Retno Handini
Unknown Affiliation

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Song Keplek: Okupasi Intensif Manusia Pada Periode Pasca-Plestosen Di Gunung Sewu Retno Handini; Harry Widianto
Berkala Arkeologi Vol 18 No 2 (1998)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2145.675 KB) | DOI: 10.30883/jba.v18i2.785

Abstract

Song Keplek merupakan sebuah gua (cave) yang berada di jajaran Pegunungan Selatan Jawa, yang secara tradisional dikenal dengan sebutan Gunung Sewu. Daerah yang memanjang dari barat (Wonosari) ke timur (Pacitan) ini memiliki bentang morfologi tersendiri yang khas, yang dicirikan oleh perbukitan karst berbentuk sinoid. Di salah satu lereng perbukitan inilah --yang secara administrasi termasuk dalam wilayah Desa Pagersari, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan-- Song Keplek tertetak, sekitar 300 meter di sebelah barat daya jalan raya Wonogiri - Pacitan.
Gua Braholo: Karakter Hunian Mikro Pada Awal Kala Holosen Di Gunung Sewu Retno Handini; Harry Widianto
Berkala Arkeologi Vol 19 No 1 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2785.021 KB) | DOI: 10.30883/jba.v19i1.790

Abstract

Terletak di Desa Semugih, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Gua Braholo merupakan salah satu gua hunian prasejarah yang berada dalam jajaran pegunungan karst Gunung Sewu. Gua ini ditemukan oleh Bidang Prasejarah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, ketika dilakukan survei di seluruh wilayah Gunung Sewu pada tahun 1996. Belasan gua ditemukan di bagian barat pegunungan ini dan salah satu di antaranya adalah Gua Braholo, yang kemudian ditindaklanjuti dengan melaksanakan ekskavasi pada tahun 1997 dan 1998.
Distribusi Dan Karakter Situs-Situs Neolitik Di Kecamatan Bantarkalong Dan Karangnunggal, Tasikmalaya, Jawa Barat Retno Handini
Berkala Arkeologi Vol 19 No 2 (1999)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.448 KB) | DOI: 10.30883/jba.v19i2.819

Abstract

Pola situs perbengkelan dari budaya neolitik yang terletak tidak jauh dari aliran sungai -dan terutama di Kecamatan Bantarkalong dan Karangnunggal ini beserta karakter teknologis yang melekat pada unsur budayanya-- mengingatkan kita pada situs-situs serupa Iainnya seperti situs-situs perbengkelan gelang batu yang ada di daerah Limbasari dan Ponjen (Purbalingga) yang umumnya juga berada di dekat aliran sungai. Hal ini dapat dipahami, karena pada masa itu, sungai memegang peranan sangat penting bagi kehidupan manusia, baik untuk sarana transportasi maupun untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, sehingga tempat hunian mereka selalu diupayakan untuk dekat dengan sumber air. Apalagi pada masa neolitik, mereka sudah mulai menerapkan cara bercocok tanam, sehingga kebutuhan akan air sangat tinggi.
Pertanggalan Absolut Situs Kubur Kalang : Signifikasinya Bagi Periodisasi Kubur Peti Batu Di Daerah Bojonegoro Dan Tuban, Jawa Timur Retno Handini
Berkala Arkeologi Vol 23 No 2 (2003)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1713.156 KB) | DOI: 10.30883/jba.v23i2.873

Abstract

Pertanggalan absolut kami bagi budaya Kubur Kalang merupakan pertanggalan pertama yang diperoleh dari kelompok budaya ini. Hasilnya menunjukkan angka 1420 AD hingga 1620 AD. Ini berarti bahwa Kubur Kalang di Bojonegoro tersebut merupakan suatu tradisi prasejarah, yang masih dipraktekkan oleh sekelompok masyarakat bagi penguburan pada periode tersebut di atas. Apabila pertanggalan tersebut diaplikasikan dalarn kerangka sejarah di Jawa, maka angka tertua (1420 AD) akan jatuh pada pemerintahan Bhre Hyang Purwawicesa sebagai salah satu raja dalam Dinasti Girindrawardhana dari akhir periode kerajaan Majapahit, sementara angka termuda (1620 AD) akan menunjuk pada pertengahan pemerintahan Sultan Agung dari kerajaan Mataram Islam. lmplikasinya, pendukung budaya Kubur Kalang di Bojonegoro tersebut bisa jadi merupakan kubur dari kelompok rakyat jelata ketika budaya Hindu telah masuk dan berkembang di Indonesia, seperti sinyalemen Stutterheim, atau bahkan bentuk kubur dari kelompok Kalang pada masa pemerintahan Sultan Agung.
PERTANGGALAN ABSOLUT SITUS KUBUR KALANG : SIGNIFIKASINYA BAGI PERIODISASI KUBUR PETI BATU DI DAERAH BOJONEGORO DAN TUBAN, JAWA TIMUR Retno Handini
Berkala Arkeologi Vol. 23 No. 2 (2003)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v23i2.873

Abstract

Our absolute dating for the Kubur Kalang culture is the first date obtained from this cultural group. The results show the numbers 1420 AD to 1620 AD. This means that the Kalang Burials in Bojonegoro is a prehistoric tradition, which is still practiced by a group of people. If this dates are applied in the historical framework in Java, the oldest number (1420 AD) will fall to the reign of Bhre Hyang Purwawicesa as one of the kings in the Girindrawardhana dynasty from the end of the Majapahit kingdom period, while the youngest figure (1620 AD) will refer to the middle of the Sultan Agung's reign from the Islamic Mataram kingdom. The implication is that the supporter of Kubur Kalang culture in Bojonegoro could be the burial of common people when Hindu culture has entered and developed in Indonesia, such as indicated by Stutterheim, or even during the reign of Sultan Agung.
DISTRIBUSI DAN KARAKTER SITUS-SITUS NEOLITIK DI KECAMATAN BANTARKALONG DAN KARANGNUNGGAL, TASIKMALAYA, JAWA BARAT Retno Handini
Berkala Arkeologi Vol. 19 No. 2 (1999)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v19i2.819

Abstract

The pattern of workshop sites from the neolithic culture which is located not far from the river--and especially in Bantarkalong and Karangnunggal Subdistricts along with the technological character--reminds us of other similar sites such as the stone bracelet workshop sites in Limbasari and Ponjen (Purbalingga) areas, which are generally also near streams. This can be understood, because at that time, rivers played a very important role for human life, both for transportation and for meeting their daily water needs, so that their shelter was always strived to be close to water sources. Especially during the Neolithic era, they have started to apply farming methods, so that the need for water is very high.
GUA BRAHOLO: KARAKTER HUNIAN MIKRO PADA AWAL KALA HOLOSEN DI GUNUNG SEWU Retno Handini; Harry Widianto
Berkala Arkeologi Vol. 19 No. 1 (1999)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v19i1.790

Abstract

Located in Semugih Village, Rongkop District, Gunung Kidul Regency, Yogyakarta Special Region Province, Braholo Cave is one of the prehistoric settlement caves located in the karst mountain range of Gunung Sewu. This cave was discovered by the Prehistoric Division of the National Archaeological Research Center, when a survey was carried out throughout the Mount Sewu area in 1996. Dozens of caves were found in the western part of this mountain and one of them is the Braholo Cave, which was then followed up by carrying out excavations in 1997 and 1998.
SONG KEPLEK: OKUPASI INTENSIF MANUSIA PADA PERIODE PASCA-PLESTOSEN DI GUNUNG SEWU Retno Handini; Harry Widianto
Berkala Arkeologi Vol. 18 No. 2 (1998)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v18i2.785

Abstract

Song Keplek is a cave located in the Southern Mountains of Java, which is traditionally known as Gunung Sewu. This area that extends from west (Wonosari) to east (Pacitan) has its own distinctive morphological landscape, which is characterized by sinoid-shaped karst hills. On one of these hilly slopes - which is administratively included in the area of Pagersari Village, Punung District, Pacitan Regency - Song Keplek is located, about 300 meters southwest of the Wonogiri - Pacitan highway.
SARKOFAGUS DAN RITUAL SEDEKA ORONG DI SITUS AI RENUNG, SUMBAWA Retno Handini
Naditira Widya Vol. 11 No. 2 (2017): Naditira Widya Volume 11 Nomor 2 Oktober Tahun 2017
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Situs Ai Renung merupakan situs kompleks megalitik di Desa Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat yang terbagi menjadi lima situs, yakni Ai Renung 1, 2 3, 4, dan 5, dengan temuan utama berupa sarkofagus. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bentuk dan ornamen sarkofagus di situs Ai Renung serta ritual yang dilakukan masyarakat Batu Tering yang memanfaatkan keberadaan sarkofagus tersebut. Permasalahan dalam penelitianini adalah bagaimana sarkofagus dari masa lalu tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar situs Ai Renung sebagaimedia ritual pemujaan leluhur. Metode yang digunakan adalah observasi atau pengamatan langsung dan wawancaramendalam dengan informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs Ai Renung merupakan wilayah yang dianggapsakral, terutama di situs Ai Renung 2 sebagai lokasi ritual sedeka orong. Sarkofagus Ai Renung memiliki kekhasan dari segi bentuk dan teknologi pahatan, yaitu berupa manusia kangkang dan buaya yang dipahatkan hampir di seluruh permukaan batuan. Ai Renung is a megalithic complex site at Batu Tering Village, Moyo Hulu District, Sumbawa regency, West Nusa Tenggara, which is divided into five sites, namely Ai Renung 1, 2, 3, 4, and 5, whith the main findings are sarcophagi. The research is aimed to reveal shapes and ornaments of sarcophagi at Ai Renung 2, as well as a ritual performed by the Batu Tering inhabitants that involves the sarcophagi. The problem in this research is how sarchopagi of the past have beenexploitating by the society aound the site as a ritual medium of ancestor worship. The methods here are direct observationand in-depth interviews with some informants. The result shows that Ai Renung site is a sacred place, particularly Ai Renung 2, where sedeka orong rituals are performed. The Ai Renung sarcophagi have unique of shape and carving technology in the form of human figures with wide-opened legs and crocodile-shaped which are carved all over the sarcophagi's stone surface.