Tadjoer Ridjal
Universitas Darul 'Ulum Jombang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Identifikasi Tingkah Laku Siswa dari Keluarga Broken Home (Studi Kasus tentang Keluarga Broken Home dan Tingkah Laku Siswa MTs) Jauharotul Mahnunin; Tadjoer Ridjal
Jurnal Thalaba Pendidikan Indonesia Vol. 4 No. 1 (2021)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Darul ‘Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.46 KB) | DOI: 10.32492/thalaba.v4i1.505

Abstract

Keluarga Broken home merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suasana keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalannya kondisi keluarga yang rukun dan sejahtera sehingga menyebabkan terjadinya konflik dan perpecahan dalam keluarga tersebut. Selain itu broken home juga bias diartikan sebagai suatu keluarga yang tidak utuh dalam segi struktur dan tidak berfungsi dengan baik apa yang dinamakam fungsi keluarga. Penyebab dari keluarga broken home adalah bermacam-macam, bisa disebabkan karena perceraian orangtua, ayah atau ibu atau keduanya meninggal dunia, ayah atau ibu atau kedunya bekerja jauh di luar daerah, ayah atau ibu sibuk bekerja karena keadaan ekonomi yang mendesak serta karena jauh dari nilai-nilai agama yang ditanamkan oleh orangtuanya. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dengan perspektif studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam dan observasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrument observasi. Untuk uji keabsahan data dilakukan triangulasi data berupa triangulasi metode, triangulasi sumber dan triangulasi waktu. Kegiatan analisis data dimulai dari analisis sebelum di lapangan dan analisis selama di lapangan yang meliputi tahap deskriptif, tahap reduksi dan tahap seleksi. Berdasarkan analisis data tersebut, diperolah kesimpulan bahwa Tingkah laku siswa di MTs AM yang disebabkan karena broken home ini juga beragam, ada tingkah laku positif dan ada tingkah laku yang negatif atau menyimpang. Tentunya tingkah laku positif ini tidak muncul dengan sendirinya tetapi dibarengi dengan kontrol yang baik serta perhatian yang maksimal dari orangtua. Sebaliknya, apabila orangtua lepas kontrol serta tidak memberikan perhatian yang lebih terhadap anak dan tidak menanamkan nilai-nilai baik nilai agama, nilai berperilaku dan nilai dalam bertutur kata, maka anak akan mempunyai tingkah laku yang negatif atau menyimpang.
Upaya Meningkatkan Kemandirian Anak Melalui Mendongeng Dengan Media Boneka Tangan Pada Kelompok Bermain Habibur Rohman Siti Masruroh; Bakhrudin All Habsy; Siti Arifah; Tadjoer Ridjal
Jurnal Thalaba Pendidikan Indonesia Vol. 2 No. 2 (2019)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Darul ‘Ulum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.906 KB)

Abstract

Penelitian ini berdasarkan kenyataan dilapangan bahwa kemandirian anak usia dini belum sesuai harapan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemandirian anak melalui kegiatan mendongeng.Kegiatan mendongeng dalam penelitian ini menggunakan media boneka tangan.Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas.Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik KB Habibur Rahman sebanyak 16 anak.Prosedur penelitan meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi setiap siklusnya.Penelitian ini dilakukan dalam 1 siklus yang terdiri dari 4 pertemuan, dikarenakan hasil siklus I telah sesuai dengan indikator yang telah ditentukan.Indikator kemandirian anak meliputi kemandirian emosi, kemandirian perilaku, dan kemandirian nilai anak.Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi.Teknik analisis data menggunakan analisis kuantitatif. Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil analisis yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa melalui kegiatan mendongeng menggunakan media boneka tangan mampu meningkatkan kemandirian anak di KB Habibur Rohman, yang ditunjukkan dengan persentase peningkatan sebesar 39,24%. Saran dari penelitian ini, guru BK diharapkan dapat merancang program bimbingan dan konseling bidang belajar agar lebih variatif dalam menggunakan metode agar anak lebih bersemangat lagi dalam belajar dan tidak monoton.Untuk lembaga PAUD, diharapkan Bimbingan dan Konseling di Lembaga PAUD dapat lebih intensif dalam membimbing anak agar lebih mandiri lagi ketika proses belajar. Sedangkan untuk lembaga swasta, diharapkan penelitian ini dapat digunakan acuan untuk meningkatkan kemandirian anak usia dini.