Muhammad Chawari
Unknown Affiliation

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Pengaruh Islam Sebagai Salah Satu Penyebab Mundurnya Kerajaan Majapahit Muhammad Chawari
Berkala Arkeologi Vol 13 No 2 (1993)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1993.373 KB) | DOI: 10.30883/jba.v13i2.574

Abstract

Sebelum masuknya pengaruh Islam sebagian besar penduduk daerah-daerah di Jawa Timur masih menganut kepercayaan yang berlandaskan pengaruh Hindu maupun Buddha. Selanjutnya dengan cepat pengaruh Islam masuk ke wilayah Kerajaan Majapahit melalui kota-kota pelabuhan. Hal ini disebabkan karena adanya pertentangan antar anggota keluarga kerajaan sepeninggal Raja Hayam Wuruk. Selain itu juga disebabkan karena masyarakat Islam telah menguasai perdagangan di pelabuhan-pelabuhan pantai Utara Jawa Timur.
Masjid Agung Kotagede: Kajian Awal Terhadap Inskripsi Yang Ada Muhammad Chawari
Berkala Arkeologi Vol 14 No 2 (1994): Edisi Khusus
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.831 KB) | DOI: 10.30883/jba.v14i2.638

Abstract

Kotagede is one of the districts in Yogyakarta Municipality, which is located in the southeast of the city. In the past, Kotagede was the first capital of the Islamic Mataram kingdom. This place is an area given by the Sultan of Pajang (Hadiwijaya) to Ki Ageng Arrowing as a gift (Brandes, 1894: 415) for his victory over Aria Penangsang from Jipang. Therefore, it can be said that the Mataram kingdom was pioneered by Ki Ageng Pemanahan, then officially founded by Panembahan Senopati who occupied his palace in Kotagede. This area became the center of government during the Panembahan Senopati era and part of the Sultan Agung era. During the time of Sultan Agung the palace was moved to Kerto.
Inskripsi Berhuruf Arab Di Kompleks Makam Troloyo (Kajian Terhadap Gaya Penulisan, Arti dan Maksud Inskripsi, serta Kronologinya) Muhammad Chawari
Berkala Arkeologi Vol 17 No 2 (1997)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1045.492 KB) | DOI: 10.30883/jba.v17i1.761

Abstract

Dari Kompleks Makam Troloyo dapat diketahui berbagai aspek kepurbakalaan yang berhubungan dengan gejala perkembangan Islam khususnya di Jawa Timur. Lebih khusus lagi berkaitan erat dengan keberadaan Kerajaan Majapahit. Dari berbagai macam penelitian yang pernah dilakukan. baik oleb peneliti asing maupun peneliti pribumi terhadap data kronologi. data keletakan kompleks makam, data ragam hias, data inskripsi. dapat diketahui tentang nilai sejarah, nilai politik, nilai budaya, dan juga nilai agama yang melatarinya.
Arsitektur Bangunan Rumah Tradisional Jawa: Keberadaan Bangunan Tradisional Jawa di Kampung Kauman, Yogyakarta Muhammad Chawari
Berkala Arkeologi Vol 19 No 1 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1349.366 KB) | DOI: 10.30883/jba.v19i1.798

Abstract

Keberadaan Kampung Kauman tidak lepas dari sejarah dan berdirinya Kerajaan Mataram Islam periode terakhir (mulai dinasti Hamengku Buwana). Selain itu, Kauman merupakan salah satu bagian dari birokrasi Kerajaan Mataram tersebut. Beberapa tahun setelah kerajaan ini berdiri, mulai dipikirkan untuk membangun sebuah tempat ibadah (masjid). Akhirnya bangunan masjid besar ini berdiri kira-kira 18 tahun setelah Pangeran Mangkubumi dilantik sebagai sultan dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwana I. Setelah masjid ini berdiri, kemudian pihak kerajaan menempatkan seorang penghulu kerajaan. Penghulu ini bertugas untuk mengurusi operasional masjid. Penghulu ini menempati rumahnya yang terletak di sebelah utara masjid. Di kemudian hari tempat ini (rumah dan kantor) terkenal dengan sebutan "pengulon". Dengan demikian pengulon ini berarti rumah dan lingkungannya tempat kedudukan seorang penghulu kraton.
Bentuk Dan Arti Seni Hias Pada Masjid Besar Kauman Yogyakarta Muhammad Chawari
Berkala Arkeologi Vol 20 No 1 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1155.327 KB) | DOI: 10.30883/jba.v20i1.811

Abstract

Pada umumnya orang Jawa di dalam membuat sesuatu hal atau untuk menyampaikan pesan-pesannya seringkali tidak langsung. Artinya bahwa pesan-pesan atau hal-hal yang berhubungan dengan estetika tersebut disampaikan melalui atau memakai tanda atau gambar tertentu. Pemakaian tanda-tanda tersebut berhubungan erat dengan ajaran agama Islam, mengingat gambar atau seni hias yang akan dikemukakan ini berada di dalam bangunan suci yaitu masjid. Demikian juga keberadaan seni bias yang terdapat pada Masjid Besar Kauman Y ogyakarta.
Perkotaan Pasuruan Di Era Kolonial Belanda Pada Sekitar Abad XVIII s.d. XIX Muhammad Chawari
Berkala Arkeologi Vol 22 No 1 (2002)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1518.764 KB) | DOI: 10.30883/jba.v22i1.851

Abstract

Di awal keberadaannya, Pasuruan merupakan kota tradisional yang berkembang akibat adanya pengaruh dari pusat-pusat budaya yang berkembang di sekitamya. Pusat-pusat budaya tersebut antara lain Kerajaan Singasari, Kerajaan Blambangan, Kerajaan Majapahit, dan Kerajaan Mataram. Selain itu terdapatnya pelabuhan tradisional, yang berkembang karena adanya pedagang dari sekitar Pasuruan. Kota tradisional tersebut berpusat pada sebuah alun-alun dengan kantor bupati yang terletak di sebelah utara alun-alun. Selain adanya Masjid Agung yang terletak di sebelah barat alun-alun. Selain pedagang lokal, juga terdapat pedagang asing. Pedagang-pedagang asing tersebut salah satunya adalah Belanda. Pedagang-pedagang Belanda tersebut kemudian menetap dan selanjutnya membuat koloni tersendiri sesuai dengan kepentingannya yaitu untuk mempertahankan eksitensinya. Dengan adanya pedagang asing yang menetap tersebut kemudian muncul permukimannya -- akhirnya menjadi sebuah kota dengan segala fasilitas dan kelengkapannya.
Bentuk Makam-Makam Belanda Di Cilacap Dan Purworejo Muhammad Chawari
Berkala Arkeologi Vol 23 No 1 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1328.241 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i1.865

Abstract

Makam-makam Belanda yang terdapat di Indonesia - khususnya Jawa, lebih khusus lagi di Cilacap dan Purworejo - mempunyai bentuk yang khas. Bentuk-bentuk tersebut sangat berbeda dengan bentuk-bentuk makam orang-orang pribumi pada umumnya. Perbedaan tersebut tidak hanya pada bentuk makam, tetapi juga ukuran, dan variasinya. Dengan mempelajari bentuk-bentuk makam Belanda tersebut dapat diketahui latar belakang adanya perbedaan bentuk makam antara satu individu dengan individu yang lain dalarn masyarakat Belanda di Indonesia.
Beberapa Tinggalan Kepurbakalaan Islam Di Kawasan Yogyakarta Bagian Selatan: Kaitannya Dengan Kerajaan Mataram Islam Muhammad Chawari
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1508.697 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i2.879

Abstract

Seiring dengan hal tersebut, dari beberapa penelitian di daerah Istimewa Yogyakarta bagian selatan yang dilakukan dalam bentuk survei dan ekskavasi oleh Balai Arkeologi Yogyakarta mulai tahun 1978, telah dihasilkan sejumlah bukti-bukti peninggalan Islam, baik berupa bangunan, benda-benda non monumental, maupun sisa-sisa pemukiman dan hasil kegiatan manusia. Setelah dicermati, hasil-hasil peninggalan tersebut sebagian besar dapat diketahui kronologinya, yaitu berasal dari sekitar abad XVI s.d. XVIII, meskipun beberapa data sulit untuk dapat diketahui kronologi yang sesungguhnya.
Model Pemanfaatan Bangunan Tradisional Jawa Sebagai Salah Satu Objek Wisata Budaya (Kasus di Kampung Kauman Yogyakarta) Muhammad Chawari
Berkala Arkeologi Vol 24 No 1 (2004)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2605.838 KB) | DOI: 10.30883/jba.v24i1.899

Abstract

The name "Kauman" means the dwelling place of a group of religious experts, where the village is closely related to the existence of the Yogyakarta Sultanate Palace. This palace was founded around 1755, based on the Giyanti agreement which divided the Mataram Kingdom into two, namely the Yogyakarta Sultanate and the Surakarta Sunanate. Meanwhile, the establishment of Kauman Village was not much different from the founding of the Kraton Yogyakarta, because the Grand Mosque which was located in Kauman Village was founded in 1773. Thus, the existence of this village is certainly not much different from the establishment of the Grand Mosque.
Permasalahan Restorasi Dan Konservasi Penerapannya pada Candi Morangan, Yogyakarta Muhammad Chawari
Berkala Arkeologi Vol 25 No 1 (2005)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.172 KB) | DOI: 10.30883/jba.v25i1.907

Abstract

In the effort of preservation (including maintenance) and utilization (including management), the main activities are in the form of conservation which includes restoration. So restoration is one form of activity in conservation, in addition to maintenance, preservation, reconstruction, and adaptation. In order to restore the Morangan Temple, the first thing to do is reconstruction on paper. This reconstruction is to see how far the restoration of the Morangan Temple can be done.