Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

SINTESIS, KARAKTERISASI DAN APLIKASI BIO-IMPREGNAN DARI KULIT BATANG SAWIT Jamaludin Malik; Adi Santoso; Jamal Balfas
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 40, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2022.40.2.81–92

Abstract

Formulasi bahan fenolik yang diekstrak dari biomassa tidak hanya menghasilkan perekat tapi juga dapat dijadikan sebagai bio-impregnan. Bio-impregnan adalah bahan untuk perlakuan impregnasi yang berasal dari makhluk hidup, pada umumnya dari ekstraksi bagian tumbuhan seperti kulit, batang, dan lain-lain. Pada penelitian ini, sintesis dilakukan dengan kopolimerisasi resorsinol (R) dan formaldehida (F) terhadap ekstrak kulit batang sawit (S) sehingga menghasilkan fluida resin SRF. Karakterisasi secara lengkap dilakukan dengan menggunakan FTIR, Py-GCMS, XRD dan DTA. Selain itu emisi formaldehida juga dilakukan untuk memastikan keamanannya terhadap kesehatan dan lingkungan. Aplikasi bio-impregnan dilakukan terhadap sampel kayu sawit bagian keras (pinggir) dan bagian lunak (tengah) dari batang sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit batang sawit mengandung komponen polifenol yang memiliki afinitas kuat terhadap resorsinol dan formaldehida dengan katalis basa (NaOH 40%), sehingga dapat membentuk kopolimer yang dapat digunakan sebagai impregnan. Aplikasi bio-impregnan tersebut dapat meningkatkan kualitas batang sawit pada semua bagian batang dari kelas V menjadi kelas kuat III dengan peningkatan kerapatan (>100%), kekerasan (4 kali), pengembangan tebal baik dalam air dingin maupun air mendidih memenuhi persyaratan (<25%), serta emisi formaldehida yang memenuhi standar SNI 03-2105-2006.
PENGARUH PRAPERLAKUAN BAHAN BAKU TERHADAP KUALITAS PAPAN LAMINA ROTAN Adi Santoso; Gustan Pari; Krisdianto Krisdianto; Karnita Yuniarti; Jasni Jasni; Heru Wibisono
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 40, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2022.40.2.105–114

Abstract

Rotan berpotensi dikembangkan menjadi produk komposit dengan teknologi perekatan menjadi rotan lamina. Namun sebagai bahan baku, rotan memiliki kelemahan, yakni mengandung komponen kimia yang bersifat menghambat ikatan perekat dengan molekul-molekul kimia rotan. Upaya mengatasi hal tersebut, dilakukan teknik penyempurnaan pembuatan rotan komposit guna memperoleh data efek perlakuan pendahuluan pada rotan sebagai bahan baku. Rotan sebagai bahan baku terlebih dahulu dikeringkan dengan gelombang mikro, penguapan hidrothermal dan cara konvensional  guna menurunkan kadar komponen kimia penghambat perekatan yang terkandung dalam rotan. Tulisan ini menyajikan hasil penelitian tentang teknologi pembuatan rotan lamina dari jenis Batang (Calamus zolingerii) berdiameter besar (>20 mm) dengan perekat tanin mangium.  Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pendahuluan pada rotan sebagai bahan baku berupa pengeringan dengan cara oven, steam, penggorengan, hidrothermal, dan gelombang mikro,  masing-masing menghasilkan efek yang berbeda terhadap komponen kimia yang terkandung dan derajat kristalinitasnya. Papan lamina rotan terbaik diperoleh dari rotan yang diberi perlakuan pendahuluan menggunakan gelombang mikro  oven 1 kW (input) dengan kekuatan energi maksimum 50%.
SINTESIS, KARAKTERISASI DAN APLIKASI BIO-IMPREGNAN DARI KULIT BATANG SAWIT Jamaludin Malik; Adi Santoso; Jamal Balfas
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 40, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2022.40.2.81–92

Abstract

Formulasi bahan fenolik yang diekstrak dari biomassa tidak hanya menghasilkan perekat tapi juga dapat dijadikan sebagai bio-impregnan. Bio-impregnan adalah bahan untuk perlakuan impregnasi yang berasal dari makhluk hidup, pada umumnya dari ekstraksi bagian tumbuhan seperti kulit, batang, dan lain-lain. Pada penelitian ini, sintesis dilakukan dengan kopolimerisasi resorsinol (R) dan formaldehida (F) terhadap ekstrak kulit batang sawit (S) sehingga menghasilkan fluida resin SRF. Karakterisasi secara lengkap dilakukan dengan menggunakan FTIR, Py-GCMS, XRD dan DTA. Selain itu emisi formaldehida juga dilakukan untuk memastikan keamanannya terhadap kesehatan dan lingkungan. Aplikasi bio-impregnan dilakukan terhadap sampel kayu sawit bagian keras (pinggir) dan bagian lunak (tengah) dari batang sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit batang sawit mengandung komponen polifenol yang memiliki afinitas kuat terhadap resorsinol dan formaldehida dengan katalis basa (NaOH 40%), sehingga dapat membentuk kopolimer yang dapat digunakan sebagai impregnan. Aplikasi bio-impregnan tersebut dapat meningkatkan kualitas batang sawit pada semua bagian batang dari kelas V menjadi kelas kuat III dengan peningkatan kerapatan (>100%), kekerasan (4 kali), pengembangan tebal baik dalam air dingin maupun air mendidih memenuhi persyaratan (<25%), serta emisi formaldehida yang memenuhi standar SNI 03-2105-2006.
PENGARUH PRAPERLAKUAN BAHAN BAKU TERHADAP KUALITAS PAPAN LAMINA ROTAN Adi Santoso; Gustan Pari; Krisdianto Krisdianto; Karnita Yuniarti; Jasni Jasni; Heru Wibisono
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 40, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2022.40.2.105–114

Abstract

Rotan berpotensi dikembangkan menjadi produk komposit dengan teknologi perekatan menjadi rotan lamina. Namun sebagai bahan baku, rotan memiliki kelemahan, yakni mengandung komponen kimia yang bersifat menghambat ikatan perekat dengan molekul-molekul kimia rotan. Upaya mengatasi hal tersebut, dilakukan teknik penyempurnaan pembuatan rotan komposit guna memperoleh data efek perlakuan pendahuluan pada rotan sebagai bahan baku. Rotan sebagai bahan baku terlebih dahulu dikeringkan dengan gelombang mikro, penguapan hidrothermal dan cara konvensional  guna menurunkan kadar komponen kimia penghambat perekatan yang terkandung dalam rotan. Tulisan ini menyajikan hasil penelitian tentang teknologi pembuatan rotan lamina dari jenis Batang (Calamus zolingerii) berdiameter besar (>20 mm) dengan perekat tanin mangium.  Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pendahuluan pada rotan sebagai bahan baku berupa pengeringan dengan cara oven, steam, penggorengan, hidrothermal, dan gelombang mikro,  masing-masing menghasilkan efek yang berbeda terhadap komponen kimia yang terkandung dan derajat kristalinitasnya. Papan lamina rotan terbaik diperoleh dari rotan yang diberi perlakuan pendahuluan menggunakan gelombang mikro  oven 1 kW (input) dengan kekuatan energi maksimum 50%.
SIFAT PAPAN KOMPOSIT SABUT KELAPA DENGAN PEREKAT TANIN-LATEKS Heru Satrio Wibisono; Erlina Nurul Aini; Gustan Pari; Dede Hermawan; Novitri Hastuti; Dian Anggraini Indrawan; Adi Santoso; Mahdi Mubarok
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 44 No. 1 (2026): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : BRIN Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jphh.2026.1103

Abstract

Many research related to the manufacture of composite boards using environmentally friendly raw materials has been done. Various eco-friendly materials have been proven capable of producing composite boards with quality not inferior to those made from synthetic raw materials. In Indonesia, coconut fiber has great potential to be developed as a raw material for composite products, while tanin and latex are also considered prospective for adhesives. This research examined the quality of composite boards made from coconut fiber with tanin and latex-based adhesives. The composite board manufacturing was carried out by varying the particle size factors (passed 40 mesh, retained at 60 mesh, and passed 60 mesh, retained at 80 mesh), board thickness (0.5 and 1 cm), and adhesive amount (0, 5, and 10%). The pressing conditions used were 170°C for 20 minutes. The composite boards were then tested for water content, density, thickness swelling, flexural strength, internal adhesive strength, and screw-holding strength in accordance with SNI 03-2105. The results showed that particle board with a particle size of passed 40 mesh retained 60 mesh, a thickness of 1 cm, and an adhesive amount of 10% had relatively better board characteristics compared to a board with a particle size of passed 60 mesh retained 80 mesh, a thickness of 0.5 cm, and an adhesive amount of 0% and 5%. The test results showed there was a need to do further research in order to improve the quality of coconut coir particleboard bonded with tannin-latex adhesive, as the other board properties, except internal bond strength and moisture content, had not fulfilled the requirement of SNI 03-2105 yet.