Hari Lelono
Unknown Affiliation

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Upacara Kalang Obong (Suatu Tinjauan Etno-Arkeologi) Hari Lelono
Berkala Arkeologi Vol 10 No 1 (1989)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1738.477 KB) | DOI: 10.30883/jba.v10i1.533

Abstract

Dalam masyarakat Jawa dikenal sekelompok penduduk yang disebut 'Wong Kalang' (Orang Kalang). Orang Kalang banyak yang menjadi pedagang kayu atau petani sukses, sehingga mereka hidup berkecukupan. Orang Kalang mendiami beberapa kota dan daerah tertentu, seperti Tegal Gendu (Kata Gede) Yogyakarta, Petanahan dan Ambal di Kebumen, Pekalongan, Semarang, Walikukun, Madiun, Tulungagung, Surabaya, dan di daerah Banyuwangi.
Neptu Dalam Prasasti Jawa Bali (Makna Psiko-Religius) Hari Lelono
Berkala Arkeologi Vol 14 No 2 (1994): Edisi Khusus
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.402 KB) | DOI: 10.30883/jba.v14i2.645

Abstract

Humans as part of nature have a culture that is embraced and believed, both consciously and unconsciously. One of the visible elements of culture is material culture in the form of written works with beautiful poetry, these works in the form of inscriptions.
Tiga Relief Kharmawibangga Candi Borobudur Hari Lelono
Berkala Arkeologi Vol 15 No 1 (1995)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.423 KB) | DOI: 10.30883/jba.v15i1.651

Abstract

The subject is not a general discussion, but a special discussion includes case studies to reveal the phenomena carved at the foot of the Borobudur temple, or better known as Kharmawibangga. This part of the foot of the candi does not appear as a whole, because of the safety and sustainability of the temple itself, as a reinforcing material. Therefore, not everyone can see these reliefs, but from libraries by archaeologists such as Van Erp, Soekmono, and Casparis, photographic recordings can help in this study.
Pola Mobilitas Pedagang Pasar Tradisional Hari Lelono
Berkala Arkeologi Vol 15 No 2 (1995)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.98 KB) | DOI: 10.30883/jba.v15i2.659

Abstract

Archaeological research on markets is actually very interesting to study in the context of cultural reconstruction of past societies. Archaeology in Indonesia cannot do this research by itself using an archaeological approach, but it needs support from other sciences such as sociology and anthropology. Until now, it has not been found market site in the excavation, therefore to trace a common thread is to anology the traditional markets that still exist in some areas.
Kualitas Pentatahan Relief Di Kompleks Candi Prambanan Hari Lelono
Berkala Arkeologi Vol 16 No 2 (1996)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1184.787 KB) | DOI: 10.30883/jba.v16i2.753

Abstract

Apakah ada hubungan antara teknik pentatahan dengan tema cerita? Seperti diketahui pada Candi Ciwa dan Brahma (cerita Ramayana) mengisahkan perjalanan seorang bangsawan atau raja, sehingga memerlukan asesoris yang lengkap. Sebaliknya pada Candi Wisnu cerita Kresnayana mengisahkan "perjalanan hidup" Kresna berperan sebagai "manusia yang banyak bergaul dengan lingkungan masyarakat bawah. Dalam hal kualitas pentatahannya secara berurutan adalah sebagai berikut: Pertama candi Ciwa, kedua Candi Brahma, dan yang ketiga Candi Wisnu. Khususnya pada Candi Brahma karena merupakan kelanjutan dari cerita Ramayana, teknik pentatahan setingkat lebih baik dibandingkan dengan Candi Wisnu.
Busana Bangsawan Dan Pendeta Wanita Pada Masa Majapahit: Kajian Berdasarkan Relief-Relief Candi Hari Lelono
Berkala Arkeologi Vol 19 No 1 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1514.358 KB) | DOI: 10.30883/jba.v19i1.796

Abstract

Dalam tulisan ini akan dilakukan terhadap kajian pada relief candi di Jawa Timur, dimana candi-candi tersebut dibangun pada masa kerajaan Majapahit berkuasa. Relief yang digambarkan mengandung unsur cerita yang populer pada masa itu, misalnya cerita Sri Tanjung, Panji, Bubuksah dan Gagangaking, serta Jarum Atat. Selain berdasarkan relief candi-candi tersebut, dalam prasasti masa Jawa kuna telah disebutkan adanya jenis kain batik yang digunakan oleh masyarakat pada masa itu. Di Jawa Timur berhasil diarnati pada dua relief candi yakni; Candi Pendopo Penataran abad XIlI - XV M dan Candi Kendalisodo abad XV- XVI M. Pada kedua candi tersebut, relief wanita digambarkan menggunakan busana yang berbeda, baik dari segi bentuk dan cara memakainya.
Teknik Wawancara Dalam Studi Etnoarkeologi Hari Lelono
Berkala Arkeologi Vol 20 No 1 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (747.563 KB) | DOI: 10.30883/jba.v20i1.802

Abstract

Dalam konteks etnoarkeologi data yang dibutuhkan adalah informasi sebanyak-banyaknya tentang konsep, dan persepsi, oleh karena itu ditekankan pada penjaringan data lewat informan bukan pada responden. Dua hal tersebut sangat penting, karena mempunyai implikasi yang sangat berbeda. Informan adalah orang yang dapat memberikan informasi seluas-Iuasnya berdasarkan pada persepsi budaya yang dimiliki. Sedangkan, responden adalah orang yang memberi respon kepada peneliti, sehingga data yang diperoleh adalah sesuai dengan angan-angan/konsep yang dimiliki oleh peneliti. Sementara itu, data yang dibutuhkan adalah untuk menjembatani budaya materi yang ditinggalkan (material culture) data tersebut berupa keterangan-keterangan, sehingga akan lebih tepat kalau menggunakan informan. Syarat-syarat sebagai informan yang baik di dalam penelitian ada ketentuan yang harus dipenuhi. Memang, idealnya ketentuan yang akan di bahas di bawah memenuhi seluruh persayaratan, tetapi jika tidak terpenuhi seluruhnya tidak mengurangi validitas dari data/ informasi yang diperlukan.
Pasar Tradisional Dan Mobilitas Pedagang Di Wilayah Gunungkidul (Kajian Awai Etnoarkeologi) Hari Lelono
Berkala Arkeologi Vol 19 No 2 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.247 KB) | DOI: 10.30883/jba.v19i2.825

Abstract

Studi tentang pasar tradisional masih belum banyak dilakukan oleh para peneliti arkeologi, mungkin karena kurangnya minat untuk melakukan studi tersebut. Padahal, jika dicermati dengan seksama pasar-pasar tradisional yang tersebar di kota-kota/ desa- desa Jawa, mengandung fenomena-fenomena sosial, ekonomis, budaya, dan teknologis yang mencerminkan suatu tradisi yang sudah ada sejak masa klasik, yakni pengaruh kebudayaan Hindhu dan Buclha di Jawa/Bali. Untuk dapat memperoleh gambaran pasar pada masa lalu tersebut dapat dilakukan melalui dua data, yakni budaya materi dan inforrnasi dari masa lalu (etnografis) dan melakukan analogi dengan pasar-pasar tradisional yang masih ada.
Latar Kepercayaan Yang Mempengaruhi Permukiman Dan Rumah Tengger Di Jawa Timur Hari Lelono
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.66 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.849

Abstract

Dalam kehidupan umat manusia religi secara universal selalu mendapat perhatian khusus, apalagi bagi komunitas rnasyarakat yang 'jauh' dari perkembangan peradaban, sebagai contoh adalah masyarakat yang hidup di daerah pegunungan Tengger. Masyarakat ini menjunjung tinggi hal-hal yang berkaitan dengan imanen atau kepercayaan yang diyakini secara turun -temurun. Mengenai latar kepercayaan komunitas ini secara pasti belum diketahui, tetapi pada saat ini masyarakat Tengger yang tinggal di daerah pegunungan (Wong Gunung) telah berkembang agama: Hindhu, Budha, Islam, dan Kristen. Berkembangnya agama-agama tersebut belum banyak mempengaruhi terhadap adat-istiadat dan upacara-upacara tradisional yang mereka lakukan, seperti kasada, karo, dan entas-entas. Upacara adat secara periodic dilakukan setahun sekali oleh seluruh masyarakat Tengger secara bersama-sama baik yang tinggal di pegunungan maupun di bawah (ngare). Kebersamaan sebagai rasa satu saudara (sakturunan) benar-benar tarnpak dalam kegiatan ritual tersebut tanpa memandang latar agama yang dianut.
Tradisi Yang Berkembang Di Seputar Situs Candi Petirtaan Cabean Kunti Hari Lelono
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2289.597 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.866

Abstract

Daerah lereng gunung Merapi dan Merbabu, rupa-rupanya merupakan tempat yang sejak jaman dahulu selalu ramai. Di daerah Boyolali pada lereng timur Gunung Merapi banyak dijumpai candi-candi petirtaan, diantaranya situs Cabean Kunti/ Sumur pitu. Tradisi yang masih hidup adalan tradisi Nguras Lepen yang dilakukan secara massal oleh seluruh warga Desa Cabean Kunti, dan tradisi Ngirim Lepen yang dilakukan oleh perorangan. Dua tradisi yang masih hidup sama-sama ditujukan kepada penguasa alam raya/ Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat yang diberikan berupa air yang memberikan kehidupan bagi seluruh warga desa.