Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SEME’ SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA WANITA SUMBAWA Silvi Nuriaten; Aka Kurnia
KAGANGA KOMUNIKA: Journal of Communication Science Vol. 3 No. 2 (2021): Edisi 5
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Teknologi Sumbawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.776 KB) | DOI: 10.36761/kagangakomunika.v3i2.1517

Abstract

Seme’ sebagai sebuah identitas budaya telah dikenal, dipraktekkan, dan dilestarikan hingga saat ini oleh masyarakat Sumbawa. Tradisi tersebut dibawa oleh para leluhur untuk menjaga kulit dari sengatan matahari, dapat dikatakan Seme’ adalah bentuk sunblock tradisional yang bahan dasarnya berasal dari alam dan mudah didapatkan. Adapun Seme’ dalam sebuah perspektif identitas menjadi ciri khas yang menghasilkan bentuk visual pada wajah wanita Sumbawa. Misalnya seorang wanita menggunakan Seme’ pada siang hari di sawah artinya wanita tersebut berprofesi sebagai petani, juga menandakan cuaca sedang terik sehingga memakai Seme’ akan membantu menyejukkan wajah. Identitas ini yang kemudian menjadi topik penelitian ini, menggunakan teori komunikasi identitas milik Michael Hecht yang membagi komunikasi identitas diantaranya tahap personal layer, enactment layer, dan communal layer. Ketiga tahapan tersebut menganalisis bagaimana sebuah identitas dapat terbentuk dalam suatu masyarakat baik indvidu maupun kelompok. Pada penelitian ini ditemukan bahwa Seme’ dalam sebuah identitas tidak hanya sebatas media perawatan wajah, namun bagi orang Sumbawa Seme’ memiliki manfaat kegunaan yang kompleks dalam hal ini Seme’ sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Sumbawa. Contohnya Seme’ dalam tradisi ritual adat Barodak, Seme’ dalam tradisi sunatan (Basunat dalam bahasa Sumbawa), Seme’ sebagai media pengobatan tradisional. Dari hasil wawancara kepada 11 narasumber, rata-rata informan memberikan jawaban yang hampir serupa terkait manfaat dan tujuan penggunaan Seme’. Hal tersebut menghasilkan bahwa Seme’ sebagai sebuah identitas budaya telah dikenal sejak dulu memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh para pelestarinya. Kata kunci: Seme’, Identitas, Budaya, Sumbawa
Analisis Semiotik Foto Jurnalistik: Covid-19 di Indonesia Karya Adek Berry Dita Karmiati; Aka Kurnia
JUPEIS : Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 2 No. 3 (2023): JUPEIS: Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial
Publisher : Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jupeis.Vol2.Iss3.763

Abstract

Fotografi jurnalistik adalah foto yang bernilai berita atau foto yang menarik bagi pembaca tertentu, dan informasi tersebut disampaikan kepada masyarakat sesingkat mungkin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pesan dan tanda dalam karya foto jurnalistik Adek Berry yang mengulas seputar pandemi Covid-19 di Indonesia. Interpretasi tanda terhadap karya fotografi jurnalistik karya Adek Berry pada masa pandemi Covid-19 dianalisis dengan menggunakan pendekatan analisis semiotik Charles Sanders Peirce yang menggunakan konsep triadic yang mana suatu tanda (sign) memiliki interpretant dan representament. Melalui analisis semiotik Peirce, peneliti mendalami pemahaman terhadap variasi tanda (sign), objek dan interpretant yang terkandung dalam setiap karya fotografi. Hasil pemaknaan pada hasil karya fotografi jurnalistik Adek Berry mengenai pandemi Covid-19 di Indonesia dapat dikategorikan menurut tanda (sign), seluruh fotografi yang diteliti dapat dikategorikan sebagai sinsign menurut tipologi tanda Peirce, karena merepresentasikan satu fenomena atau situasi tertentu yang unik pada kerangka peristiwa selama pandemi Covid-19 di Indonesia. Foto pertama, kedua, dan kelima dikategorikan sebagai indeks karena memiliki hubungan fisik atau kausal dengan objek yang direpresentasikan. Foto keempat dikategorikan sebagai simbol karena mengandung konvensi sosial atau makna yang terbentuk melalui interpretasi dan konvensi budaya. Foto ketiga, keenam, dan ketujuh dikategorikan sebagai ikon karena ada kemiripan visual atau representasi yang mirip antara objek dan tanda yang ditunjukkan.
Kritik Sosial Dalam Lagu Berjudul “Revolusi” Karya Band Defamation (Analisis Wacana Kritis) Randi Gunawan; Aka Kurnia
Harmoni: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Sosial Vol. 1 No. 3 (2023): September : Jurnal Ilmu Komunikasi dan Sosial
Publisher : Universitas Katolik Widya Karya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59581/harmoni-widyakarya.v1i3.952

Abstract

This research analyzes social criticism in the lyrics of the song "Revolusi" by Dery Firmansyah (Defamation). The lyrics of this song serve as a medium for the creator to express their critical message towards the government. The research adopts a qualitative method and applies the Van Dijk Model as a framework for critical discourse analysis, particularly in understanding the structure and production processes of the text. Through discourse analysis, the study examines the elements of criticism related to the lyrics that function as a medium for criticizing the government. The main theme of the lyrics is to critique the prevailing issues at that time. The findings of the research indicate that lyrics can be used as a medium for social criticism, as evidenced by the macro structure, superstructure, micro structure, social cognition, and social context identified through text analysis.