Wayan Ardhana, Wayan
Bagian Ortodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Perawatan Ortodontik Alat Lepasan Kombinasi Semi-Cekat pada Kehilangan Gigi 46 Maharetta Ditaprilia; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.648 KB) | DOI: 10.22146/mkgk.11914

Abstract

Salah satu pertimbangan dalam menentukan alat ortodontik yang akan digunakan adalah biaya. Alat ortodontik lepasan dipilih karena memerlukan biaya yang lebih rendah dibanding dengan alat ortodontik cekat. Perawatan ortodontik dengan alat lepasan sulit dilakukan jika disertai dengan pencabutan satu atau beberapa gigi posterior. Pasien perempuan usia 23 tahun, mengeluhkan gigi rahang atas maju dan gigi rahang bawah berjejal. Pemeriksaan objektif menunjukkan protrusif rahang atas, crowding rahang bawah, palatal bite, disertai kehilangan gigi 46. Maloklusi Angle Kelas II divisi 1 tipe dentoskeletal, hubungan skeletal klas II, protrusif bimaksilar, bidental protrusif, overjet 7,2 mm, crowding, palatal bite, dan kebiasaan bernafas melalui mulut. Perawatan menggunakan kombinasi alat semi-cekat pada rahang bawah dan alat lepasan pada rahang atas. Alat semi-cekat digunakan untuk space clossing bekas pencabutan gigi 46. Terjadi space closing bekas pencabutan gigi 46 setelah 6 bulan perawatan. Overjet berkurang menjadi 4 mm dan overbite 2,7 mm setelah 1 tahun perawatan. Kombinasi alat semi-cekat pada rahang bawah dan alat ortodontik lepasan pada rahang atas efektif untuk koreksi maloklusi Angle Klas II divisi 1 dengan kehilangan gigi 46 pada pasien ini. ABSTRACT: Orthodontic Treatment Using Semi-Fixed Appliances with Partial Edentulous 46. Cost is one of the considerations in determining the use of orthodontic appliances. Removable orthodontic appliance is chosen because it is less costly than fixed orthodontic appliances. It is difficult to use removable orthodontic appliances to treat a missing one or more posterior teeth case. A 23 year old female patient had a chief complaint of crowding in lower anterior teeth and forwardly placed upper anterior teeth. Her objective examination shows protrution of upper teeth, crowding in the lower arch, palatal bite, and partial edentulous of 46 tooth. It was Angle Class II division 1 dentoskeletal malocclusion, skeletal class II, bimaxillary protrusion, bidental protrusion, overjet 7,2 mm, crowding, palatal bite, and mouth-breathing habit. The treatment used a combination of semi-fixed orthodontic appliances in the lower arch and removable appliances in the upper arch. The semi-fixed orthodontic appliances were used on space closing of partial edentulous 46. The partial edentulous 46 was closed after 6 months of treatment. The overjet was reduced to 4 mm and overbite 2,7 mm after one year of treatment. The combination of semi-fixed orthodontic appliances in the lower arch and removable appliances in the upper arch generate a good result to correct Angle Class II division 1 malocclusion with partial edentulous 46.
Optimalisasi Gerakan Oklusal Gigi Kaninus Maksila Menggunakan Lingual Button pada Alat Ortodontik Lepasan Wuriastuti Kusumandari; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.226 KB) | DOI: 10.22146/mkgk.11978

Abstract

Pertumbuhan dan perkembangan tulang rahang berhubungan dengan ketersediaan ruang untuk menampung gigi-gigi permanen. Kurangnya panjang lengkung rahang sering dianggap sebagai faktor etiologi terjadinya gigi berjejal dan impaksi. Panjang lengkung palatal yang kurang dapat menyebabkan terlambatnya erupsi gigi maksila. Perawatan yang dilakukan menggunakan alat ortodontik lepasan memiliki keterbatasan dalam memberikan gerakan oklusal untuk membantu erupsi gigi permanen. Pasien perempuan usia 10 tahun mengeluhkan gigi depan atas maju dan gigi bawah berjejal. Hasil pemeriksaan objektif ditemukan crowded ringan gigi anterior bawah, 53 palatoversi, 43 labioversi serta gigi 13 dan 23 belum erupsi. Maloklusi Angle klas II divisi 1 sub divisi dengan overjet normal dan deep overbite. Analisis ruang menurut Moyers dan Nance menunjukkan adanya kekurangan ruang untuk tumbuh gigi 13 dan 23. Pasien dirawat dengan plat ekspansi radial simetri pada rahang atas karena terjadi kontraksi ringan pada regio premolar dan distraksi ringan pada regio molar, guna mencarikan ruang untuk tumbuhnya gigi 13 dan 23 dan pada rahang bawah untuk koreksi crowded anterior. Enam bulan setelah gigi 53 dan 63 tanggal, proses erupsi gigi 13 dan 23 berterlihat mengalami kelambatan. Oleh karena itu, pada permukaan labial gigi 13 dan 23 yang mulai erupsi sebagian, dipasangkan lingual button yang dikombinasikan dengan buccal spring untuk membantu gerakan oklusal pada proses erupsinya. Lingual button merupakan salah satu komponen cekat yang dipasangkan pada permukaan gigi dan dikombinasikan dengan buccal spring untuk mengoptimalkan gerakan oklusal pada alat ortodontik lepasan. ABSTRACT: Optimization of Maxillary Canine Occlusal Movement Using the Fixed Component of Removable Orthodontic Appliance. The growth and development of jawbones are related to the availability of space for permanent teeth. Arch-length deficiency is often mentioned as an etiologic factor for crowding and impactions. A short palatal length can delay the eruption of maxillary teeth. The treatment using removable orthodontic appliance has a limitation in giving occlusal movement to help permanent teeth erupt. A 10-year-old female patient complained about protrusive upper anterior teeth and crowded lower anterior teeth. The objective examination found lightly crowded lower anterior teeth, 53 palatoversion, and 43 labioversion, while teeth 13 and 23 had not erupted. Angle Class II division 1 sub division malocclusion with normal overjet and deep overbite was detected. The space analysis of Moyers and Nance showed the lack of available space for 13 and 23 eruption. The patient was treated with symmetrical radial expansion plate on the maxilla because of a mild contraction on the premolar region and mild distraction on the molar region in order to gain space for 13 and 23 eruption as well as on the mandible for correction of the lower anterior teeth crowding. Six months after 53 and 63 losses, there was a delay in the 13 and 23 eruptions. Therefore, on the labial surfaces of 13 and 23 that start erupting partially a lingual button combined with buccal spring was attached to help the occlusal movement during the eruption process. Lingual button is one of the fixed orthodontic components attached on the surface of teeth and combined with buccal spring in order to optimize the occlusal movement on removable orthodontic appliance.
Perawatan Maloklusi Kelas III dengan Hubungan Skeletal Kelas III disertai Makroglosia Menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Pratiwi Setyowati; Wayan Ardhana
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.818 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.7963

Abstract

Maloklusi merupakan penyimpangan letak gigi dari keadaan normal. Maloklusi dapat terjadi karena penyimpangan dental, skeletal atau kombinasi keduanya yang dapat mengakibatkan fungsi dan estetika wajah terganggu. Maloklusi kelas III muncul apabila gigi-gigi rahang bawah beroklusi lebih ke mesial dari relasi normalnya. Kasus kelas III dapat dikategorikan sebagai akibat dari maksila yang retrusi dari mandibula. Maloklusi kelas III skeletal dibagi menjadi dua yaitu maloklusi pseudo kelas III dengan mandibula normal namun maksila kurang berkembang dan maloklusi skeletal kelas III dengan mandibula yang besar. Perawatan ortodontik teknik Begg dapat digunakan untuk merawat semua jenis kasus maloklusi. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menyajikan hasil perawatan ortodontik dengan teknik Begg pada kasus maloklusi Angle klas III dengan hubungan skeletal klas III disertai makroglosia. Pasien laki-laki umur 21 tahun mengeluhkan gigi depan yang tidak rapi dan renggang. Diagnosis: Maloklusi Angle Klas III, hubungan skeletal klas III; retrognatik maxilla dan protrusif   mandibula; bidental protrusif; spacing anterior; edge to edge bite; cup to cup bite 15 terhadap 45; open bite; cross bite 12, 13 terhadap 42, 43; pergeseran garis tengah rahang atas ke kiri sebesar 2,2 mm; makroglosia. Pasien dirawat menggunakan alat cekat teknik Begg tanpa pencabutan. Kesimpulan dari hasil perawatan menunjukkan jarak gigit, tumpang gigit, cup to cup bite, cross bite, dan open bite terkoreksi. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 184-191.
Penggunaan Vertical Loop pada Perawatan Gigi Berjejal Parah dan Crossbite Anterior dengan Teknik Begg Herna Juliana Nainggolan; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.589 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8192

Abstract

Gigi berjejal dapat terjadi pada semua klasifikasi maloklusi. Perawatan gigi berjejal berat dengan teknik Begg menggunakan vertical loop untuk meningkatkan kelentingan busur labial supaya dapat terpasang pada gigi berjejal sehingga levelling dan unravelling gigi anterior dapat tercapai. Tujuan artikel ini untuk menerangkan manfaat dari vertical loop pada kasus gigi berjejal berat. Pada artikel ini disajikan dua kasus gigi berjejal parah dan crossbite. Kasus pertama: laki-laki 17 tahun tidak percaya diri karena berjejal dan gingsul. Diagnosis: maloklusi Angle klas III subdivisi tipe skeletal klas III dengan maksila retrusif dan mandibula prognatik, gigi berjejal parah dan crossbite anterior. Kasus kedua: perempuan 18 tahun, mengeluhkan gigi berjejal, sulit dibersihkan dan gusi sering berdarah. Diagnosis: Maloklusi Angle klas I tipe skeletal klas I dengan bimaksiler retrusif dan bidental protrusif  gigi berjejal berat dan crossbite anterior. Pada kedua kasus dilakukan perawatan dengan alat ortodontik cekat teknik Begg, pada tahap pertama digunakan archwire diameter 0,014” dengan vertical loop untuk koreksi gigi malposisi berupa gigi berjejal, membuka dan menutup ruang gigi anterior dengan menggerakkan gigi ke arah mesiolabial dan labiolingual sehingga gigi berjejal dan crossbite anterior dapat terkoreksi. Hasil: Koreksi inklinasi gigi-gigi rahang atas dan bawah, overjet dan overbite dipertahankan, penutupan sisa ruang, koreksi aksial gigi-gigi dan perbaikan interdigitasi sesuai dengan oklusi normal. Kesimpulan dari penggunaan vertical loop pada perawatan ortodontik cekat dengan teknik Begg menunjukkan sangat efektif dalam mengoreksi gigi berjejal berat dan crossbite anterior.
Identifikasi Perawatan Ortodontik Spesialistik dan Umum Wayan Ardhana
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.257 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8193

Abstract

Tujuan perawatan ortodontik adalah untuk mendapatkan susunan gigi yang teratur, kontak oklusal yang baik, sehingga dapat dicapai fungsi oklusi yang efisien, dan estetika penampilan wajah yang menyenangkanserta hasil perawatan yang stabil. Untuk mencapai tujuan tersebut dokter gigi perlu dapat mengidentifikasi kasus maloklusi yang akan dirawat, kemampuan dan kompetensi untuk mencapai tujuan perawatan sehinggadapat dicapai hasil perawatan yang memuaskan. Tujuan telaah pustaka ini adalah membahas kasus maloklusi berdasarkan keterlibatan komponen dentoskeletal yang membentuk maloklusi, menetapkan perawatan dan alat ortodontik yang dapat dipakai, identifikasi tingkat kesulitan perawatan, dan pemahaman tentang kemampuan dan keterbatasan untuk mencapai tujuan perawatan, sehingga dikemudianhari tidak menimbulkan masalah baik bagi pasien maupun bagi dokter yang merawat. Special And General Identification Of Orthodontic Patients. The goal of orthodontic treatment is to improve the arrangement of teeth, with a good occlusal contact, so as to achieve an efficient occlusion function, a pleasant and aesthetical facial appearance and long-term stability after the treatment. To achieve these goals, a dentist with his capability and competence must be able to identify the malocclusion cases. The purpose of this library research is to discuss the case of malocclusion based ondentoskeletal components that form the malocclusion, to establish care and orthodontic appliance that can be used, to identify the level of difficulty of care, and to gain an understanding of capabilities and limitations in fulfilling the purpose of the treatment in order to avoid any problems in the future for both patients and physicians.
Perawatan Impaksi Gigi Premolar Pertama Mandibula Pada Maloklusi Angle Klas II Divisi 2 Subdivisi Dengan Teknik Be Apreka Tigor Kusumasmara; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.726 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8386

Abstract

Impaksi gigi terjadi karena gigi gagal untuk erupsi secara sempurna pada posisinya akibat terhalang oleh gigi lain maupun jaringan lunak atau padat di sekitarnya. Gigi yang sering mengalami impaksi adalah gigi geraham ketiga rahang bawah, gigi kaninus rahang atas, dan gigi premolar kedua. Impaksi premolar sering terjadi karena pencabutan prematur dari gig geraham desidui. Gigi premolar pertama jarang terjadi impaksi dibandingkan premolar kedua. Tujuan laporan kasus adalah untuk memaparkan penatalaksanaan perawatan untuk mengkoreksi impaksi gigi premolar pertama mandibula menggunakan alat cekat teknik Begg tanpa prosedur bedah. Pria 21 tahun mengeluhkan gigi yang berjejal pada rahang atas dan rahang bawah. Gigi kaninus desidui kiri rahang atas dan rahang bawah belum tanggal. Diagnosis pasien adalah Maloklusi Angle Klas II  divisi 2 bimaksiler protrusif dengan hubungan skeletal klas II, gigi anterior maksila retrusif, disertai impaksi gigi premolar pertama mandibula kiri. Perawatan dilakukan dengan menggunakan alat cekat teknik Begg dan pencabutan gigi desidui, Kesimpulan, impaksi gigi premolar pertama mandibula dapat tercapai pada tahap pertama teknik Begg tanpa pendekatan tindakan bedah, tahap selanjutnya yang akan dicapai adalah tahap memperbaiki inklinasi aksial gigi.Treatment Of Class II Division 2 Angle Malocclusion With Mandibular Premolar Tooth Impaction Using Begg Technique. Tooth impaction is a tooth that fails to erupt perfectly to its position because of the other tooth, surrounding soft or hard tissue that blocks its eruption. Premolar often fails to erupt due to a premature extraction of deciduous molar. This case study aims to illustrate the treatment of mandibular first premolar impaction using Begg technique for fixed appliance. The experiment was conducted to a 21 year-old male patient who complained about his crowding of upper and lower teeth, also the persistence of his upper and lower left deciduous canine. The case was diagnosed as class II division 2 angle malocclusion with bimaxillary protrusion with class II skeletal relation, and maxillary anterior teeth retrusion. The left mandibular of first premolar teeth was impacted. The treatment using Begg technique has helped to fix the appliance with the extraction of the deciduous teeth. From the evaluation, it can be concluded that the treatment of impacted mandibular first premolar is achieved on the first stage of Begg technique without surgical approach. The next objective of the treatment is to correct the teeth axis.
Perawatan Teknik Begg Pada Maloklusi Klas I Dengan Kaninus Impaksi dan Insisivus Lateral Agenesis Kristina Wijaya Gunawan; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.191 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8388

Abstract

Impaksi kaninus maksila sering dijumpai pada sisi palatal daripada labial. Agenesis adalah anomali pertumbuhan akibat tidak ada satu atau lebih benih gigi. Laporan kasus ini bertujuan memaparkan kemajuan perawatan kasus Maloklusi klas I dengan kaninus impaksi dan insisivus lateral agenesis menggunakan alat cekat teknik Begg. Seorang pasien usia 20 tahun datang mengeluhkan gigi-gigi depan atas dan bawah yang berjejal sehingga mengganggu penampilan. Perawatan bertujuan untuk koreksi Maloklusi Angle klas I tipe dentoskeletal dengan deepbite, crossbite gigi 25 terhadap 35, pergeseran midline dental maksila dan mandibula ke kanan sebesar 2,5 mm dan 3,0 mm, 13 impaksi vertikal pada sisi labial, 42 agenesis, dan edentulous parsial regio 36. Koreksi dilakukan dengan pencabutan 14, 25, pemanfaatan ruang bekas pencabutan 36 dan exposure gigi kaninus yang impaksi. Tahap pertama teknik Begg adalah leveling, unraveling, dan bite opening, diikuti dengan koreksi midline dan penutupan sisa ruang bekas pencabutan. Kesimpulan: perawataan ortodontik menggunakan teknik Begg yang dilakukan simultan dengan exposure kaninus impaksi labial dengan closed eruption technique dapat memberikan hasil yang memuaskan.Treatment for Class I Malocclusion with Impacted Canine and Agenesis Lateral Incisor Using Begg Technique. Maxillary canine impaction occurs commonly on the palatal than labial side. Agenesis is a developmental anomaly condition because of the absence of one or more tooth buds. This case report aims to explain the treatment progress of class I malocclusion with impacted canine and agenesis lateral incisor using fixed appliance through Begg technique. A 20-year-old female patient complained about her upper and lower anterior dental crowding that disturbed her appearance. The treatment aims to correct the Angle class I malocclusion dentoskeletal types with deepbite, crossbite 25 to 35, maxillary and mandibulary dental midline shift to the right by 2.5 mm and 3.0 mm, 13 labially vertical impacted, 42 agenesis, and partial edentulous 36. The correction was obtained through extraction 14 and 25, and the use of former space from extraction 36 and exposure of impacted canine. The first step of treatment using Begg technique is to leveling, unraveling, and bite opening. The second step is midline correction and space closure. Finally, it can be concluded that orthodontic treatment using Begg technique which is done simultaneously and exposure of labial- canine impaction with closed eruption technique can give satisfactory results.
Perawatan Maloklusi Klas III dengan Reverse Overjet Menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Yohana Retno Wikandari Purwaningsih; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.457 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8389

Abstract

Maloklusi klas III true skeletal merupakan kasus yang sulit dirawat dan  mudah terjadi relaps. Perawatan ideal kasus ini memerlukan tindakan bedah, namun apabila hal tersebut tidak memungkinkan maka dilakukan perawatan kamuflase. Reverse overjet, atau gigitan terbalik, tipikal mempunyai penyimpangan posisi insisivus atas dan bawah akibat malrelasi maksila dan atau mandibula. Tujuan artikel ini adalah menyajikan perawatan ortodontik kamuflase menggunakan teknik Begg pada maloklusi ini. Pasien perempuan umur 24 tahun mengeluhkan gigi depan berjejal dan tidak nyaman untuk mengunyah makanan. Diagnosis kasus adalah maloklusi Angle klas III, hubungan skeletal klas III dengan protrusif bimaksilar, incisivus atas dan bawah retrusif, pergeseran median line rahang atas ke kanan, disertai edge to edge bite anterior, cross bite posterior dan openbite posterior. Pasien dirawat dengan  pencabutan gigi premolar kedua atas,dan premolar pertama  bawah untuk mengatasi kondisi kasus tersebut. Kesimpulan dua tahun setelah perawatan, tampak sudut interinsisal berkurang, reverse overjet terkoreksi, edge to edge bite, cross bite dan openbite terkoreksi.Treatment of Class III malocclusion with Reverse Overjet using Orthodontic Begg Technique. A true skeletal class III malocclusion is a difficult case to be treated as it can get easily relap. The ideal treatment of this skeletal types requires a surgery, but if it is not possible, an orthodontic camouflage can be conducted. Reverse overjet typically has upper and lower incisor position deviation due to the mesial position of the mandible in relation to the maxilla.The purpose of this article is to present camouflage orthodontic treatment using Begg orthodontic technique in Class III malocclusion case with reverse overjet. A 24 year-old female patient complained about her front teeth crowding and uncomfortable mastication. From the diagnosis, there was true dento skeletal class III malocclusion with bimaxilary protrusion, bidental retrusion and edge to edge bite. The lower incisors were shifted to the right. The posterior teeth were crossbite and openbite. The patient were treated with extraction of the right upper second premolars and lower first premolars.After 2 years of treatment, it is concluded that the interinsisal angle decreases and the reverse overjet, the edge to edge bite, the crossbite and the openbite are corrected as well.
Perawatan Pergeseran Mandibula dan Kliking Menggunakan Teknik Edgewise dan Trainer Rully Utami; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1090.937 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8527

Abstract

Kasus ini terjadi pada perempuan usia 22 tahun yang bersedia dipublikasikan untuk kepentingan  ilmu pengetahuan. Keluhan utama mandibula dan dagunya bergeser ke kanan, gigitan terbuka posterior dan bunyi click di persendian temporomandibular. Diagnosis pasien adalah maloklusi Angle kelas III tipe dento skeletal, pergeseran garis tengah mandibula dan dagu ke kanan, gigitan terbuka posterior dan clicking pada sendi temporomandibular. Perawatan dilakukan dengan teknik Edgewise dan trainer. Leveling dan unraveling dilakukan menggunakan kawat stainless steel bulat diameter 0,014 mm dengan multiloop. Trainer digunakan untuk koreksi pergeseran mandibula. Perawatan dilakukan selama 11 bulan, dan menunjukkan hasil hubungan molar pertama kanan menjadi kelas I. Overjet meningkat dari 0,1 mm menjadi 2 mm, overbite meningkat dari 0,2 mm menjadi 2,57 mm, garis tengah mandibula yang semula bergeser ke kanan 4,38 mm menjadi 2,53 mm, gigitan terbuka posterior dan clicking telah terkoreksi.Compromised Treatment of Class III Malocclusion with Mandibular Shifting, Posterior Openbite and Clicking Using Edgewise Technique and Trainer In Adult. This case report described the treatment of an adult female 22 years old who complained that her mandibula and chin shift to the right, posterior openbite and clicking. The patient diagnosed class III molar relationship, skeletal class III malocclusion, mandibular midline and chin shift to the right, posterior openbite and clicking on temporomandibular joint. Treatment was conducted using combination between  Edgewise Technique and trainer.  Leveling and unraveling are achieved by round stainless steel archwire 0,014 mm with multiloop. Trainer used to corrected the mandibular shifting. Result after 1 years treatment showed that the right molar relationship became class I, overjet increased  from 0,1 mm to 2 mm, overbite increased  from 0,2 mm to 2,57 mm, mandibular midline shifting decresed from 4,38 mm to 2,53 mm,  posterior openbite and clicking have been corrected.
Perawatan Ortodontik pada Maloklusi Klas II Divisi 1 dengan Overjet Besar dan Palatal Bite Menggunakan Alat Cekat Teknik Begg Reni Kurniasari; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (882.935 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8538

Abstract

Maloklusi Klas II divisi 1 sering disertai overjet besar dan palatal bite, koreksi overjet besar dan palatal bite akan sulit dilakukan dan membutuhkan waktu yang lama. Pada perawatan ortodontik menggunakan teknik Begg koreksi overjet besar dan palatal bite dapat dilakukan secara bersamaan karena memakai differential force. Tujuan artikel ini adalah untuk menyajikan hasil koreksi overjet besar dan palatal bite pada kasus maloklusi klas II divisi 1 menggunakan alat ortodontik cekat teknik Begg. Kasus: Pasien laki-laki usia 17 tahun, dengan keluhan gigi rahang atas berjejal dan maju. Diagnosis: maloklusi Angle Klas II divisi 1 dengan hubungan skeletal klas II, mandibular retrusif dan bidental protrusif disertai crowding sedang, overjet sebesar 10,78 mm, palatal bite dan pergeseran garis median rahang atas ke kiri 1,5 mm. Perawatan menggunakan alat cekat teknik Begg diawali pencabutan kedua gigi premolar pertama atas dan kedua premolar kedua rahang bawah. Tahap pertama perawatan menggunakan multiloop arch wire 0,014”, anchorage bend 45º dan elastik intermaksiler klas II. Setelah 7 bulan perawatan, hasil menunjukkan crowding terkoreksi, overjet besar dan palatal bite terkoreksi sempurna. Overjet menjadi 2,2 mm dan overbite menjadi 2 mm. Kesimpulan dari perawatan maloklusi klas II divisi 1 disertai overjet besar dan palatal bite menggunakan alat ortodontik cekat teknik Begg menunjukkan hasil yang baik.Orthodontic Treatment Of Class II Division 1 Malocclusion With Large Overjet and Palatal Bite Using Orthodontic Begg Technique. Class II division 1 often accompanied with large overjet and palatal bite, treatment of the large overjet and palatal bite would be difficult and time consuming. On orthodontic treatment using Begg technique correction of the large overjet and palatal bite can be done simultaneously for wearing a differential force. Purpose of this article is to present the results of a large overjet correction and palatal bite in case of class II division 1 malocclusion using a fixed orthodontic appliance Begg technique. A 17 years old male patient, complained his crowding and protruding upper teeth. Diagnosis: class II division 1 Angle malocclusion, with class II skeletal relationship, mandibular retrusive and bidental protrusive accompanied moderate crowding, overjet 10.78 mm, palatal bite and upper dental centerline shift to the left 1.5 mm. Treatment using a fixed appliance Begg technique was initiated by extraction two first upper premolars extraction  of maxillary first premolar on both side and mandibular second premolar on both side. The first stage of treatment was conducted using multiloop arch wire 0.014”, anchorage band 45o and class II intermaxillary elastics. After seven month of treatment, the results showed crowding corrected, a large overjet and palatal bite perfectly corrected. Overjet of 2.2 mm and overbite to 2 mm. Orthodontic treatment of class II division 1 malocclusion with large overjet and palatal bite using orthodontic Begg technique showed a good result.