Ni Made Nujita Mahartati
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kohort Retrospektif: Mortalitas COVID-19 pada Kelompok Lanjut Usia di Provinsi Bali Tahun 2020 Ni Luh Putu Suariyani; Ni Made Nujita Mahartati
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 32 No 2 (2022)
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/mpk.v32i2.5413

Abstract

COVID-19 adalah penyakit menular baru yang disebabkan oleh novel coronavirus SARS-CoV-2 dan memiliki spektrum manifestasi yang luas mulai dari infeksi tanpa gejala hingga pneumonia berat dan gagal napas. Lansia (usia ) menjadi kelompok yang paling berisiko tinggi mengalami kematian jika terinfeksi COVID-19. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kematian pasien COVID-19 pada kelompok lansia di Provinsi Bali Tahun 2020. Penelitian dengan desain kohort retrospektif ini melibatkan 720 pasien terkonfirmasi COVID-19 pada kelompok lansia yang dipilih dengan metode simple random sampling. Analisis multivariable dengan Regresi Poisson. Data dikumpulkan dengan mengakses sistem pendataan terintegrasi COVID-19 di Provinsi Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komorbid hipertensi (IRR=2,8; p-value = <0,001; 95%CI= 1,642 – 4,818), diabetes mellitus (IRR=2,36; p-value = 0,001; 95%CI= 1,432 – 3,810), gangguan jantung (IRR=3,07; p-value = 0,001; 95%CI= 1,592 – 5,932), gangguan ginjal (IRR=3,31; p-value = <0,001; 95%CI= 1,788 – 6,134), gejala sulit bernafas (IRR=1,73; p-value = 0,022; 95%CI= 1,082–2,775), dan tempat perawatan (IRR=4,56; p-value = 0,001, 95%CI=1,901 – 10,967) merupakan variable yang paling berpengaruh terhadap kematian pasien COVID-19 pada kelompok lansia di Provinsi Bali Tahun 2020. Pasien usia lanjut, dengan faktor risiko tersebut harus dipertimbangkan lebih serius dalam penangannya. Pemantauan ketat dan pengobatan tepat waktu menjadi solusi dalam meningkatkan pemulihan pasien.
Faktor Risiko Kegagalan Pengobatan Tuberkulosis: Systematic Review Mahartati, Ni Made Nujita; Syahrizal Syarif
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 7 No. 4 (2024): April 2024
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i4.5157

Abstract

Latar belakang: Kegagalan pengobatan Tuberkulosis (TB) menjadi salah satu faktor masifnya penyebaran TB serta menimbulkan penambahan pasien TB Resisten Obat (RO). Indonesia belum berhasil mencapai target keberhasilan pengobatan TB pada tahun 2021. Tujuan: Tujuan dari tinjauan sistematis ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kegagalan pengobatan TB di berbagai negara agar nantinya dapat menjadi referensi dalam penanggulangan masalah TB di Indonesia. Metode: Terdapat empat database (PubMed, Scopus, EMBASE dan MEDLINE) yang digunakan untuk menelusuri artikel. Kata kunci yang digunakan untuk pencarian diantaranya: (tuberculosis) OR (TB) AND (treatment failure) OR (treatment default) OR (treatment flop). Penelusuran artikel pada tinjauan sistematis ini mengacu pada PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta Analysis) diagram. Hasil: Analisis dilakukan pada enam artikel yang berasal dari negara yang berbeda-beda, yaitu Burkina Faso, Pakistan, Etiopia, China, Kolombia, dan Malaysia. Hanya satu artikel yang menggunakan desain case-control sementara sisanya merupakan studi kohort retrospektif. Karakteristik sampel mayoritas laki-laki dan berada pada rentang usia produktif. Dalam penelitian ini ditemukan faktor-faktor yang berhubungan dengan kegagalan pengobatan TB, antara lain adalah usia, jenis kelamin laki-laki, pendidikan, kasus TB berulang, TB-HIV, diabetes mellitus, perokok, serta faktor lainnya, seperti tinggal di perkotaan, penurunan berat badan, waktu mulai pengobatan, beban basil, tingkat keparahan penyakit, tatalaksana pengobatan, pengawasan minum obat, penggunaan obat-obatan (narkoba), dan lokasi TB esktra paru juga termasuk dalam faktor risiko kegagalan pengobatan TB. Kesimpulan: Diperlukan upaya-upaya untuk mengatasi faktor risiko untuk mengurangi kegagalan pengobatan TB, seperti pendampingan pengobatan khususnya bagi pasien lansia, kolaborasi layanan berhenti merokok dalam praktik standar manajemen kasus TB, serta mencegah adanya koinfeksi TB-HIV dengan melakukan skrining pada kelompok rentan.
GAMBARAN STATUS KARIES GIGI DAN KUALITAS HIDUP BERKAITAN DENGAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA NELAYAN DI KOTA MANADO Rizka Wahyuni; Ni Wayan Mariati; Vonny Norry Sisca Wowor; Ni Made Nujita Mahartati; Virginia Eucharisty Wowor
JURNAL KEPERAWATAN Vol. 14 No. 01 (2026): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/j-kp.v14i01.65126

Abstract

Background: Dental caries is one of the most prevalent oral health issues. Untreated caries can lead to various complications that negatively impact an individual’s quality of life across physical, psychological, environmental, social, and spiritual dimensions. Objective: This study aims to describe the dental caries status and oral health-related quality of life (OHRQoL) among fishermen in Manado City. Methods: This quantitative study employed a cross-sectional design. Sampling was conducted using a purposive sampling method, involving 32 fishermen in Manado City as respondents. Dental caries status was measured using the DMF-T index, while the quality of life was assessed using the OHIP-14 questionnaire. Results: Among the 32 respondents, the majority (46.88%) fell into the "very high" category of the DMF-T index. Conversely, regarding oral health-related quality of life, most respondents (59.38%) were categorized as having a "good" quality of life based on the OHIP-14 scores. Conclusion: The majority of fishermen exhibited a very high prevalence of dental caries; however, their perceived quality of life remained in the good category.   Keywords: Dental Caries; Fishermen; Oral Health; Quality of Life