Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

ALOKASI DOSIS BOOSTER VAKSINASI COVID-19 MENURUT JENIS VAKSIN PRIMER DI SV UNTAR PERIODE FEBRUARI 2022 Triyana Sari; Arlends Chris; Olivia Charissa; Dorna Y.L. Silaban
PROSIDING SERINA Vol. 2 No. 1 (2022): PROSIDING SERINA IV 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.006 KB) | DOI: 10.24912/pserina.v2i1.19928

Abstract

Vaksinasi COVID-19 dosis lanjutan/booster merupakan vaksinasi yang diberikan setelah mendapatkan vaksinasi primer dosis lengkap untuk mempertahankan tingkat kekebalan dan memperpanjang masa perlindungan. Pelaksanaan program dosis booster menggunakan vaksin bervariasi. Adanya variasi dari vaksin dan dosis yang diberikan untuk booster, menimbulkan kecenderungan masyarakat untuk memilih dan mencari sentra vaksinasi yang menggunakan vaksin tertentu. Masyarakat cenderung mencari vaksin dengan efek samping yang minimal, walaupun efek samping tersebut bersifat individual. Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan sebagai salah satu fasilitas kesehatan primer, melayani semua vaksinasi, mulai dari dosis 1, dosis 2, dosis lanjutan, dan vaksinasi anak. Dengan banyaknya target cakupan yang harus dicapai, terjadi peningkatan beban kerja Puskesmas dan beresiko terhadap penurunan kinerja serta kurangnya edukasi kepada masyarakat mengenai efek vaksin yang diterima. Minimnya edukasi secara tidak langsung dapat berdampak pada perlambatan tercapainya cakupan vaksinasi, disebabkan masyarakat menunda mendapatkan booster vaksin terdorong oleh kecenderungan memilih jenis booster vaksin yang tersedia. Sentra vaksinasi booster Untar diadakan pada tanggal 2-4 Februari 2022 dengan jumlah peserta 665 orang, dengan 95.8% mendapat vaksin primer Sinovac, sedangkan sisanya (4.2%) mendapat vaksin primer Astra Zeneca Vaksin yang digunakan satu jenis, yaitu Moderna, selain pengelolaan vaksin lebih mudah, juga mengurangi resiko ketidaksesuaian pemberian jenis serta dosis booster vaksin terhadap vaksin primernya. Tim vaksinator pun memiliki waktu mengedukasi masyarakat penerima vaksin mengenai dosis booster vaksin dan efek yang mungkin terjadi secara komprehensif, sehingga diharapkan penerima vaksin memahami dan mampu menyikapi efek vaksinasi secara tepat.