Perkembangan arkeologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari kehidupanmasa silam berdasarkan benda-benda yang ditinggalkan, telah mengalamikemajuan pesat sejak abad 19. Bermula dari minat yang menimbulkanpengkoleksian benda-benda arkeologis, yang berakhir dengan usahauntuk mengungkap beberapa aspek yang mellputi benda tadi, antara lainjenis, fungsi, periode dan sebagainya. Langkah seperti ini mulai terlihatjelas pacrd tahun 1836, ketika J .C Thomsen~ kurator dari Museum Nasional Copenhagen, memperkenalkan Sistem Tiga. iaman (Three Ages ·system) bagi benda-benda hasil koleksinya. Klasifikasi tersebut didasarkan pada bahan dasar, yaitu batu, perunggu dan. besi (Soejono, 1976: 4). Kemudian disusul dengan langkah berikutnya yang lebih terarah, sehingga dalam waktu singkat, Ilmu Arkeologi telah mengalami proses pematangan. Konsekwensi logis dari proses tadi adalah tuntutan metode kerja yang sistematis bagi ilmu ini, seperti yang dinyatakan oleh Fagan sebagai berikut: ''We have talked of Archaeology as a discipline,_a label diliberately chosen because it fits well. The methods of archaeological research imply disicipline--accurate recording. precise excavation, using scientific methode, and detail analysis in the laboratory (Fagan, 1975:7)