimanah Maimanah; Norhidayat Norhidayat
Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin Vol 16, No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jiu.v16i2.1602

Abstract

Banjarese people carry out the celebration or commemoration of the birthday of Prophet Muhammad Saw. with swinging children or adults, this event commonly referred to baayun mulud. The purpose of this event is based on various motives, both religious, sociological, and some other political-cultural motives. The religious motivation is the belief that it will be granted all the luck, get blessings, health, safety, recover from illness, child is not naughty / fussy and because nadzar which granted Allah Swt. The sociological motivation of this event is to cultivate the spirit of togetherness, mutually cooperation, and unity in the midst of urban society that tends to be individualist today. While the political-cultural motivation can be felt from the statement of the organizing committee who firmly stated that this event was held in order to revive a tradition that has been forgotten, whereas it used to exist in the time of the Sultanate of Banjar. Along with the reaffirmation of the existence of the Sultanate of Banjar, then the existence of culture that ever existed in the heyday of this Sultanate also tried to be raised again.
TRADISI BAAYUN MULUD DI KOTA BANJARMASIN (KAJIAN FENOMENOLOGIS) Arni Arni; Maimanah Maimanah; Norhidayat Norhidayat
Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin Vol 16, No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/jiu.v16i2.1602

Abstract

Banjarese people carry out the celebration or commemoration of the birthday of Prophet Muhammad Saw. with swinging children or adults, this event commonly referred to baayun mulud. The purpose of this event is based on various motives, both religious, sociological, and some other political-cultural motives. The religious motivation is the belief that it will be granted all the luck, get blessings, health, safety, recover from illness, child is not naughty / fussy and because nadzar which granted Allah Swt. The sociological motivation of this event is to cultivate the spirit of togetherness, mutually cooperation, and unity in the midst of urban society that tends to be individualist today. While the political-cultural motivation can be felt from the statement of the organizing committee who firmly stated that this event was held in order to revive a tradition that has been forgotten, whereas it used to exist in the time of the Sultanate of Banjar. Along with the reaffirmation of the existence of the Sultanate of Banjar, then the existence of culture that ever existed in the heyday of this Sultanate also tried to be raised again.
TRADISI BAAYUN MULUD DI BANJARMASIN Maimanah dan Norhidayat
Al-Banjari : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman Vol 11, No 1 (2012)
Publisher : Pascasarjana UIN ANTASARI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/al-banjari.v11i1.416

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan tentang tradisi baayun mulud yaitu salah satu tradisi lokal yang bernuansa religius di kalangan masyarakat Banjar. Dengan melakukan pengamatan langsung di dua tempat serta wawancara langsung terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan ini, yaitu: di Makam Sultan Suriansyah Kecamatan Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin dan Mesjid Jami Teluk Dalam Kecamatan Banjarmasin Tengah Kota Banjarmasin, maka dapat ditegaskan bahwa meskipun terlihat jelas adanya unsur-unsur budaya pra-Islam dalam pelaksanaan tradisi baayun mulud ini, namun dari sisi yang lain justru menunjukkan karakter khas dari sebuah proses islamisasi di tengah-tengah masyarakat Banjar, di mana kedatangan Islam tidaklah membabat habis seluruh tradisi lokal yang pernah ada di tengah-tengah masyarakat, melainkan menjadi ruh bagi tradisi yang dipandang masih layak dipertahankan dan banyak mengandung nilai-nilai positif
THE ORIGIN OF WOMEN CREATION IN THE PERSPECTIVE OF SUFI COMMENTARY Norhidayat Norhidayat
Khazanah: Jurnal Studi Islam dan Humaniora Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : UIN Antasari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18592/khazanah.v15i1.1129

Abstract

Jika sebagian kalangan feminis muslim menolak riwayat hadis yang menyebutkan tulang rusuk sebagai asal-usul kejadian perempuan pertama kali karena secara tidak langsung menyimbolkan posisi sub-ordinasi bagi perempuan, sebagian kaum sufi, justru memanfaatkan riwayat tersebut dalam penjelasan mereka dan memaknainya secara positif.  Kaum sufi justru menilainya sebagai simbol saling ketergantungan, cinta kasih, dan keberpasangan antara laki-laki dan perempuan. Penulis dalam tulisan ini menyimpulkan bahwa dalam pandangan kaum sufi, perempuan semenjak awal penciptaannya telah ditakdirkan untuk menjadi pasangan bagi laki-laki, sehingga antara keduanya jadi saling melengkapi dan saling ketergantungan. Pandangan ini, tentu saja menepis anggapan tentang subordinasi bagi perempuan.  Pandangan kaum sufi dalam kasus ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh kaum feminis muslim kontemporer. Namun demikian, berbeda dengan langkah yang diambil sebagian feminis muslim kontemporer, kaum sufi pada umumnya lebih memilih menggunakan ta’wȋl sehingga memberi makna positif ketika memahami hadis-hadis yang menyebutkan asal usul penciptaan perempuan ketimbang mereka harus mencurigai para periwayatnya atau bahkan menganulir hadis-hadis Nabi yang dinilai sahȋh oleh mayoritas ulama.If some Muslim feminists reject the tradition that argues that the Prophet Adam’s ribs as the origin of the first female event for it indirectly symbolizes the subordinate positions for women, some Sufis instead use the narratives in their explanations and positively interpret them. The Sufis judged the notion as a symbol of interdependence, love, and belonging between men and women. The writer in this paper concludes that in the view of the Sufis, women, since the beginning of their creation, have been destined to become a partner for men, so that between the two become complementary and interdependent. This view, of course, dismisses the notion of women’s subordination. The Sufi’s view in this case is in line with what contemporary Muslim feminists have argued. However, in contrast to the steps taken by some contemporary Muslim feminists, Sufis generally prefer to use the ta'wȋl to provide a positive meaning in understanding the traditions which mention the origin of women's creation rather than to suspect their narrators or even annul The Prophet hadiths considered valid (sahȋh) by the majority of scholars. 
PROFIL LEMBAGA TAHFĪZH AL-QUR’AN DI BANJARMASIN DAN SEKITARNYA Abdullah Karim; Norhidayat; Fakhrie Hanief
Journal of Scientech Research and Development Vol 5 No 1 (2023): JSRD, June 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56670/jsrd.v5i1.89

Abstract

Berbagai lembaga Tahfizh Al-Qur'an tumbuh dan berkembang pesat di kota Banjarmasin dan sekitarnya dalam satu dekade terakhir. Beberapa penelitian terkait yang telah ada tentang lembaga ini, namun belum sepenuhnya menggambarkan perkembangan dan peta keberadaan lembaga tersebut, oleh karena itu penelitian ini akan mengisi kekosongan tersebut. Dengan melakukan penelitian kualitatif, penelitian ini telah mendokumentasikan dan memetakan berbagai lembaga Tahfizh Alquran yang ada di kota Banjarmasin dan sekitarnya. Penelitian ini menemukan bahwa lembaga Tahfīzh Al-Qur'an di Banjarmasin dan sekitarnya sangat bervariasi; mulai dari status formal dan non formal, asrama dan non asrama, metode pembelajaran dan pengelolaan manajemen kelembagaan yang berbeda, serta dalam hal sanad al-Qur'an dan jaringan kerjasama yang bervariasi. Dalam perkembangannya, selain ditemukan dinamika; gotong royong, juga terjadi persaingan antar lembaga Tahfizh Al-Qur'an di kota Banjarmasin dan sekitarnya.
Beyond Farā’iḍ Texts: Maqāṣid al-Sharīʿah and Substantive Justice in the Banjar Tradition of Equal Inheritance Maimanah, Maimanah; Nor'ainah, Nor'ainah; Faridah, Siti; Arni, Arni
El-Qist: Journal of Islamic Economics and Business (JIEB) Vol. 16 No. 1 (2026): April
Publisher : Islamic Economics Department, Faculty of Islamic Economics and Business, Sunan Ampel State Islamic University, Surabaya Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/elqist.2026.16.1.108-126

Abstract

Background and objective: This study critically examines the Banjar tradition of equal inheritance distribution as a model of substantive justice that challenges the dominance of farā’iḍ -based formalism in Islamic inheritance law. Although classical jurisprudence prescribes fixed proportional shares, contemporary Islamic legal scholarship has yet to fully theorize how maqāṣid al-sharīʿah can operate not merely as a supplementary interpretive tool, but as an autonomous normative framework capable of reconfiguring inheritance principles toward substantive justice. Methodology: This research adopts a normative juridical approach grounded in systematic textual and conceptual analysis of the Qur’an, hadith, and classical as well as contemporary works of uṣūl al-fiqh, with particular emphasis on maqāṣid al-sharīʿah theory as developed by scholars such as al-Shāṭibī and its modern reinterpretations. Findings: The analysis demonstrates that equal inheritance distribution can be justified within a maqāṣid-oriented framework that prioritizes justice (ʿadl), welfare (maṣlaḥah), and the protection of lineage and wealth (ḥifẓ al-nasl and ḥifẓ al-māl). By reinterpreting inheritance norms through the hierarchy of legal objectives, the study argues that classical proportional rules should be understood as context-bound applications rather than immutable prescriptions, thereby opening space for alternative distributive models that better reflect contemporary socio-economic realities. Contribution: This study contributes to Islamic legal theory by advancing a paradigmatic shift from rule-centered formalism to objective-oriented reasoning, positioning maqāṣid al-sharīʿah as a central epistemological foundation for reconstructing inheritance law and legitimizing substantively just outcomes beyond rigid textualism in modern plural legal contexts.