Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MEMPERTIMBANGKAN KEMBALI RASIONALITAS EKONOMI DARI PERSPEKTIF EMBEDEDDNESS ECONOMICS Urbanus Ura Weruin; Febiana Rima Kainama2
PROSIDING SERINA Vol. 2 No. 1 (2022): PROSIDING SERINA IV 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.433 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v2i1.18484

Abstract

Riset kepustakaan (library research) dengan metode analisi isi ini bertujuan untuk menunjukkan pertimbangan terhadap rasionalitas ekonomi dari perspektif sosiologi ekonomi menurut konsep embededdness economics. Artikel ini dimulai dengan menunjukkan pengertian rasionalitas, memetakan rasionalitas ekonomi menurut pemikiran ekonomi neoklasik, merumuskan pemahaman tentang rasionalitas ekonomi menurut perspektif embededdness economics, untuk kemudian merumuskan karakteristik dan kritik terhadap rasionalitas ekonomi dari perspektif embededdness economics. Menurut konsep ‘ketertanaman’ ekonomi ini, asumsi dan gambaran tentang “manusia ekonomi” yang sepenuhnya rasional karena mampu mempertimbangkan semua prilaku ekonomi secara tepat dan holistik sebagaimana dianut oleh Rational Choice Theory (RCT) tak lagi memadai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jika ekonomi neoklasik memahami rasionalitas prilaku ekonomi bersifat subjektif, mendasarkan diri pada penalaran, self-interest; mengedepankan kegunaan; holistik karena kemampuan rasional individu, serta bersifat pasti; pandangan sosiologi ekonomi dengan konsep embededdness rationality justru menunjukkan bahwa rasionalitas atau kalkulasi ekonomi tidak pernah hanya bersumber dari pikiran, idea, gagasan individual-subjektif yang steril dari pengaruh lingkungan atau jaringan sosial, melainkan bersumber pada jaringan  relasi sosial. Referensi bagi rasionalitas ekonomi bukan semata-mata pada individu yang rasional, self-interest, melainkan pada social-interest, altruism, atau demi kebaikan bersama. Karena pemikiran dan prilaku ekonomi tertanam dalam insititusi, relasi, dan jaringan sosial. Prilaku ekonomi tidak tercerabut dari institusi dan relasi sosial lain di luar ekonomi. Pasar sebagai institusi dan praktik ekonomi, ditentukan oleh ide, kalkulasi, pertimbangan, dan keputusan sosial, politik, dan kebudayaan. Rasionalitas ekonomi, menurut sosiologi ekonomi, merupakan blanded rationality; tertanam dalam lingkungan, insititusi, dan jaringan sosial (networking rationality); dan dengan demikian tidak pernah pasti dan komplet.
MENGGALI SUMBANGAN FILSAFAT BAGI PEMAHAMAN TERHADAP KEWIRAUSAHAAN URBANUS URA WERUIN
JURNAL EKONOMI, SOSIAL & HUMANIORA Vol 6 No 03 (2024): INTELEKTIVA : JURNAL EKONOMI, SOSIAL DAN HUMANIORA - EDISI SEPTEMBER - DESEMBER
Publisher : KULTURA DIGITAL MEDIA ( Research and Academic Publication Consulting )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu pelaku ekonomi modern yang melahirkan berbagai inovasi, kreativitas, dan kemajuan bisnis adalah wirausahawan. Wirausahawan adalah orang yang memiliki semangat, ketrampilan, visi, tekad, dan keberanian untuk mengatasi segala tantangan; termasuk ketidakpastian bisnis. Sesuai namanya, “entrepreneur” atau dalam bahasa Prancis, “Entrependre” berarti orang yang berani mengambil tindakan atau melakukan sesuatu. Dalam refleksi filsafat, akar kewirausahaan ada pada desire atau habitus (Boudieu). Dalam bahasa Nietsczhe, wirausahawan adalah manusia super yang berani menantang takdir. Maka terdapat hubungan yang sangat erat tantara filsuf dan wirausahawan. Penelitian kepustakaan ini menunjukkan sumbangan pemikiran filsafat bagi pemahaman terhadap kewirausahaan. Umumnya orang mengenal filsuf sebagai orang yang memiliki disiplin diri yang ketat, berpikir dan merenung sendiri, tidak terlibat secara konkret dengan masyarakat, menyenangi dan menulis buku, rasional, retorik; tidak takut mengambil risiko, memiliki pendirian teguh dengan gagasan orisinil dan otonom; mempertanyakan dan merefleksikan topik-topik yang tidak umum dan sulit dipahami, sepertt persoalan metafisik, etis, epistemologis, atau ontologis. Tetapi pemikiran para filsuf benar-benar mengubah dunia dengan gagasan, visi, dan sistem kepercayaan mereka. Wirausahawan juga melakukan hal yang sama. Pada umumnya wirausahawan berprilaku sama seperti seorang filsuf. Seorang wirausahawan terus membayangkan dunia baru dengan ide-ide yang dibangun dari tantangan ekonomi nyata. Seorang wirausahawan sejati berinovasi dengan produk-produk baru yang membanjiri pasar untuk meraih keuntungan dari upaya memnuhi kebutuhan masyarakat. Seorang wirausahawan tak gentar menghadapi tantangan, rintangan, dan problem sembari terus mencari solusi-solusi tepat tak terbayangkan oleh banyak orang. Filsafat menyumbang pemahaman terhadap kewirausahaan. Wirausahawan dan filsuf tidak takut mengambil risiko tidak populer dengan visi, produk, dan solusi mereka tentang dunia. Prinsip-prinsip filosofis seperti keadilan, keutamaan, kesejahteraan, kebaikan, kemampuan menangkap peluang, pengambilan risiko, pengambilan keputusan dalam ketidakpastian, gaya kepemimpinan, dan etika bisnis merupakan sumbangan-sumbangan utama khas filsafat bagi kewirusahaan. Kebijaksanaan filsafati menegaskan bahwa tujuan utama bisnis bukan sekedar mencari keuntungan melainkan untuk mewujudkan common good.