Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

EFEKTIVITAS JENIS DAN DOSIS FUNGISIDA SERTA PEMANGKASAN DALAM MENEKAN PERTUMBUHAN PENYAKIT KARAT TUMOR Lelana, Neo Endra; Anggraeni, Illa; Dendang, Benyamin
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan Tanaman
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.392 KB)

Abstract

ABSTRACT Efforts to develop control techniques of gall rust disease caused by fungi,Uromycladium tepperianum still need to be continued. This study aims to examine the effectiveness of different types and doses of copper-based and boron-based fungicide formulations in suppressing gall rust disease on sengon. The results showed that both fungicides tested showed different effectiveness. Treatment of CC fungicide at a dose of 10% with both pruning and non pruning within two months were able to suppress gall rust as many as 4.2 pieces. Meanwhile, treatment of PG fungicide at a dose of 10% with pruningwere able to suppress gall as many as of 4.8 pieces, treatment without pruning was only able to suppress tumor about 1.6 pieces. CC fungicide apparently could be applied to suppress gall rust without pruning treatment while PG fungicide combined with pruning treatment was more effective.ABSTRAKSerangan penyakit karat tumor pada sengon (Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes) yang disebab- kan oleh fungi Uromycladium tepperianum (Sacc.) Mc. Alpin. masih terjadi di hampir semua wilayah pertanaman sengon di Jawa. Upaya pengembangan teknik pengendalian penyakit ini, seperti pengembangan fungisida alternatif masih perlu dilakukan. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui efektivitas jenis dan dosis fungisida hasil formulasi berbasis tembaga dan boron serta pemangkasan yang dilakukan dalam menekan pertumbuhan penyakit karat tumor pada tanaman sengon. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan faktorial dalam rancangan acak lengkap dengan tiga faktor, yaitu pemangkasan, jenis fungisida dan dosis yang digunakan. Fungisida sebanyak 10 ml diaplikasikan pada tanaman sengon dengan metode injeksi batang setiap bulan. Hasil penelitian menunjukkan kedua fungisida yang diuji menunjukkan efektivitas yang berbeda. Perlakuan fungisida CC dosis 10% pada tanaman sengon yang dipangkas dan tidak dipangkas dalam waktu dua bulan mampu menekan karat tumor sebesar 4,2 buah. Pada perlakuan fungisida PG dosis 10% pada tanaman yang dipangkas mampu menekan karat tumor sebesar 4,8 buah, tetapi pada sengon yang tidak dipangkas mampu menekan karat tumor sebesar 1,6 buah. Fungisida CC lebih efektif menekan karat tumor pada sengon yang tidak dipangkas sedangkan pada sengon yang dipangkas lebih efektif menggunakan fundisida PG.
KEEFEKTIFAN CAMPURAN GARAM TEMBAGA -KHROMIUM- BORON TERHADAP RAYAP DAN JAMUR PERUSAK KAYU (Effectiveness of Copper-Chromate-Boron Salts Formula Against Wood Termites and Fungi) Barly, Barly; Lelana, Neo Endra; Ismanto, Agus
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2094.562 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2010.28.3.222-230

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi toksisitas formula garam tembaga-khromium-boron terhadap serangan rayap dan jamur perusak kayu. Dalam penelitian ini digunakan bahan kimia kualitas teknis. Hasil pengujian menunjukkan bahwa bahan pengawet yang digunakan sangat efektif mencegah serangan rayap tanahCoptotermes curvignathus Holmgren dan rayap kayu kering Cryptotermes cynocephalus Light. Keefektifan ditunjukkan oleh tingkat mortalitas rayap 100% pada konsentrasi 1% dan retensi lebih dari 5,30 kg/m3. Namun demikian terhadap jamur pelapuk kayu Schizophyllum commune konsentrasi efektif diperoleh pada larutan 7,5% dan retensi di atas 30 kg/m3.
TOKSISITAS BAHAN PENGAWET BORON-KROMIUM TERHADAP SERANGGA DAN JAMUR PELAPUK KAYU Lelana, Neo Endra; Barly, Barly; Ismanto, Agus
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2676.074 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2011.29.2.142-154

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji toksisitas bahan pengawet boron-kromium terhadap rayap dan jamur pelapuk kayu. Bahan yang digunakan merupakan bahan kimia dengan kualitas teknis. Pengawetan contoh uji dilakukan menggunakan proses vakum tekan dengan lima konsentrasi yang berbeda. Untuk pengujian terhadap rayap tanah, 200 ekor pekerja rayap tanah Coptotermes curvignathus Holmgren dimasukkan ke dalam jam pot yang berisi media pasir dan contoh uji berupa kayu yang berukuran 25 mm x 25 mm x 5 mm. Untuk rayap kayu kering, lima puluh ekor pekerja rayap kayu kering Cryptotermes cynocephalus Light dimasukkan ke dalam tabung gelas berdiameter 18 mm dengan tinggi 35 mm yang dipasang pada salah satu sisi terlebar contoh uji yang berukuran 50 mm x 25 mm x 20 mm. Sementara terhadap jamur pelapuk kayu, pengujian dilakukan dengan jamur Schizophyllum commune yang dibiakkan dalam mediapotato dextrose agar (PDA). Hasil pengujian menunjukkan bahwa bahan pengawet yang digunakan efektif mencegah serangan rayap tanah C. curvignathus Holmgren dan rayap kayu kering C. cynocephalus Light. Efektivitas bahan pengawet dengan menyebabkan mortalitas rayap sebesar 100% diperoleh pada konsentrasi 1% dengan retensi masing-masing 6,01 kg/m3dan 5,64 kg/m3. Namun demikian terhadap jamur pelapuk kayu S. commune konsentrasi efektif diperoleh pada larutan 7,5% dengan retensi 45,44 kg/m3.
PENGARUH KETEBALAN KAYU, KONSENTRASI LARUTAN DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP HASIL PENGAWETAN KAYU Barly, Barly; Lelana, Neo Endra
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1630.36 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2010.28.1.1-8

Abstract

Sifat keterawetan kayu dicirikan oleh jenis kayu, keadaan kayu, teknik dan bahan pengawet yang digunakan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh ketebalan kayu, konsentrasi bahan pengawet dan lama perendaman terhadap hasil pengawetan kayu yang dicapai. Kayu kering, sengon (Paraseriantheus falcataria (L.) Nielsen) dan tusam (Pinusmerkusii Jungh. et de Vries) diawetkan menggunakan campuran boraks dan asam borat dengan proses rendaman dingin dan rendaman panas. Retensi dinyatakan dalam kg/m3asam borat (BAE) dan penetrasi dalam persen luas bidang yang ditembus. Pada perendaman dingin, retensi tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan dengan lama perendaman 168 jam pada konsentrasi 10%, yaitu sebesar 32,58 kg/m3, sedangkan terendah ditunjukkan oleh perlakuan dengan lama perendaman 24 jam pada konsentrasi 5%, yaitu sebesar 8,17 kg/m3. Sementara itu pada perendaman panas, retensi tertinggi ditunjukkan oleh tebal kayu 15 mm dengan lama perendaman 7 jam, yaitu sebesar 11,54 kg/m3dan terendah ditunjukkan oleh tebal kayu 45 mm dengan lama perendaman 1 jam, yaitu sebesar 3,44 kg/m3.
PENGARUH KETEBALAN KAYU, KONSENTRASI LARUTAN DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP HASIL PENGAWETAN KAYU Barly, Barly; Lelana, Neo Endra
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2010.28.1.1-8

Abstract

Sifat keterawetan kayu dicirikan oleh jenis kayu, keadaan kayu, teknik dan bahan pengawet yang digunakan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh ketebalan kayu, konsentrasi bahan pengawet dan lama perendaman terhadap hasil pengawetan kayu yang dicapai. Kayu kering, sengon (Paraseriantheus falcataria (L.) Nielsen) dan tusam (Pinusmerkusii Jungh. et de Vries) diawetkan menggunakan campuran boraks dan asam borat dengan proses rendaman dingin dan rendaman panas. Retensi dinyatakan dalam kg/m3 asam borat (BAE) dan penetrasi dalam persen luas bidang yang ditembus. Pada perendaman dingin, retensi tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan dengan lama perendaman 168 jam pada konsentrasi 10%, yaitu sebesar 32,58 kg/m3, sedangkan terendah ditunjukkan oleh perlakuan dengan lama perendaman 24 jam pada konsentrasi 5%, yaitu sebesar 8,17 kg/m3. Sementara itu pada perendaman panas, retensi tertinggi ditunjukkan oleh tebal kayu 15 mm dengan lama perendaman 7 jam, yaitu sebesar 11,54 kg/m3 dan terendah ditunjukkan oleh tebal kayu 45 mm dengan lama perendaman 1 jam, yaitu sebesar 3,44 kg/m3.
UJI ANTAGONIS Trichoderma sp. TERHADAP FUNGI PATOGEN Pestalotiopsis sp. PENYEBAB PENYAKIT HAWAR DAUN PADA TANAMAN Eucalyptus Khaerani, Nuraliefah; Haryani, Tri Saptari; Lelana, Neo Endra
Ekologia: Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup Vol 24, No 1 (2024): Ekologia : Jurnal Ilmiah Ilmu Dasar dan Lingkungan Hidup
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/ekologia.v24i1.9149

Abstract

Leaf blight disease has become one of the significant ailments in Eucalyptus spp. forest plants. This disease can lead to plant growth disruption and even plant mortality. This research aims to evaluate the antagonistic abilities of several Trichoderma isolates against Pestalotiopsis fungi associated with Eucalyptus leaf blight disease. The research was conducted using the dual culture method, wherein both Trichoderma isolates and the pathogen were cultivated on the same petri dish. The obtained data were analyzed using ANOVA at a 5% significance level, followed by the Duncan test in case of significant differences. The results of BLAST analysis of pathogens causing leaf blight have the highest similarity with Pestalotiopsis uvicola, which is equal to 99.82%. The Results test antagonist show percentage inhibition Trichoderma to pathogen Pestalotiopsis biggest showed by isolate TL122 ie of 65.333%, followed with isolates TL411 and TL631 ie consecutive by 54.49% and 49.33%. The T.L.122 isolate was declared to be the most effective as a potential antagonist fungus against the Pestalotiopsis pathogen which causes leaf blight in Eucalyptus plants.
Morphological and Molecular Characterization of Pestalotiopsis sp. Associated with Leaf Spot Disease in Eucalyptus pellita Endrawati, Silvia; Haryani, Tri Saptari; Lelana, Neo Endra
Journal of Science Innovare Vol 8, No 1 (2025): Journal of Science Innovare, Volume 08 Number 02 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jsi.v8i1.12814

Abstract

Leaf spot disease is one of the most common foliar infections affecting Eucalyptus pellita, a fast-growing tree species widely cultivated for pulp and paper industries in Indonesia. This study aimed to isolate and identify the fungal pathogen associated with the disease through morphological and molecular characterization. Symptomatic leaves were collected from E. pellita stands in KHDTK Parungpanjang, and fungal isolation was performed on Potato Dextrose Agar (PDA). Morphological observations revealed that the isolated fungus exhibited white colonies with purple pigmentation at the center and conidia containing four septa—typical characteristics of Pestalotiopsis species. Molecular identification was conducted using Internal Transcribed Spacer (ITS) region sequencing of rDNA, followed by BLAST analysis against the NCBI GenBank database. Sequence alignment and phylogenetic tree reconstruction confirmed that the isolate (PT.E002) shared 100% similarity with Pestalotiopsis mangiferae, P. clavispora, P. maculans, and P. microspora. The phylogenetic analysis indicated a close relationship between the PT.E002 isolate and P. maculans. These results validate the presence of Pestalotiopsis sp. as the main pathogen associated with leaf spot disease in Eucalyptus pellita. The integration of morphological and molecular analyses enhances the accuracy of pathogen identification, contributing valuable insights for forest disease management and sustainable Eucalyptus cultivation programs.
Evaluation of Leaf Spot and Blight Diseases in Mahogany (Swietenia mahagoni) Seedlings in Rumpin Nursery, Bogor Regency, Indonesia Islami, Naluri Siyasah; Istikorini, Yunik; Lelana, Neo Endra; Wulandari, Arum Sekar
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 16 No 1 (2026): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB (PPLH-IPB) dan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, IPB (PS. PSL, SPs. IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.16.1.25

Abstract

Seedling propagation in nurseries often faces problems such as disease attack. Leaf spot and blight are the main threats that usually hamper the growth of small-leaf mahogany (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.) seedlings in the nursery. This study aims to determine the incidence and severity of disease, factors affecting the development of leaf spot and blight on small-leaf mahogany seedlings, and identify the causative pathogen. The research method included observations of disease incidence and severity in two sample plots representing the nursery with a sampling intensity of 10%. Leaf samples showing disease symptoms were isolated and tested for Koch’s Postulates. The result showed that the incidence of leaf spot and blight reached 95,44% and the disease severity was lower (44,72%). The environmental conditions at Rumpin Nursery, including high rainfall and humidity, as well as moderate temperatures (22-30 °C), favored the spread of disease. There were four types of fungal pathogens of leaf spot and blight on small-leaf mahogany seedlings, namely Pestalotiopsis sp., Rhizoctonia sp., Colletotrichum sp., and Bipolaris sp., with an incubation period of 1-2 days. This incubation period indicates rapid infectious ability under favorable environmental conditions.