Praktik tax avoidance pada perusahaan manufaktur subsektor makanan dan minuman merupakan isu strategis karena sektor ini menjadi salah satu penyumbang utama penerimaan pajak nasional, namun rawan terhadap dugaan penghindaran pajak. Penelitian terdahulu umumnya menunjukkan ketidakonsistenan hasil mengenai pengaruh profitability, sales growth, dan capital intensity terhadap tax avoidance. Di sisi lain, kajian yang menempatkan cash holding sebagai variabel moderasi dalam hubungan tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh profitability, sales growth, dan capital intensity terhadap tax avoidance, serta peran cash holding dalam memoderasi hubungan antarvariabel tersebut. Penelitian kuantitatif ini menggunakan data sekunder dari laporan keuangan tahunan perusahaan manufaktur subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2020–2024. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sehingga diperoleh 20 perusahaan dengan total 100 observasi. Analisis data dilakukan dengan regresi data panel dan Moderated Regression Analysis (MRA) menggunakan software EViews. Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitability berpengaruh signifikan dengan arah negatif terhadap tax avoidance, capital intensity berpengaruh positif dan signifikan terhadap tax avoidance, sedangkan sales growth tidak berpengaruh signifikan terhadap tax avoidance. Mengenai peran moderasi, cash holding terbukti secara signifikan memoderasi pengaruh profitability (memperkuat) dan capital intensity (memperlemah) terhadap tax avoidance. Namun, cash holding tidak terbukti memoderasi pengaruh sales growth terhadap tax avoidance. Secara simultan, seluruh variabel dalam model berpengaruh signifikan terhadap tax avoidance dengan nilai R-squared sebesar 20,48% (Adjusted R-squared 14,43%). Temuan ini mengindikasikan bahwa profitability, capital intensity, dan interaksinya dengan cash holding merupakan determinan penting dalam praktik tax avoidance pada industri makanan dan minuman.