Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

EDUKASI BUDAYA 5S (SENYUM, SAPA, SALAM, SOPAN, SANTUN) DALAM MENINGKATKAN KARAKTER ANAK USIA SEKOLAH Warsini Warsini; Budi Kristanto; Sri Aminingsih; Tunjung Sri Yulianti
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3 No 1 (2024): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v3i1.319

Abstract

Persoalan karakter merupakan suatu persoalan yang mendasar dan penting. Secara eksplisit pendidikan karakter merupakan amanat UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Permasalahan yang ada adalah banyak pihak yang menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal berdasarkan fenomena sosial yang muncul yaitu kenakalan remaja dalam masyarakat. Tujuan program meningkatkan karakter anak sehingga lebih baik melalui pembudayaan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) sehingga diharapkan sejak kecil anak-anak sudah tertanam karakter yang baik. Solusi yang ditawarkan meliputi edukasi tentang 5S dan penerapan budaya 5S selama jam sekolah berlangsung. Hasil kegiatan yang didapatkan adalah peningkatan pemahaman para siswa tentang budaya 5S. Luaran yang diharapkan adalah publikasi pada jurnal pengabdian kepada masyarakat nasional ber-ISSN.   Kata kunci: anak sekolah, budaya, karakter, pendidikan, sikap   The issue of character is a fundamental and important issue. Character education is explicitly mandated by Law No. 20 of 2003 concerning the National Education System which emphasizes that national education functions to develop abilities and shape the character and civilization of a dignified nation in order to educate the life of the nation and to develop the potential of students to become human beings who believe and are devoted to God. God Almighty, noble, healthy, knowledgeable, capable, creative, independent and a democratic and responsible citizen. The problem that exists is that many parties are demanding an increase in the intensity and quality of the implementation of character education in formal education institutions based on emerging social phenomena, namely juvenile delinquency in society. The aim of the program is to improve children's character so that it is better through cultivating 5S (Smile, Greet, Greeting, Polite, Courteous) so that it is hoped that from childhood children will have good character instilled. The solutions offered include education about 5S and the implementation of 5S culture during school hours. The results of the activities obtained were an increase in students' understanding of 5S culture. The expected output is publication in an ISSN community service journal.   Keywords: attitude, character, culture, education, children
PENGARUH PEMBERIAN SUSU KEDELAI TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI ASI PADA IBU MENYUSUI Sri Aminingsih; Tunjung Sri Yulianti; Warsini
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2023): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v11i2.306

Abstract

Latar belakang: upaya meningkatkan produksi ASI adalah dengan meningkatkan hormon perangsang ASI yaitu hormon prolaktin dan oksitosin serta menurunkan faktor-faktor yang menghambat produksi ASI seperti stres. Beberapa studi menunjukkan bahwa pijat dapat meningkatkan kadar hormon oksitosin, prolaktin,dan menurunkan hormon kortisol. Salah satu zat gizi yang perlu diperhatikan oleh ibu menyusui adalah protein. Setiap 100 ml ASI mengandung 1,2 gram protein, sehingga selama menyusui ibu membutuhkan tambahan protein sebanyak 20 gram/hari. Meningkatnya kebutuhan protein ini untuk membentuk protein susu, sintesis hormon prolaktin dan hormon oksitosin. Sumber protein nabati terbaik berasal dari sumber biji-bijian, seperti kacang tanah, kedelai, dan jagung. Dari interaksi yang dilakukan peneliti kepada salah satu ibu menyusui di kelurahan Mojosongo mengeluh produksi ASI yang sedikit dan tidak lancar sehingga menyebabkan payudara sakit dan bengkak. Hal tersebut juga mengakibatkan bayi kekurangan ASI sehingga bila terjadi terus menerus akan mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian susu kedelai terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui. Subyek dan metode: penelitian ini merupakan penelitian pre post experimental control design untuk mengetahui pengaruh pemberian susu kedelai terhadap peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui dengan cara membandingkan produksi ASI pada ibu sebelum dan sesudah mengkonsumsi susu kedelai. Hasil penelitian menunjukkan uji Mann-Whitney U diperoleh hasil mean pada kelompok kontrol yaitu kelompok tanpa intervensi adalah 14.67, sedangkan kelompok intervensi yaitu dengan pemberian susu kedelai selama 7 hari atau satu minggu adalah 16.33. Berdasarkan nilai perbedaan rata-rata (mean differences) adalah negatif yaitu -5.87  dapat diartikan bahwa hasil setelah diberi intervensi pemberian susu kedelai maupun tanpa intervensi dengan Asymp sig.(2-tailed) nilai p=0,557. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian susu kedelai tidak berpengaruh terhadap peningkatan produksi ASI pada Ibu menyusui.   Kata kunci: Peningkatan produksi ASI, Pemberian susu kedelai   Background: efforts to increase breast milk production are by increasing breast milk stimulating hormones, namely the hormones prolactin and oxytocin and reducing factors that inhibit milk production such as stress. Several studies show that massage can increase levels of the hormone oxytocin, prolactin, and decrease the hormone cortisol. One of the nutrients that breastfeeding mothers need to pay attention to is protein. Every 100 ml of breast milk contains 1.2 grams of protein, so during breastfeeding mothers need an additional 20 grams of protein per day. The increased need for this protein to form milk protein, synthesis of the hormone prolactin and the hormone oxytocin. The best sources of vegetable protein come from whole grains, such as peanuts, soybeans and corn. From the interactions that the researchers carried out with one of the breastfeeding mothers in the Mojosongo sub-district, they complained that their milk production was small and not smooth, causing sore and swollen breasts. This also causes the baby to lack breast milk so that if this happens continuously it will interfere with the baby's growth and development process. The aims of the study was to determine the effect of giving soy milk to increase milk production in nursing mothers. Subject and method: this research design is pre post experimental control design to know the effect of giving soy milk to increasing milk production in nursing mothers by comparing the production of breast milk in mothers before and after consuming soy milk. The result showed that after the Mann-Whitney U test, the mean in the control group, namely the group without intervention, was 14.67, while the intervention group, namely giving soy milk for 7 days or one week, was 16.33. Based on the value of the mean difference (mean differences) is negative, namely -5.87, it can be interpreted that the results after being given the intervention of giving soy milk or without intervention with Asymp sig. (2-tailed) value of p = 0.557. The Conclusion showed that there is no significant effect of giving soy milk to increase milk production in nursing mothers.   Keywords: child character, family environment
SYSTEMATIC REVIEW AND META ANALYSIS PENGARUH UMUR DAN STATUS EKONOMI LANSIA TERHADAP RISIKO ELDERLY ABUSE Diyono Diyono; Budi Kristanto; Sri Aminingsih; Tunjung Sri Yulianti
KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 12 No. 1 (2024): KOSALA : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Panti Kosala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/kjik.v12i1.323

Abstract

Latar belakang: Jumlah kelompok usia lanjut (lansia) meningkat drastis seiring dengan peningkatan usia harapan hidup. Proyeksi jumlah lansia di Indonesia tahun 2035 mencapai 48,2 juta jiwa 15,77%, lebih tinggi dari angka global yaitu 28,8 juta (11,34%). Semakin lanjut usia individu akan diikuti dengan penurunan kemampuan fisik dan produktifitas sehingga sering menjadi beban keluarga. Tujuan penelitian ini untuk Mengidentifikasi pengaruh umur dan status ekonomi lansia terhadap risiko elderly abuse berdasar studi literatur. Metode Systematic Review dengan basis data Science Direct, Google schoolar, dan PubMed menggunakan program Harzing’s Publish or Peris.  Medical Subject Heading (Mesh) “risk factors” yang dikombinasikan dengan “Elderly Abuse” OR “elderly negelct” OR “elderly maltreatment”. Meta analisis menggunakan program MedCalc Statistic Seri 22. Hasil penelitian 1). Umur yang sangat lanjut meningkatkan terjadinya elderly abuse (OR=47,82; p:<0,001;CI: 11,804 to 14,577). 2) Status ekonomi lansia tidak meningkatkan risiko Elderly Abuse (p=0,436). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan usia yang sangat lanjut meningkatkan risiko elderly abuse, sedangkan status ekonomi lansia tidak berpengaruh terhadap risiko elderly abuse.   Kata kunci: elderly abuse, elderly maltreatment, elderly neglect, status ekonomi, umur   Background: the number of elderly people (seniors) has increased drastically along with increasing life expectancy. The projected number of elderly people in Indonesia in 2035 will reach 48.2 million people, 15.77%, higher than the global figure of 28.8 million (11.34%). As individuals age, physical abilities and productivity decline, which often becomes a burden on the family. The aim of this research was to identifying the influence of age and economic status of the elderly on the risk of elderly abuse based on literature studies. Methods: Systematic Review with Science Direct, Google Scholar, and PubMed databases using the Harzing's Publish or Peris program. Medical Subject Heading (Mesh) “risk factors” combined with “Elderly Abuse” OR “elderly neglect” OR “elderly maltreatment”. Meta analysis using the MedCalc Statistics Series 22 program. The research results: 1). Very advanced age increases the occurrence of elderly abuse (OR=47.82; p:<0.001; CI: 11.804 to 14.577). 2) The economic status of the elderly does not increase the risk of Elderly Abuse (p=0.436). Conclusion: very advanced age increases the risk of elderly abuse, while the economic status of the elderly has no effect on the risk of elderly abuse.   Keywords: elderly abuse, elderly maltreatment, elderly neglect, economic status, age
EDUKASI DAN PENDAMPINGAN PENGGUNAAN HYPERTENSION SMART CARD DALAM MENDUKUNG SELF-MANAGEMENT PASIEN HIPERTENSI I Putu Juni Andika; Sri Aminingsih; Lilik Sriwiyati; Iswati; Firnanda Erindia; Novita Fajriyah
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i2.491

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama penyakit kardiovaskular, stroke, dan gagal ginjal. Rendah kemampuan pasien dalam melakukan self-managemant menjadi salah satu faktor yang menghambat keberhasilan pengendalian tekanan darah. Kegiatan pengabdian Masyarakat ini bertujuan meningkatkan kemampuan self-managemant pasien hipertensi melalui edukasi dan pendampingan penggunaan Hypertension Smart Card. Kegiatan dilaksanakan pada bulan juni 2026 di Desa Watu Bonang, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, dengan melibatkan 30 pasien hipertensi berusisa ≥50 tahun. Metode yang digunakan meliputi edukasi interaktif, diskusi, demontrasi, praktik penggunaan Hypertension Smart Card, serta pedampingan dalam pemantuan tekanan darah. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah kegiatan observasi kemampuan peserta dalam menggunakan media. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mayoritas peserta berjenis kelamin Perempuan (70,0%) dengan rata-rata usia 64,00 ± 7,98 tahun. Setelah implementasi program, rerata tekanan darah sistolik menurun dari 157,50 ± 12,74 mmHg menjadi 133,07 ± 7,42 mmHg, sedangkan tekanan darah diastolik menurun dari 88,77 ± 7,56 mmHg menjadi 82,13 ± 3,53 mmHg. Peserta juga mampu menggunakan Hypertension Smart Card sebagai media pencatatan tekanan darah dan pengingat aktivitas self-management. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi dan pendampingan menggunakan Hypertension Smart Card berpotensi meningkatkan kemampuan self-management serta mendukung pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi di masyarakat. Kata kunci: edukasi; hipertensi; pendidikan keperawatan; smart card; self-manageman Hypertension is one of the leading non-communicable diseases contributing to cardiovascular disease, stroke, and chronic kidney disease. Limited patient self-management remains a major challenge in achieving optimal blood pressure control. This community service program aimed to improve self-management among patients with hypertension through education and assistance in using the Hypertension Smart Card. The program was conducted in June 2026 in Watu Bonang Village, Tawangsari District, Sukoharjo Regency, Indonesia, involving 30 hypertensive patients aged 50 years and above. The intervention included interactive health education, group discussions, demonstrations, hands-on practice using the Hypertension Smart Card, and continuous assistance in blood pressure monitoring. Program evaluation was carried out by measuring blood pressure before and after the intervention and observing participants' ability to use the card. The participants were predominantly female (70.0%) with a mean age of 64.00 ± 7.98 years. Following the intervention, the mean systolic blood pressure decreased from 157.50 ± 12.74 mmHg to 133.07 ± 7.42 mmHg, while the mean diastolic blood pressure decreased from 88.77 ± 7.56 mmHg to 82.13 ± 3.53 mmHg. Participants were also able to use the Hypertension Smart Card effectively as a self-monitoring and educational tool. These findings indicate that education and assistance using the Hypertension Smart Card can enhance self-management practices and support better blood pressure control among patients with hypertension. Keywords: education; hypertension; nursing education; self-management; smart card
EDUKASI TENTANG PENYAKIT SALURAN PERNAPASAN PADA KOMUNITAS PENGRAJIN SHUTTLECOCK DALAM UPAYA PENDAMPINGAN DAN PEMBINAAN POS UKK DI RT 01 RW 09 TIPES KOTA SURAKARTA Budi Kristanto; Warsini Warsini; Diyono Diyono; Sri Aminingsih; Tunjung Sri Yulianti
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i2.493

Abstract

Gangguan saluran pernapasan merupakan salah satu masalah kesehatan yang berisiko dialami oleh pekerja sektor informal akibat paparan debu, bahan kimia, dan lingkungan kerja yang kurang memadai. Komunitas pengrajin shuttlecock merupakan kelompok pekerja yang berpotensi mengalami gangguan tersebut karena proses produksi menghasilkan debu bulu, serpihan bahan, serta penggunaan lem perekat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pengrajin shuttlecock mengenai pencegahan gangguan saluran pernapasan melalui edukasi kesehatan dan pendampingan Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK). Kegiatan dilaksanakan di RT 01 RW 09 Kelurahan Tipes, Kota Surakarta dengan metode survei pendahuluan, penyuluhan interaktif, diskusi, dan pendampingan. Hasil survei awal menunjukkan bahwa 80% peserta telah bekerja lebih dari enam tahun, 60% bekerja lebih dari delapan jam per hari, 60% terpapar debu bulu selama proses produksi, dan 20% telah mengalami gejala gangguan saluran pernapasan bawah. Edukasi yang diberikan mencakup pengenalan sistem pernapasan, faktor risiko di lingkungan kerja, dampak paparan debu terhadap paru-paru, tanda dan gejala gangguan saluran pernapasan, serta upaya pencegahan melalui penggunaan alat pelindung diri, perbaikan ventilasi, dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat. Peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan, aktif berdiskusi, serta memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya pencegahan gangguan saluran pernapasan di tempat kerja. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan perilaku pencegahan penyakit akibat kerja sekaligus memperkuat peran Pos UKK sebagai wadah pemberdayaan kesehatan kerja bagi pekerja sektor informal. Kata kunci: edukasi kesehatan; gangguan saluran pernafasan; kesehatan kerja; pengrajin shuttlecock; pos ukk Respiratory disorders are among the occupational health problems commonly experienced by informal sector workers due to prolonged exposure to dust, chemical substances, and inadequate working environments. Shuttlecock craftsmen are particularly vulnerable to these disorders because the production process generates feather dust, material particles, and adhesive fumes. This community service program aimed to improve the knowledge and awareness of shuttlecock craftsmen regarding the prevention of respiratory diseases through health education and assistance in strengthening the Occupational Health Post. The program was conducted at RT 01 RW 09, Tipes Village, Surakarta City, using a preliminary survey, interactive health education sessions, group discussions, and community assistance. The preliminary survey revealed that 80% of participants had been working for more than six years, 60% worked more than eight hours per day, 60% were exposed to feather dust during the production process, and 20% had experienced symptoms of lower respiratory tract disorders. The educational program covered the anatomy and function of the respiratory system, occupational risk factors, the effects of dust exposure on lung health, signs and symptoms of respiratory disorders, and preventive measures, including the proper use of personal protective equipment, improvement of workplace ventilation, and the adoption of clean and healthy lifestyle practices. Participants demonstrated high enthusiasm throughout the activity, actively engaged in discussions, and showed improved understanding of the importance of preventing occupational respiratory diseases. This community service program is expected to promote preventive health behaviors and strengthen the role of the Occupational Health Post (Pos UKK) as a community-based occupational health empowerment program for informal sector workers. Keywords: health education; occupational health; Occupational Health Post (Pos UKK); respiratory disorders; shuttlecock craftsmen
EDUKASI PEMERIKSAAN ANTROPOMETRI, PEMERIKSAAN TANDA-TANDA VITAL DAN PRAKTIK 5 MEJA POSYANDU BAGI SISWA SMK GIRI HANDAYANI Ditya Yankusuma Setiani; Ratna Indriati; Warsini Warsini; Sri Aminingsih
Abdimas Kosala : Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2026): ABDIMAS KOSALA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMI KESEHATAN PANTI KOSALA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37831/akj.v5i2.497

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, dengan prevalensi nasional Indonesia sebesar 19,8% pada tahun 2024. Penguasaan keterampilan pemeriksaan antropometri, tanda-tanda vital, dan sistem 5 meja Posyandu merupakan kompetensi esensial bagi siswa SMK jurusan kesehatan sebagai bekal deteksi dini masalah gizi di masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa SMK Giri Handayani dalam pemeriksaan antropometri, tanda-tanda vital, dan pelaksanaan sistem 5 meja Posyandu. Metode yang digunakan meliputi ceramah, demonstrasi, dan praktik langsung, dengan evaluasi menggunakan pre-test dan post-test pada 67 peserta. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan dari 67,16 (SD 9,82) menjadi 85,82 (SD 8,73), dengan hasil uji paired sample t-test yang bermakna secara statistik (t=18,75; p<0,001). Proporsi peserta berkategori pengetahuan baik meningkat dari 20,9% menjadi 89,6%, dan tidak ditemukan lagi peserta berkategori kurang. Peserta juga mampu mempraktikkan pengukuran antropometri, tanda vital, dan alur pelayanan 5 meja Posyandu dengan baik. Disimpulkan bahwa edukasi disertai demonstrasi dan praktik langsung efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dasar kesehatan masyarakat pada siswa SMK, sekaligus memperkuat bekal kompetensi mereka sebagai calon tenaga kesehatan maupun kader kesehatan remaja. Kata kunci: antropometri; lima meja Posyandu; pengetahuan; siswa; tanda-tanda vital Stunting remains a significant public health issue, with Indonesia's national prevalence reaching 19.8% in 2024. Mastery of anthropometric measurement, vital sign assessment, and the Posyandu five-table system constitutes an essential competency for vocational high school (SMK) health students in supporting early detection of nutritional problems in the community. This community service activity aimed to improve the knowledge and skills of SMK Giri Handayani students in anthropometric measurement, vital signs examination, and implementation of the Posyandu five-table system. The methods applied included lectures, demonstrations, and hands-on practice, evaluated through pre-test and post-test administered to 67 participants. Results showed an increase in mean knowledge scores from 67.16 (SD 9.82) to 85.82 (SD 8.73), with a statistically significant paired sample t-test result (t=18.75; p<0.001). The proportion of participants in the good knowledge category rose from 20.9% to 89.6%, and no participants remained in the poor category after the intervention. Participants were also able to competently practice anthropometric and vital sign measurements as well as the Posyandu five-table service flow. It is concluded that education combined with demonstration and direct practice effectively improved public health knowledge and basic skills among vocational high school students, while strengthening their competency as prospective health workers and adolescent health cadres. Keywords: anthropometry; five Posyandu service tables; knowledge; students; vital signs