Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Kelayakan Finansial Croissant Tinggi Serat Berbasis Tepung Jewawut (Setaria italica L.) Ahmad Haris Hasanuddin Slamet; Yani Subaktilah; Nadhifah Al Indhis; Ade Galuh Rakhmadevi
JURNAL AGRIBISNIS Vol. 14 No. 1 (2025): Jurnal Agribisnis Volume 14 No 1 Tahun 2025
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/agribisnis.v14i1.4020

Abstract

Croissant merupakan produk pastry khas dari Prancis yang biasanya disajikan dengan mentega maupun selai. Croissant memiliki potensi yang besar sebagai produk yang diinginkan oleh konsumen. Tingginya penggunaan terigu sebagai bahan baku pembuatan Pastry mendorong Pemerintah untuk menggunakan bahan baku pangan lokal sebagai pengganti terigu. Jewawut memiliki potensi sebagai sumber daya lokal pengganti terigu. Jewawut memiliki serat pangan tinggi berupa selulosa, ester fenolik, glikoprotein, dan hemiselulosa. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kelayakan finansial pada rencana usaha croissant. Metode kuantitatif dan kualitatif digunakan pada penelitian ini. Selanjutnya hasil perhitungan dilakukan analisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan nilai R/C ratio sebesar 1,34, PP 1,99 tahun, NPV Rp. 16.053.506, IRR 46%, dan Net B/C ratio 1,54. Secara keseluruhan hasil analisis kelayakan finansial menunjukkan usaha croissant berbasis tepung jewawut layak untuk dikembangkan. Croissant is a typical French pastry product that is usually served with butter or jam. Croissant has great potential as a product desired by consumers. The high use of wheat as a raw material for making Pastry encourages the Government to use local food raw materials as a substitute for wheat. Millet has the potential as a local resource to replace wheat. Millet has high dietary fiber in the form of cellulose, phenolic esters, glycoproteins, and hemicellulose. The purpose of this study was to analyze the financial feasibility of a croissant business plan. Quantitative and qualitative methods were used in this study. Furthermore, the calculation results were analyzed descriptively. The results showed an R/C ratio of 1.34, PP 1.99 years, NPV Rp. 16,053,506, IRR 46%, and Net B/C ratio 1.54. Overall, the results of the financial feasibility analysis showed that a croissant business based on millet flour is feasible to be developed.
Optimalisasi Formulasi Muffin Tepung Jagung dan Tepung Labu Kuning Menggunakan Design Expert Metode Simplex Lattice Design Putri Devitasari; Ade Galuh Rakhmadevi; Agung Wahyono
Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia Vol 17, No 2 (2025): Vol. (17) No. 2, Oktober 2025
Publisher : Agriculture Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Muffin merupakan salah satu produk roti berbasis terigu yang praktis dan enak, namun memiliki kandungan serat yang rendah karena rendahnya kandungan serat pada terigu. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formula optimal muffin dengan penambahan tepung jagung dan tepung labu kuning (Cucurbita moschata) sebagai alternatif tepung terigu guna meningkatkan kandungan serat pangan. Metode Simplex Lattice Design (SLD) digunakan untuk menentukan proporsi optimal tepung jagung, tepung labu kuning, dan tepung terigu berdasarkan parameter tekstur, volume spesifik, dan kadar serat kasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa validasi terhadap formula optimal yang terdiri dari 60% tepung jagung dan 20% tepung labu kuning menghasilkan nilai rata-rata aktual untuk tekstur yaitu sebesar 5,10 dengan prediksi 5,16 dan akurasi 96,89%. Untuk volume spesifik, rata-rata nilai aktualnya yaitu 2,65 dengan prediksi 2,80 dan akurasi 95,71%. Kadar serat kasar memiliki rata-rata nilai aktual 9,238 dengan prediksi 9,513 dan akurasi 97,95%. Validasi menggunakan one sample t-test menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antara nilai prediksi dan nilai aktual. Artinya, model prediksi yang dikembangkan mampu menghasilkan muffin dengan tekstur yang baik, volume spesifik yang tinggi, dan kadar serat yang meningkat. Untuk mengetahui penerimaan produk muffin dengan penambahan tepung jagung dan tepung labu kuning terhadap konsumen, dilakukan uji hedonik. Secara keseluruhan, hasil uji hedonik menunjukkan muffin diterima dengan baik oleh konsumen, terutama pada aspek warna, aroma, dan penampilan keseluruhan, meskipun ada variasi penilaian pada tekstur dan rasa. Produk ini menunjukkan potensi diterima oleh konsumen, sesuai tujuan diversifikasi pangan.